Kabut pagi telah tersibak diterpa oleh pancaran sinar matahari yang muncul dari cadarnya berupa awan putih. Dedaunan dan tanah yang basah oleh tetesan embun malam mulai mengering, walau pun dinginnya masih berasa menyergap tubuh.
"Wuihh, badan saya menggigil pak,” kataku kepada bapak Umberi.
“Memang disini kalau menjelang malam hingga pagi suhunya dingin, apalagi sekarang musim kemarau, bertambahnya dinginnya. Tetapi kami orang disini sudah terbiasa,” sahut bapak Umberi sambil tertawa.
Bapak Umberi adalah pria berumur yang usianya lebih 90 tahun. Walau pun usianya mendekati 1 abad, fisiknya masih gagah dan kuat. Badannya tinggi dengan kulit coklat, rambutnya kehilangan warna hitamnya. Ramah, suka bercanda. Beliau merupakan balian senior yang multi-talent. Trampil menari (batandik), memukul gendang, meniup serunai dan kuriding. Selain itu beliau merupakan balian yang dihormati dan disegani oleh masyarakatnya.
Balian adalah sebutan untuk orang yang memiliki kemampuan dan ketrampilan melaksanakan ritual mau pun upacara adat berdasarkan kepercayaan asli masyarakat di pegunungan Meratus, yakni kepercayaan “babalian.”
“Saya kagum dengan bapak, yakni fisik yang masih sehat dan gagah, menguasai berbagai ketrampilan yang berhubungan dengan ritual serta upacara-upacara adat,” aku memuji sambil mengacungkan jempol jari tangan kananku.
Bapak Umberi menatapku dengan wajah ramahnya. Tangannya mengambil serunai yang terletak di sampingnya. Serunai adalah alat musik tiup yang terbuat dari kayu. Alat musik pengiring tandik (tari) balian dan tarian adat.
Terdengar bunyi yang melengking, tinggi, meliuk, meninggi, menukik merendah, menyelusup ruang-ruang balai adat, menggelombang diantara batang-batang, ranting-ranting, daun-daun bambu, Mengalir diantara riak-riak air sungai, bergayut diantara semilir angin celah-celah perbukitan Meratus.
Bunyi sarat jiwa, sarat mistis dari serunai yang yang ditiup dengan penghayatan ditopang kekuatan nafas seorang pengabdi kepercayaan dan adat-istiadat leluhur.
"Aku sejak muda berusia sekitar 13 tahun sudah menjadi balian dan menguasai alat musik gendang, serunai dan kuriding. Aku akan terus bertahan sebagai pelaksana ritual serta pengawal adat-istiadat leluhur sampai ajal menjemputku”, kata bapak Umberi dengan mantap ketika menyelesaikan tiupan serunainya.
Aku menatap nanap wajah sang peniup serunai, pak Umberi. Aku melihat wajah dengan guratan pengalaman hidup, tangan yang menyiratkan kekuatan dalam keikhlasan, pengabdian tanpa pamrih.
“Aku berdecak kagum sambil mengangkat tanganku ke dahi tanda hormat. Menatapnya, sungguh pribadi yang luar biasa, kekuatan jiwa pengabdian atas pilihan hidupnya.
0 Komentar