Suara pukulan gendang besar berdebam ditingkahi suara serunai mengisi ruangan seluruh balai adat desa Lahung Kipung Kecamatan Piani Kabupaten Tapin. Balai adat yang besar berbentuk bujur sangkar dengan luasan sekitar 625 meter persegi. Susunan ruangannya terdiri pelataran depan dengan panjang 25 meter mengikuti panjang bangunan balai adat sekitar 25 meter, lebar 2,5 meter tanpa pagar, terdapat pintu depan sebagai pintu depan.
Bagian tengah bangunan merupakan tempat utama ritual mau pun upacara adat, luasnya 7 x 7 meter yang lantainya agak turun ke bawah sekitar 15 cm dari lantai utama bangunan. Di sekeliling tempat utama ritual mau pun uparacara adat terdapat tempat duduk para warga yang mengikuti ritual mau pun upacara adat. Di sekeliling tempat duduk para warga terdapat bilik-bilik untuk tidur atau beristirahat ketika jeda ritual mau pun upacara adat, ada sebanyak 12 bilik.
Pada bahagian belakang terdapat ruang makan, panjang 25 meter, lebarnya 3,5 meter, lalu pada ujung ruang makan sebelah kiri dan kanan terdapat pelataran tempat memasak dan tempat cucian peralatan yang kotor.
Matahari pagi mulai naik seperempat langit, sekitar pukul 9. Hawa pegunungan sudah terasa hangat namun tetap sejuk dibelai hembusan angin yang membawa suara celoteh burung-burung kecil, gemerisik daun-daun yang saling bersentuhan serta suara gemericik air sungai yang mengalir diantara bebatuan.
Di sekeliling balai adat merupakan tanah kosong. Pada bahagian depan balai adat, tanah kosong yang luas merupakan halaman yang berseberangan dengan jalan yang merupakan jalan warga untuk masuk dan ke luar desa atau kampung. Di sebelah belakang balai adat, tanah kosong berbatasan dengan hutan bercampur dengan semak-semak. Di sebelah utara balai adat, tanah kosong berbatasan dengan sungai. Di sebelah selatan, tanah kosong juga berbatasan dengan hutan bercampur dengan semak-semak.
Pada tanah kosong di sebelah selatan pada balai adat ini banyak ibu-ibu (indung, dalam bahasa setempat), perempuan remaja, juga banyak bapak-bapak dan laki-laki remaja. Para ibu-ibu mengerubungi 3 buah kuali besar, para remaja memarut kelapa dengan parutan kelapa manual yang dalam sebutan lokal disebut “kukuran.’ Para bapak-bapak dan laki-laki remaja menarah atau mengukir kayu dengan bentuk-bentuk tertentu untuk meletakkan sesajen serta peralatan ritual lainnya.
Melihat suasana para bapak-bapak, ibu-ibu, para remaja laki-laki dan perempuan di samping balai adat itu, saya turun dari pelataran balai adat ikut bergabung dengan mereka.
“Wah, ramai, asik sekali, lalu ada bau wangi nih,” ujar ku menyapa orang-orang yang ramai. Mereka serentak memandangku yang bagi mereka aku adalah tamu upacara adat.
“Iya nih pak kami sedang “bahadepan” membuat sesajen dan peralatan upacara,” kata salah seorang bapak yang menyebut namanya pang Damus. Sebutan “pang’ adalah sebutan kata pengganti dari ayah, sedangkan Damus adalah nama anak atau salah satu anaknya. Berarti pang Damus adalah ayah atau orang tua laki-laki si Damus.
“Pak, tadi saya dengar kalian menyebut bahandepan, karena di tempat atau lingkungan saya ada juga istilah bahandepan itu,” tanya saya kepada pang Damus.
“Ooh itu, istilah bahandepan. Bapak kira baiknya untuk menjelaskannya kita minta kepada pang Agas, karena beliau ini orang yang lebih tua daripada saya dan juga salah satu balian di balai adat sini,” kata pang Damus sambil menoleh ke seorang lelaki berkumis dan berjenggot putih yang berdiri berseberangan dengan saya dan pang Damus.
“Saya mohon pang Agas, bersedia menjelaskan istilah bahandepan kepada bapak ini,” kata pang Damus lagi sambil memandang saya dan pang Agas.
Saya memandang pang Agas dengan tangan terbuka sebagai isyarat memohon dan mempersilahkan pang Agas untuk bersedia memberikan penjelasannya.
Pang Agas mengangguk-angguk sambil mengelus janggutnya.
“Baiklah, saya akan menjelaskan istilah bahandepan tersebut. Bahandepan itu istilah yang dipakai oleh orang-orang tua masa dahulu yang maksudnya sama dengan istilah gotong royong, kerja bersama-sama saling membantu atau kerja keroyokan. Pada umumnya dalam kehidupan kami banyak aktivitas yang dilakukan dengan banhandepan atau gotong royong, misalnya aktivitas manugal (awal memulai huma padi tugal), upacara-upacara adat dan ritual seperti kegiatan “batabang (mengambil kayu dalam hutan),” membuat peralatan ritual seperti “lalaya, langgatan, ancak, sangkar, maligai, riimbunan, dan lain-lain, membuat “ringgitan yakni anyaman dari janur kelapa sebagai hiasan pada alat-alat upacara, kemudian aktivitas membuat sesajen berupa kue-kue seperti yang dilakukan para wanita,” ujar pang Agas yang kadang-kadang tangannya menunjuk orang-orang yang bekerja.
“Oh, kalau begitu pengertian dan makna bahandepan di sini sama dengan pengertian dan makna di lingkungan saya di daerah kawasan “batang banyu dan pahuluan,” kataku. Di lingkungan saya, bahandepan ini erat kaitan dengan bubuhan. Bubuhan adalah kelompok orang-orang yang memiliki garis seketurunan,” ujarku melanjutkan.
“Begitu yah,” kata pang Agas. Aku mengangguk mengiyakan.
Aku berpikir dan berkata dalam hati, “dari persamaan bahasa ini, jelas fakta menerangkan atau fakta menjelaskan bahwa antara saudara-saudara di kawasan pegunungan Meratus pernah berinteraksi dengan saudara-saudara di banua terutama di kawasan batang banyu (persungaian) dan pahuluan (kawasan hulu persungaian), interaksi tentunya intens dalam periode masa yang panjang. Apabila memperhatikan ilah-ilah (para yang kuasa) disebut dalam pemujaan dalam mantera ketika ritual mau pun upacara adat, juga memiliki persamaan nama-nama roh-roh gaib yang sering dipuja dalam ritual asli pra Hindu-Buddha orang-orang batang banyu dan orang pahuluan. Dengan demikian dapatlah difahamkan bahwa interaksi berlangsung dalam jalinan tidak sekedar pergaulan biasa tetapi sangat signifikan, orang-orang pegunungan Meratus memiliki akar sejarah leluhur yang sama dengan orang-orang batang banyu dan orang-orang pahuluan.
Asap mengepul dari api tungku dan kuali besar yang di dalam kuali besar tersebut menggelegak adonan dodol yang berwarna coklat pekat. Aromanya sangat wangi menyebar tercium melalui hidung. Selain dodol ada juga kue cucur namanya yang dimasak oleh para wanita.
Matahari semakin naik menuju titik tengah cakrawala. Suara gendang dan serunai berpadu dengan suara gemerincing gelang hiyang, berpadu juga dengan bunyi hentakan tandik para balian terus memenuhi lingkungan balai adat. Pang Damus dan pang Agas mengajak aku menaiki dan memasuki ruang utama balai adat, karena pang Agas sebagai salah satu balian akan melaksanakan tugasnya sebagai pelaksana ritual bersama-sama balian lainnya.Matahari semakin naik menuju titik tengah cakrawala. Suara gendang dan serunai berpadu dengan suara gemerincing gelang hiyang, berpadu juga dengan bunyi hentakan tandik para balian terus memenuhi lingkungan balai adat. Pang Damus dan pang Agas mengajak aku menaiki dan memasuki ruang utama balai adat, karena pang Agas sebagai salah satu balian akan melaksanakan tugasnya sebagai pelaksana ritual bersama-sama balian lainnya.
0 Komentar