<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336</id><updated>2011-09-07T04:49:25.657-07:00</updated><category term='Fiksi'/><category term='Pendapat'/><category term='Wisata'/><category term='Kebudayaan'/><title type='text'>GEMPITA MINIAMUS NIANSA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-5092207796143099380</id><published>2010-11-05T07:38:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T07:39:36.566-07:00</updated><title type='text'>Tugas MK Metodologi Sejarah, Risa Yunida, dkk</title><content type='html'>M.K : Metodologi Sejarah&lt;br /&gt;Dosen: Drs. Hairiyadi, M.Hum&lt;br /&gt;TUGAS KELOMPOK:&lt;br /&gt;1. Endah Damayanti A1A107227&lt;br /&gt;2. Fathurrida A1A107234&lt;br /&gt;3. Fitriani A1A107218&lt;br /&gt;4. Risa Yunida A1A107242&lt;br /&gt;5. Sri Kartika H A1A107229&lt;br /&gt;Judul Buku : Islam Dan Masyarakat Banjar ( Deskripsi dan Analisis&lt;br /&gt;Kebudayaan Banjar)&lt;br /&gt;Penulis : Alfani Daud&lt;br /&gt;A. PENDEKATAN&lt;br /&gt;Buku ini menggunakan pendekatan sosial budaya karena buku tersebut mambahas&lt;br /&gt;tentang tradisi masyarakat banjar dan agama yang dianut oleh masyarakat banjar yaitu&lt;br /&gt;islam. Inti dalam pokok bahasan dalam buku ini adalah deskripsi dan analisa kebudayaan&lt;br /&gt;banjar.&lt;br /&gt;B. SISTEMATIKA PENELITIAN&lt;br /&gt;1. BAB I : ASAL USUL SUKU BANJAR&lt;br /&gt;Membahas tentang Asal usul suku banjar dan Agama yang dianut masyarakat Banjar.&lt;br /&gt;Nenek moyang suku Banjar berasal dari perpindahan suku bangsa Melayu. Pusat&lt;br /&gt;permukman mereka terletak dilembah-lembah sungai disekitar kaki pegunungan&lt;br /&gt;Meratus. Dalam proses selanjutnya nenek moyang orang Banjar menyebar kedaerahdaerah&lt;br /&gt;yang berdekatan, baik arah kehulu sungai maupun menjauhi tepi sungai.&lt;br /&gt;Proses pencampuran unsur-unsur suku Banjar yaitu antara kelompok-kelompok&lt;br /&gt;Dayak. Sector pemukiman dengan para imigran yang datang kemudian. Suku Dayak&lt;br /&gt;dibedakan dalam kelomok-kelompok seperti bukit, msnyan, ngaju (biaju), dan&lt;br /&gt;lawangan yang disebut dengan imigran yang datang kemudian itu adalah suku jawa,&lt;br /&gt;bugis, arab, china, dan India.&lt;br /&gt;Agama yang dianut mula-mula adalah pemujaan terhadap nenek moyang&lt;br /&gt;(animisme), setelah terbentuknya kerajaan Dipaagama yang dianut adalah hindubudha.&lt;br /&gt;Namun setelah terentuknya kerajaan Banjar agama yang dianut adalah islam&lt;br /&gt;dengan rajanya sekaligus raja yang pertama masuk islam adalah Sultan Suriansyah&lt;br /&gt;( Pangeran Samudra). Masuknya islam sebagai persyaratan yang dijukan oleh&lt;br /&gt;kerajaan Demak karena kerajaan Demak membantu Pengeran Samudra melawan&lt;br /&gt;kerajaan Daha.&lt;br /&gt;2. BAB II : Organisasi Masyarakat&lt;br /&gt;Dalam bab ini membahas tentang faham rumah tangga. Dalam rangka faham&lt;br /&gt;rumah tangga ini dibicarakan juga tentang pembentukan harta perkawinan sebagai&lt;br /&gt;asal ekonomi rumah tangga. Berkenaan dengan tokoh-tokoh kampong, akan&lt;br /&gt;dibicarakan peranannya dan bentuk-bentuk penghormatan yang diberikan kepada&lt;br /&gt;mereka, dan akan disinggung pula peranan kaum elit desa, khususnya dalam&lt;br /&gt;menangani sengketa dalam masyarakat.&lt;br /&gt;3. BAB III : Lingkungan Alam dan Mata Pencaharian&lt;br /&gt;Keadaan alam pemukiman suku bangsa Banjar dan berbagai mata pencaharian&lt;br /&gt;sehubungan dengan lingkungan alam dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat&lt;br /&gt;dibahas dalam bab ini.&lt;br /&gt;4. BAB IV : Ajaran Ritual Islam dalam Kehidupan Sehari-hari&lt;br /&gt;Membahas tentang bagaimana ajaran islam diteruskan kepada generasi&lt;br /&gt;berikutya dan bagaimana ritual yang bersfat ibadah difahami dan dilaksanakan pada&lt;br /&gt;masyarakat Banjar.&lt;br /&gt;5. BAB V : Ajaran Islam dalam Berbagai bidang Kehidupan&lt;br /&gt;Ajaran islam telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga dan telah menjadi&lt;br /&gt;kebiasaan masyarakat Banjar. Suatu kegiatan diusahakan terjadi menurut kaidah&lt;br /&gt;ajaran islam. Berbaga kegiatan ritual dioper dari ajaran islam. Dan berbagai kegiatan&lt;br /&gt;ritual yang isinya telah diambil dari ajaran islam. Hal itu terjadi sebagai suatu&lt;br /&gt;kompromi yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Dalam bab ini akan dibahas tentang&lt;br /&gt;perkawinan dan kehidupan keluarga, perceraian, sistem pewarisan, dan adopsi ajaran&lt;br /&gt;islam dalam kegiatan ritual.&lt;br /&gt;6. BAB VI : Kegiatan Ritual Peralihan Tahap (1)&lt;br /&gt;Bab ini membicarakan tentang berbagai upacara peralihan tahap yang&lt;br /&gt;bersangkutan dengan kelahirandan masa kanakkanak, dan juga uacara mandi yang&lt;br /&gt;khususnya berkaitan dengan peralihan tahap hidup wanita yaitu kawin dan hamil.&lt;br /&gt;7. BAB VII : Kegiatan Ritual Peralihan Tahap (II)&lt;br /&gt;Bab ini membicarakan temntang kegiatan ritual eralihan yaitu kawin, hamil&lt;br /&gt;( dan melahirkan ), dan mati.&lt;br /&gt;Dalam bab ini perkawinan hanya dipandang sebagai peristiwa yang&lt;br /&gt;menyangkut individu, ebagai bentuk peralihan tahap kehidupannya. Tentang peristiwa&lt;br /&gt;kehamilan diicarakan semata-mata sebagai tahaan hidup wanita dan tidak berkenan&lt;br /&gt;dengan bayi yang dilahirkannya.&lt;br /&gt;8. BAB VIII : Kegiatan Ritual Berulang Tetap&lt;br /&gt;Kegiatan ritual yang berulang tetap menurut jalannya kalen der yaitu kalender&lt;br /&gt;kamariah, seperti kegiatan yang bertujuan merayakan hari besar islam, contoh:&lt;br /&gt;a. kelahiran nabi&lt;br /&gt;b. perayaan mi’raj&lt;br /&gt;c. hari raya puasa&lt;br /&gt;d. hari raya haji&lt;br /&gt;e. peringatan turunya Al-Quran&lt;br /&gt;Selain itu ada pula kegiatan menurut kalender lainnya seperti:&lt;br /&gt;a. asyura&lt;br /&gt;b. arba mustamir&lt;br /&gt;c. pertengahan sya’ban&lt;br /&gt;d. malam lailatul Qodr&lt;br /&gt;9. BAB IX : Berbagai Ilmu Gaib&lt;br /&gt;Bab ini membahas tentang ilmu gaib yang berkenaan dengan ilmu gaib&lt;br /&gt;meramal dan ilmu gaib pengobatan.&lt;br /&gt;10. BAB X : Kegiatan Ritual Lainnya&lt;br /&gt;Didalam masyarakat Banjar juga melakukan berbagai kegiatan ritual sewaktuwaktu,&lt;br /&gt;misalnya dilapangan diketahui bahwa mereka melakukannya sebagai kegiatan&lt;br /&gt;mencari nafkah, ketika memulai membangun dan mendiami rumah baru, ketika&lt;br /&gt;bepergian jauh, kkhususnya ketika akan berangkat menunaikan ibadah haji dan ketika&lt;br /&gt;kembali, dan ketika melakukan perjalanan ke hutan.&lt;br /&gt;11. BAB XI : Interpretasi Non Diskusi&lt;br /&gt;Bab ini membahas bahwa religi suatu komunitas tergambar dalam apa yang&lt;br /&gt;dpercayai oleh para warganya, dan bahwa religi tersebut selalu unik, dalam arti&lt;br /&gt;membentuk suatu system tersendiri.&lt;br /&gt;C. METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan penulisan deskriftif yaitu&lt;br /&gt;penulis mencoba menggambarkan tentang Islam dan Masyarakat Banjar. Sumber yang&lt;br /&gt;digunakan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. sumber primer adalah sumber utama yang langsung berkaitan dengan penelitian&lt;br /&gt;seperti: surat-surat perjanjian, dan arsip-arsip Belanda lainnya.&lt;br /&gt;b. Sumber sekunder : buku-buku kepustakaan yang relevan dengan penelitian.&lt;br /&gt;D. TANGGAPAN KELOMPOK&lt;br /&gt;Tanggapan kami, buku ini sangat bermanfaat untuk memberikan ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;kepada kami semua, bukan hanya untuk masyarakat suku banjar saja, tapi juga untuk&lt;br /&gt;masyarakat suku lain selain banjar.&lt;br /&gt;Sebagai masyarakat banjar kita harus mengetahui sejarah asal usul nenek moyang&lt;br /&gt;suku banjar beserta kebudayaannya, dengan adanya buku ini kami yang sebelumnya&lt;br /&gt;kurang mengetahui , sekarang bisa mengetahui lebih banyak tentang suku banjar dan&lt;br /&gt;kebudayaannya.&lt;br /&gt;Semoga dengan adanya pembahasan buku ini, tidak hanya bermanfaat untuk kami&lt;br /&gt;sekelompok, tetapi juga untuk teman-teman semua khususnya mahasiswa mata kuliah&lt;br /&gt;Metodologi Sejarah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-5092207796143099380?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/5092207796143099380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=5092207796143099380&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5092207796143099380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5092207796143099380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2010/11/tugas-mk-metodologi-sejarah-risa-yunida.html' title='Tugas MK Metodologi Sejarah, Risa Yunida, dkk'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-7664617049364030192</id><published>2010-11-05T07:36:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T07:37:33.980-07:00</updated><title type='text'>Tugas MK Metodologi Sejarah, Fahrudinoor, dkk</title><content type='html'>Mata Kuliah : Metodelogi Penelitian Sejarah&lt;br /&gt;1. Nama Kelompok Nim&lt;br /&gt;Herpandi A1A107211 Fahrudinoor A1A107212 Sutri Ira Marisa A1A107210 Sartika A1A107216 Muhammad alamsyah A1A107243&lt;br /&gt;2. Judul Buku.&lt;br /&gt;“Pemberontakan Organisasi Papua Merdeka (OPM)”&lt;br /&gt;Oleh John RG Djopari (sejarah politik) Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta 1993 Cetakan pertama : September 1993 Cetakan kedua : November 1995 Tebal halaman : 180 halaman&lt;br /&gt;3. Pendekatannya.&lt;br /&gt;Pendekatan yang di lakukan peneliti mengenai judul di atas yakni pendekatan kualitatif. Yakni dengan pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasilkan suatu uraian mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, dan atau suatu organisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik yang tentunya berkenaan dengan sejarah kepolitikan di tanah papua sejak di bentuknya OPMd hingga sekarang (di saat peneliti sedang melakukan penulisan penelitiaannya yakni tahap akhir dalam penelitian sejarajh politik(historiografi))&lt;br /&gt;4. Model Pemecahan Masalah.&lt;br /&gt;Model pemecahan masalah di sini berangkat dari beberapa pertanyaan yakni :&lt;br /&gt;a. Apakah benar bahwa pemberontakan OPM itu terjadi karena integrasi politik di Irian Jaya kurang mantap ?&lt;br /&gt;b. Apakah benar bahwa pemberontakan OPM itu merupakan bom waktu yang di buat oleh Belanda atau pemberontakan OPM itu terjadi karena tumbuh kesadaran nasionalisme Papua&lt;br /&gt;c. Apakah benar dan mengapa masih saja ada orang-orang Irian Jaya yang beridieologi serta mendukung pemberontakan OPM ?&lt;br /&gt;d. Bagaimana sebaiknya pendekatan pembangunan politik di Irian Jaya itu di lakukan, agar dapat mewujudkan integrasi politik yang mantap ?&lt;br /&gt;Dari pokok di atas penulis menguraikan mengenai dasar pemikiran terjadinya pemberontakan yang berlandaskan politik yakni teori-teori tentang :&lt;br /&gt;a. Pemberontakan.&lt;br /&gt;b. Integrasi Politik.&lt;br /&gt;c. Pembangunan Politik.&lt;br /&gt;5. Sistematika Penulisan.&lt;br /&gt;Buku ini tersusun dalam tujuh bab, masing-masing bab merupakan satu pokok bahasan yang terjalin satu sama lainyang kesemuanya merupakan tema sentral mengenai pemberontakan OPM. Bab pertama, merupakan bab pendahuluan (Integrasi Irian Jaya sebagai agenda Politik) bahasan merupakan pengantar untuk membantu dan lebih mendalami aspek-aspek yang mencakup dalam buku ini. Baba kedua, merupakan pokok bahasan mengenai Irian Jaya di masa pemerintahan Belanda. Baba ketiga, merupakan pokok bahasan mengenai Irian Jaya mengenai peralihan kekuasaan dari Pemerintah Belanda ke Pemerintah Indonesia.&lt;br /&gt;Bab keempat, merupakan pokok bahasan tentang Organisasi Papua Merdeka dan pemberontakannya. Baba kelima, merupakan pokok bahasan tentang Organisasi Papua Merdeka dalam Dunia Internasional.&lt;br /&gt;Bab keenam, merupakan pokok bahasan mengenai usaha memadamkan Pemberontakan. Bab ketujuh, merupakan bab penutup dari buku ini.&lt;br /&gt;6. Metode Penelitian.&lt;br /&gt;a. Lokasi dan Kesatuan Penelitian&lt;br /&gt;Di sini Penulis melakukan observasi langsung ke lapangan untuk keperluan data yang ingin di peroleh, lokainya adalah Propinsi Irian Jaya, yaitu kota Jayapura, Manokwari dan Biak, serta Jakarta, Negeri Belanda, Australia, dan Papua New Guinea.&lt;br /&gt;b. Operasionalisasi Variabel.&lt;br /&gt;Di sini Penulis melihat dari sisi pengaruh pemberontakan OPM terhadap pembentukan Integrasi politik, dan pembangunan politik.&lt;br /&gt;c. Teknik Pengumpulan Data.&lt;br /&gt;Pengumpulan data di lakukan oleh Penulis dengan tehnik kombinasi dari sejumlah tehnik yang ada antara lain sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Studi kepustakaan&lt;br /&gt;2) Studi dokumenter&lt;br /&gt;3) Wawancara mendalam&lt;br /&gt;d. Tehnik Analisa Data&lt;br /&gt;Tehnik analisa data di lakukan Penulis secara kualitatif dengan memperhatikan Metode “ verstehen” artinya suatu cara untuk menganalisa dan memahami data secara mendalam.&lt;br /&gt;7. Tanggapan kami.&lt;br /&gt;Penulis melakukan study lapangan dan perpustakaan sehingga ke arutan yang hasil yang diteliti dapat dipertanggung jawabkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-7664617049364030192?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/7664617049364030192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=7664617049364030192&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/7664617049364030192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/7664617049364030192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2010/11/tugas-mk-metodologi-sejarah-fahrudinoor.html' title='Tugas MK Metodologi Sejarah, Fahrudinoor, dkk'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-7629353270233658932</id><published>2010-11-05T07:30:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T07:31:53.604-07:00</updated><title type='text'>Tugas MK Sejarah Sosial, Dewi Novriana, dkk</title><content type='html'>&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0cm;  mso-para-margin-right:0cm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-ansi-language:EN-US;  mso-fareast-language:EN-US;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;SEJARAH SOSIAL&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;ELITE AGAMA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;K.H. ABD. HAMID&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 144pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;OLEH KELOMPOK 4&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dewi Novriana (A1A109202)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Eka Selviana dewi (A1A109206)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dwi Mutia Puspita (A1A109212)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Desy Ermayani (A1A109222)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Radiansyah (A1A109213)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sadam Hazimi (A1A109217)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Jamil Nazar (A1AA109220)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Norifansyah (A1A109226)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ahmad Sarif (A1A109230)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Norhaliz (A1A109244)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Wahyu Indra Wardana (A1A109233)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Departemen Pendidikan Nasional&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Universitas Lambung Mangkurat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Banjarmasin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;2010&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Elite agama dan umatnya tidak selamanya identik, pernyataan elite agama tidak serta merta harus diartikan sebagai represtansi umat yang diwakilinya. Dengan demikian pernyataan yang menyebutkan apa kata pemimpinnya itu kata umatnya tidak sepenuh nya benar, hal ini terbukti dari hasil wawancara kami dengan istri dari salah seorang pemuka agama yang bertempat tinggal di jalan A Yani km 12,200 RT 02 RW 01 kecamatan Gambut Barat yang bernama Alm K.H.ABD.Hamid, beliau ada lah sosok religious dimata istri dan anak-anak,, beliau merupakan salah satu pimpinan sebuah travel cabang yaitu Travel Hikmah tour PT Hikmah Sakti Perdana yang merupakan travel perjalanan haji dam umroh. Dan beliau sering mendampingi para jemaah dan beliau sering juga mengajak istri dan 3 orang anak unrtuk pergi ke tanah suci.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Alm K.H.ABD.Hamid merupakan sosok yang jadi panutan di mata masyarakat sekitar,m seseorang yang berwibawa dan bijaksana, kadang juga disebut kyai gaul, kata masyarakat sekitar beliau sering dimintai pendapat kalau salah satu warga ada masalah dan beliau secara bijaksana menengahi masalah tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Menurut istri beliau, Alm K.H.ABD.Hamid ini sudah dari kecil mendapat didikan yang religious dari keluarga memang sudah dari kecil merupakan seseorang yang religious dan menurun pula ke anak-anak beliau. Sosok Alm K.H.ABD.Hamid ini juga merupakan seorang penghulu dan sering juga dimintai orang menjadi penelakin kubur,kadang juga mengkain kafan kan dan memandikan jenajah, dan hal itu dilakukan secara sukarela, maka dari itu beliau sangat disukai oleh masyarakat sekitar, karena beliau tidak ada sedikitpun meminta bayaran, dan warga sekitar pun sangat menghormati sosok Alm K.H.ABD.Hamid. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Namun sangat disayangkan beliau tidak berumur panjang, beliau meninggal dalam usia 44 tahun, kematian beliau ini masih dirahasiakan dari anak ketiganya ini, karena disamping masih kecil, sang istri tidak mau menyakiti perasaan sang anak, menurut keterangan sang isrti anak mereka yang paling kecil ini sangat menyayangi sang ayah dan kadang sering menanyakaan keberadaan sang ayah dan sang istri bilang kalau bapaknya sekarang tinggal di Madinah, mungkin suatu saat pasti sang istri akan memberitahukan kepada sang anak, keluarga dan masyarakat sekitar sangat merasa kehilangan sosok yang menjadi panutan dan merupakan sosok yang di tuakan di lingkungan sekitar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dari hasil wawancara kami, kami mendapatkan data diri beliau, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Nama:&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;K.H.ABD.Hamid&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Tempat lahir:&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Gambut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Tanggal lahir:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;15 Januari 1966&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Meninggal:&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;Jumat, 26 Juli 2010, 5 Sya’ban 1431 hijriah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dimakamkan di:&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Di Madinah AL.Munawarah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Kegiatan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Keluarga&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 108pt; text-indent: -108pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                      &lt;/span&gt;I.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Istri bernama HJ Rahimah Hidayat, S.Pd&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 108pt; text-indent: -108pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                    &lt;/span&gt;II.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Anak ada tiga orang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                      &lt;/span&gt;i.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Atikah Nor Rahmawati&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Lahir tanggal 8 Mei 1992&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                     &lt;/span&gt;ii.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Anisa Norlaila Hayati&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Lahir 9 Febuari 1995&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                    &lt;/span&gt;iii.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Syauqah Adelina&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Lahir 26 juni 2002&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Lingkungan Rt&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                      &lt;/span&gt;I.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ketua umum Mesjid Mujahidin Gambut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                    &lt;/span&gt;II.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ketua Majelis Mu Zakarah Gambut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                   &lt;/span&gt;III.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ketua RT di A Yani km 12,200 RT 02 RW 01 kecamatan Gambut Barat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                  &lt;/span&gt;IV.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Mengadakan kegiatan pengajian di rumah setiap malam minggu untuk laki-laki dan malam rabu untuk perempuan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                    &lt;/span&gt;V.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pengajian di mesjid Gambut setiap malam kamis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                      &lt;/span&gt;I.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Mts Darussalam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                    &lt;/span&gt;II.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Tsanawiyah Al-FALAH&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                   &lt;/span&gt;III.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Aliyah Al-FALAH&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                  &lt;/span&gt;IV.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Universitas Islam As Safi’ah Jakarta tamat tahun 1987&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 144pt; text-indent: -144pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;                                                    &lt;/span&gt;V.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pimpinan pesantren AL-FALAH periode 2000-2003&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-7629353270233658932?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/7629353270233658932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=7629353270233658932&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/7629353270233658932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/7629353270233658932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2010/11/tugas-mk-sejarah-sosial-dewi-novriana.html' title='Tugas MK Sejarah Sosial, Dewi Novriana, dkk'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-801006564572097354</id><published>2010-11-05T07:25:00.001-07:00</published><updated>2010-11-05T07:29:17.214-07:00</updated><title type='text'>Tugas MK Metodologi Sejarah, Hikmatullah, dkk</title><content type='html'>&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0cm;  mso-para-margin-right:0cm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-ansi-language:GL;  mso-fareast-language:EN-US;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="2050"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;RESENSI BUKU&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;POLITIK ISLAM HINDIA BELANDA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Metodologi Sejarah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;SEJ &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;47&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dosen Pembimbing:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Drs. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Hairiyadi, M.Hum&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;                                                  &lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kelompok I:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Erwien Akbar Saputra&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;A1A107001&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Hikmatullah&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;A1A107036&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Mahfuzah Hidayati&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;A1A107045&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dwi Bekti Santoso&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A1A107&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;045&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;JURUSAN ILMU PENDIDIKAN SOSIAL&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;BANJARMASIN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;     &lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;2009&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;             &lt;table width="100%" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;    &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;    &lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Daftar Isi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kata Pengantar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Bab. I. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Latar Belakang Masalah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Batasan dan Rumusan Masalah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pendekatan Masalah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Bab. II Politik Islam Pemerintah Hindia Belanda&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Netral Terhadap Agama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Islam dan Kristen&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Netral teori dan praktek&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Asosiasi Kebudayaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Asosiasi dan Pemanfaatan adat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Asosiasi Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tarekat dan Pan Islam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Gerakan Tarekat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Gerakan Pan Islam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Bab. III. Het Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Organisasi Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Status &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Organisasi Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Hubungannya dengan Instansi Lain&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Aktivitas Organisasi Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Adviseur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;voor Inlandsche zaken&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Dr. C. Snouck Hurgronje ,Dr. C.A.J. Hazeu,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Dr. D.A. Rinkes, R.A. Kern, E. gobee,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Dr. G.F. Pijper, Dr. B.J.O. Schrieke ,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Dr. Hoesein Djajadiningrat, Ch.O.van der Plas,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Sayid Oethman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Peranan kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pengelolaan kas masjid, pembangunan masjid baru&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pemburuan Guru Agama, Persaingan Islam Kristen di Tanah Batak,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Peristiwa Sekayu dan Kubang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Bab. IV. Penutup&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Politik Islam Pemerintah Hindia Belanda&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kantoor voor Inlandsche Zaken&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;RUJUKAN:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Suminto, H. Aqib, 1985, &lt;i style=""&gt;Politik Islam Hindia Belanda cet. 1&lt;/i&gt;, Jakarta: 1985&lt;b style=""&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;Bab I&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Latar Belakang Masalah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pembahasan terhadap masalah kebijaksanaan politik pemerintah Hindia Belanda tentang Islam, tidaklah mungkin melepaskan sama sekali situasi kondisi pada masa itu. Kecakapan pemerintah kolonial Belanda dalam mengemudikan jajahannya memang cukup mengagumkan rekan-rekannya: Inggris dan Perancis. Usaha Belanda untuk mengkonsolidasikan kekuatannya mendapat perlawanan dari raja-raja Islam, dari tingkat desa, dari para guru, serta ulama Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda dalam menangani masalah Islam, sering disebut dengan istilah &lt;i style=""&gt;Islam Politiek, &lt;/i&gt;di mana Prof. Snouck Horgronje dipandang sebagai peletak dasarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bagaimana menjinakkan pribumi dan menghadapi Islam, itulah masalahnya. Untuk itu diangkatlah penghulu sebagai pegawai negeri, yang antara lain bertugas membantu bupati dalam mengawasi umat Islam. Sedangkan Gubernur Jenderal secara rahasia diinstruksikan oleh raja Belanda untuk mengambil tindakan yang diperlukandalam rangka memelihara tugas pengawasan yang dilakukan oleh bupati terhadap ulama pribumi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berdasarkan analisa Snouck Hurgronje, maka dipisahlah masalah agama dengan politik. Terhadap masalah agama pemerintah belanda disarankan bersikap netral, sedang terhadap masalah politik diperingatkanny; harus dijaga benar dengan datangnya pengaruh dari luar semacam Pan Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mengenai pendidikan bangsa Indonesia, Belanda merasa berkewajiban moral untuk mengajar para bangsawan, dan menjadikannya partner dalam kehidupan budaya dan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam rangka menghadapi masalah Islam di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda bekerjasama dengan para kepala adat, dan menggunakan lembaga adat untuk membendung pengaruh Islam di kepulauan Nusantara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Batasan dan Rumusan Masalah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Politik Islam Pemerintah Hindia Belanda yang dimaksudkan di sini adalah kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda dalam mengelola masalah-masalah Islam di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Sedangkan yang dimaksud dengan &lt;i style=""&gt;Het Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;adalah suatu kantor yang dikepalai oleh Penasehat Gubernur Jenderal urusan Pribumi. Di kalangan pribumi sendiri kantor ini dikenal sebagai Kantor Agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mengutamakan pembahasan masalah Indonesia daripada masalah spesifikasi suatu daerah, sebab bertujuan masalah politik Islam pemerintah Hindia belanda yang digariskan oleh Snouck Hurgronje, dan menelitu sejauh mana Kantoor voor Inlandsche zaken bisa berperan dalam hal ini. Dengan menggunakan pendekatan dan analisa perbandingan terhadap aneka data yang ada, dimana data kepustakaan merupakan tupuan utama pembahasan. Sedangkan data lapangan yang digali melalui wawancara atau korespondensi dimanfaatkan sebagai pelengkap bagi data kepustakaan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pendekatan Masalah &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akan halnya pendekatan masalah, maka penggalian data kepustakaan maupun lapangan tersebut dilakukan melalui empat jalur. Pertama, orang-orang yang terlibat langsung dengan kantor tersebut, terutama orang Belanda. Sebagian besar data kepustakaan, sedangkan data lapangan hanya bisa diperoleh dari prof. Dr. G.F. Pijper, yang pernah menjabat sebagai Adviseur voor Inlandsche zaken. Kedua, orang-orang Belanda di luar kantor tersebut. Data lapangan diperoleh melalui wawancara atau korespondensi dengan Prof. Dr. G.W.J.Drewes (pernah menjabat Kepala Balai Pustaka), Drs. D. van&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;der Meulen (bekas Konsul Belanda di Jeddah), Drs. L.J.M. van Geest (lulusan Indologie Leiden dan bekas Kontrolir di Batak serat Nias), Drs. A. Schuijff (lulusan Indologie Utrecht dan bekas Kontrolir di Jambi dan Palembang, serta asisten residen di Sumatera Utara), dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ketiga, para sarjana bukan Belanda yang mempunyai perhatian terhadap kebijaksanaan Islam di Hindia Belanda. Data yang diperoleh umumnya berbentuk data kepustakaan, baik ditulis oleh sarjana Amerika, Inggeris, Perncis , Australia maupun Jepang. Data lapangan hanya didapat dari Prof. Dr. H. Sutherland, guru besar sejarah Universitas Amsterdam. Keempat, orang-orang Indonesia. Data kepustakaan didapat dari karya H. Agus Salim, Moh. Natsir, Margono Djojohadikusuma, Prof. Dr. Deliar Noer, Prof. Dr. Sartono Kartodirjo, Dr. Alfian dan Dr. Taufik Abdullah. Data lapangan diperoleh dari para ulama, antara lain K.H Sjukri Ghozali (lulusan sekolah penghulu mamba’ul ulum Solo), dan K.H. Djazuli Wangsasaputra ( lulusan Opleidings-school voor Penghulu, Tasikmalaya):&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penggunaan sumber pertama lebih diutamakan sedangkan sumber ketiga dan keempat digunakan sebagai penguat analisa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Buku ini dibagi menjadi empat bab. Pembicaraan tentang politik Islam pemerintah Hindia Belanda pada BAb. II menggunakan kerangka sebagaimanapola politik Islam Snouck Hurgronje, yakni dengan melihatnya dari aspek agama, sosial budaya dan politik. Pembahasan tentang Kantoor voor Inlandsche zaken dalam bab&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;III yang meliputi status dan tokoh-tokoh kantor tersebut serta peranan yang dimainkan dilakukan dengan menampilkan lima studi kasus, yaitu: penelolaan kas mesjid, pembanguna mesjid baru, pemburuan guru agama, persaingan Islam Kristen di tanah Batak, serta peristiwa Sekayu dan Kubang. Adapun bab terakhir, lebih bersifat evaluasi terhadap politik islam dan &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;Politik Islam Pemerintah Hindia Belanda&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dua dasawarsa terakhir abad ke-19 dan dua dasawarsa pertama abad ke-20 dikenal sebagai puncak abad imperialisme, yang merupakan masa keemasan bagi bangsa-bangsa yang bernafsu membentuk kekaisaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Di Indonesia, Belanda menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar penduduk yang dijajahnya dikepulauan Nusantara ini adalah beragama Islam. Timbulnya aneka perlawanan seperti perang Paderi (1821-1827), perang diponegoro ( 1825-1830 ), perang Aceh (1873-1903) dan lain-lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pada awalnya pemerintah Hindia Belanda belum berani mencampuri masalah Islam, dan belum mempunyai kebijakan mengenai hal itu. Akan tetapi, tertnyata para kolonial tadak bisa menahan diri untuk tidak campur tangan: justru para haji sering dicurigai, dianggap fanatik dan tukang memberontak. Sehingga pada tahun 1859, Gubernur Jenderal dibenarkan mencampuri urusan agama. Kebijakan ini pun masih harus tunduk kepada kepentingan &lt;i style=""&gt;rust en orde&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Setelah kedatangan Snouck Hurgronje pada tahun 1889, barulah pemerintah Hindia Belanda mempunyai kebijakan yang jelas mengenai masalah Islam. Sebagai kolonialis pemerintah Belanda memerlukan &lt;i style=""&gt;inlandsch politiek&lt;/i&gt;, yakni kebijakan mengenai pribumi. Agaknya dengan menampilkan politik Islamnya, Snouck Hurgronje berhasil menemukan seni memahami dan menguasai penduduk yang sebagian besar muslim itu. Dialah “ arsitek keberhasilan politik Islam yang paling legendaris,” yang telah melengkapi pengetahuan Belanda tentang Islam, terutama bidang sosial dan politik, di samping berhasil meneliti mentalitas ketimuran dan Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Sekalipun Snouck Hurgronje menegaskan bahwa pada hakikatnya orang islam di Indonesia itu penuh damai, namun diapun tidak buta terhadap kemampuan politik fanatisme Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Menghadapi medan seperti ini, Snouck Hurgronjemembedakan Islam dalam arti “ibadah” dengan Islam sebagai “kekuatan sosial politik “. Dalam hal ini dia membagi masalah Islam dalam tiga kategori, yakni: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Bidang agama Islam murni&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Bidang sosial kemasyarakatan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Bidang politik,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dimana masing-masing bidang tersebut menuntut alternatif pemecahan yang berbeda. Resep inilah yang kemudian dikenal sebagai Islam Politiek, atau kebijaksanaan pemerintah kolonial dalam menangani masalah Islam di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dalam bidang bidang agama murni atau ibadah, pemerintah kolonial memberikan kemerdekaan pada umat Islam, dalam bidang kenasyarakatan pemerintah memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku dengan cara menggalakkan rakyat agar mendekati Belanda. Tetapi, dalam bidang ketatanegaraan, pemerintah harus mencegah setiap usaha yang akan membawa rakyat kepada fanatisme dan Pan Islam. Politik pemisahan inilah yang oleh Kernkamp disebut &lt;i style=""&gt;Splitsingstheorie&lt;/i&gt;, sebab dalam agama Islam tidak begitu jauh memisahkan ketiga bidang ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dalam ceramahnya di depan civitas akademika NIBA ( &lt;i style=""&gt;Nederlandsh Indische Bestuurs Academie&lt;/i&gt; ) delft pada tahun 1911, Snouck Hurgronje memberikan beberapa penjelasan mengenai politik Islamnya, yaitu: 1. Terhadap dogma dan pemerintah hukum yang murni agama, hendaknya pemerintah bersikap netral. 2. Masalah perkawinan dan pembagian warisan dalm Islam, menuntut penghormatan, 3. Tiada satupun bentuk Pan Islam boleh diterima oleh kekuasaan Erofa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Latar belakang pemerintah kolonial tidak mencampuri bidang agama ini, tidaklah terlepas dari adanya asumsi tentang terjadinya evolusi meninggalkan agama; sedangkan campur tangan dari luar dipandangnya justru akan menghambat proses evolusi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Berikut pembahasan tentang politik islam Snouck Hurgronje tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Netral Terhadap Agama &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Hubungan antara pemerintah kolonial dengan agama tidaklah bisa dilepaskan dari hubungan antar sesama umat beragama yakni antara umat Islam dan Kristen (Protestan dan Katolik). Para penguasa Belanda yang beragama kristen dan para pribumi yang beragama Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Latar belakang ini bisa menjelaskan mengapa sering terjadi diskriminasi dalam kebiksanaan yang berhubungan dengan agama, meskipun dinyatakan bahwa pemerintah Belanda bersikap netral terhadap agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Islam dan Kristen&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Penyebaran agama islam di kepulauan nusantara dirintis oleh para pedagang Arab dan India dengan penuh damai. Sebaliknya agama kristen mulai diperkenalkan Portugis dengan kekerasan yang berlandaskan jiwa pemberontakan dan permusuhan tradicional terhadap Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Netral Teori dan Praktek&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Undang-undang Dasar Belanda ayat 119 tahun 1855 menyatakan bahwa pemerintah bersikap netral terhadap agama. Pengertian netral dalam hal ini seharusnya tidak memihak dan tidak ikut campur tangan sama sekali, atau bisa juga membantu kesemuanya secara seimbang tanpa mencampurinya. Tetapi, pernyataan netral terhadap agama, ternyata berbeda antara teori dan praktek. Hal ini jelas terlihat pada berbagai diktum keputusan pemerintah yang tercantum dalam &lt;i style=""&gt;Regeerings Almanak, &lt;/i&gt;di sana tercatat sekitar seribu orang pegawai negeri yang bertugas sebagai penjaga gereja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kristen, namun tidak seorangpun petugas agama Islam yang tercatat sebagai pegawai negeri dalam buku resmi ini. Serta ketidakseimbangan pemberian dana oleh pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pemerintah Hindia Belanda dalam kenyataannya memang tidak bersikap netral dalam masalah agama, agama apapun dan dalam bidang apapun demi terpeliharanya ketertiban keamanan dan demi kelestarian kekuasaannya di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Asosiasi Kebudayaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Prinsip politik Islam Snouck Hurgronjedibidang kemasyarakatan adalah menggalakkan pribumi agar menyesuaikan diri dengan kebudayaan Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Asosiasi dan Pemanfaatan Adat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Politik asosiasi ini bertujuan untuk mempererat ikatan antara negeri jajahan dengan negara penjajahnya melalui kebudayaan, dimana lapangan pendidikan menjadi garapan utama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Istilah asosiasi sering dipergunakan dalm pengertian yang sama dengan istilah asimilasi. Kalau “asosiasi” lebih bersifat mempertemukan antara dua negeri yang berbeda sebagai teman, sedangkan “asimilasi” cenderung untuk menyatukan kedudukannya. Tetapi baik asosiasi maupun asimilasi kadang-kadang mempunyai pengertian yang sama dengan unifikasi, yaitu satu kesatuan hukum bagi seluruh penduduk, apapun asalnya. Bisa pula bararti usaha menyamakan semua peraturan kolonial di daerah jajahan dengan peraturan yang berlaku di negara penjajah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Sementara itu kebijaksanaan pemerintah Belanda dalam mempertahankan adat, mengundang kecenderungan untuk mempertahankan konservatisme. Kebijaksaan tersebut menurut masyarakat feodal bertujuan untuk mempertahankan penduduk Indonesia sebagai cagar budaya kuno, dalam rangka mencegah keterlibatan mereka dalam evolusi dunia modern, baik ekonomi maupun spiritual. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Asosiasi Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Ada tiga fase dalam perkembangan pendidikan di Hindia Belanda pada abad ke-20 yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kebijaksanaan Pendidikan dan Islam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Kelestarian penjajahan, betapapun merupakan impian politik pemerintah kolonial. Sejalan dengan pola ini, maka kebijaksanaan di bidang di bidang pendidikan menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi. Pendidikan barat diformulasikan sebagai faktor yang akan menghancurkan kekuatan Islam di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Kesadaran bahwa pemerintah kolonial merupakan “pemerintahan kafir” yang menjajah agama dan bangsa mereka. Maka semakin tertanam dalam benak santri . pesantren yang pada saat itu merupakan pusat pendidikan Islam juga mengambil sikap anti Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Ordonansi Guru&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Suatu kebijaksanaan pemerintah kolonial yang oleh umat Islam dirasakan sangat menekan adalah Ordonansi Guru. Ordonansi pertama yang dikeluarkan pada tahun 1905 mewajibkan setiap guru agama Islam untuk meminta dan memperoleh izin terlebih dahulu, sebelum melaksanakan tugasnya sebagai guru agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Sedangkan ordonansi kedua yang dikeluarkan pada tahun 1925, hanya mewajibkan guru agama untuk melaporkan diri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Ordonansi guru yang merupakan peraturan tentang pendidikan agama Islam ini lahir pada tahun 1905. Dilatarbelakangi oleh peristiwa Cilegon tahun1888.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Dalam praktek Ordonansi guru ini bisa dipergunakan untuk menekan agama Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Ordonansi Sekolah Liar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Ordonansi ini ada pada tahun 1923. Sejak itu setiap orang yang hendak mendirikan suatu lembaga pendidikan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus memberitahukan maksudnya secara tertulis kepada kepala daerah setempat, dengan menyebutkan cara pengajaran dan tempat pengajaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Tarekat dan Pan Islam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Gerakan Tarekat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Sejak lama di kalangan masyarakat Belanda di Indonesia telah terdapat rasa ketakutan terhadap tarekat, karena mereka yakin bahwa gerakan tarekat akan bisa dipergunakan oleh pemimpin-pemimpin fanatik sebagai basis kekuatan untuk memberontak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Peristiwa Cianjur 1885&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Peristiwa ini bermula dari tulisan Brunner dalam &lt;i style=""&gt;Javabode &lt;/i&gt;tanggal 22 September1885 berjudul &lt;i style=""&gt;Perang Sabil &lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Peristiwa Cilegon 1888&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Peristiwa Cilegon 1888 tidak bisa dilepaskan dari latar belakang gerakan tarekat, karena banyak dari pelakunya merupakan pengikut tarekat,. Salah satu identitas gerakan semacam ini adalah xenophobia (anti orang asing) dan menggalakkan perang suci.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Peristiwa Garut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Peristiwa ini terjadi di desa Cikendal kawedanan Leles Kabupaten Garut, pada tanggal 7 Juli 1919.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Gerakan Pan Islam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: 31.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kalaulah gerakan tarekat merupakan bahaya dari dalam, maka gerakan Pan Islam merupakan bahaya dari luar. Dalam hal ini para haji menduduki posisi sangat penting sebagai faktor pembawa pengaruh Pan Islam dari luar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pan Islam dan Khalifah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: 31.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Ada kaitan erat antara ide Pan Islam dan jabatan Khalifah yang disandang oleh Sultan Turki. Pengertian Pan Islam sendiri secara klasik adalah penyatuan seluruh dunia Islam di bawah satu kekuasaan politik dan agama yang dikepalai oleh seorang khalifah.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pan Islam dan Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: 31.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Meskipun letak kepulauan Indonesia relatif sangat jauh dari Turki, namun hal ini tidak menghalangi hubungan antara keduanya. Pada abad ke-16 aceh mempunyai perwakilan di Istambul, sedang senjat Turki kanon dan tentara dikirimkan ke Aceh untuk membantu tentara sabil untuk melawan potugis di Malaka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Islam dikepulauan ini tidak terlepas dari perhatian dunia Islam khususnya Mesir dan makkah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Haji dan Pan Islam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: 31.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Bagi umat Islam ibadah haji merupakan rukun Islam yang wajib di tunaikan bagi setiap muslim yang mampu, perkembangan hubungan dengan Timur Tengah dan semakin banyaknya jemaah haji mempengaruhi perkembangan agama Islam di negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Di kota Makkah para mukimin berkenalan dengan lingkungan Islam Internasional, dengan pan Islam. Kedudukan mereka sebagai jembatan antara kehidupan beragama di tanah airnya, oleh Snouck Hurgronje dikhawatirkan akan mengganggu pemerintah kolonial Eropa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kekhawatiran Belanda dan tindakannya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; text-indent: 31.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kekhawatiran negara-negara penjjah terhadap Pan Islam memang beralasan apalagi waktu meletusnya perang dunia pertama negara turki terlibat perang bersama Jerman melawan Sekutu. Dari sana Panitia nacional Khilafah mengeluarkan berbagai seruan bahwa perang suci itu merupakan kewajiban seluruh muslim.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 39.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dalam kaitan menentang Pan Islam inilah maka pengawasan ketat dilakukan terhadap para mukimin, juga terphadap orang Arab yang menetap di Indonesia. Serta para kiai dan pesantren-pesantren. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                                            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;BAB III&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;Het Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Organisasi Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kalau Snouck Hurgronje dinilai sebagai peletak dasar politik Islam pemerintah kolonial Hindia Belanda, maka &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;merupakan alat untuk melaksanakan ide Snouck Hurgronje tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="ES"&gt;yang berwewenang memberikan nasehat kepada pemerintah dalam masalah pribumi ini pada dasarnya telah berdiri sejak tahun 1899. &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/i&gt; merupakan “lembaga istimewa yang sangat penting bagipenelitian tentang Islam di Indonesia” pada masa penjajahan Belanda. Berikut pembahasan mengenai kantor tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Status Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 35.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="ES"&gt;merupakan dari perluasan tugas seorang &lt;i style=""&gt;adviseur&lt;/i&gt; atau penasehat pemerintah Hindia Belanda. Dalam melaksanakan tugasnya seorang adviseur biasanya dibantu oleh pegawai ahli, di samping beberapa pegawai administrasi, seperti: pembantu Urusan Arab, Urusan Bahasa-bahasa Daerah di Indonesia, Urusan Pengawasan dan Pembinaan Pemuda Pribumi, dan Juru Bicara Bahasa Arab; juga dibantu wakil adviseur. Pada tahun 1928, dibukalah perwakilan &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;di Sumatera Barat, yang berkedudukan di Bukittinggi (Fort de Kock).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Tugas adviseur sendiri disamping tugas utama memberi nasehat kepada pemerintah Hindia Belanda juga mempunyai tugas lain di antaranya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Meneliti bahasa pribumi dan Etnografinya ( instruksi tahun 1907)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Memberikan laporan tentang pengawasan terhadap pendidikan anak-anak pribumi keturunan bangsawan. (instruksi tahun 1909).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Akan tetapi, pada tahun 1931, berlakulah instruktur baru yang membatalkan instruktur-instruktur sebelumnya, bidang-bidang tugas adviseur pun diperluas, antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Harus mengadakan penelitian tentang pergerakan agama, politik dan kebudayaan dalam masyarakat poribumi,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Berkewajiban mencari informasi tentang pergerakan di kalangan Arab dan aliran kerohanian dalam Islam,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Memperhatikan masalah pergi haji ke Mekkah, yang justeru harus memperoleh prioritas utama,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Mempelajari ilmu bahasa dan etnografi, bila dipandang perlu bagi keberhasilan tugasnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Selanjutnya pada instruktur kelima dan keenam pada tahun 1934 dan 1939, seorang adviseur mempunyai wewenwng antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Mengangkat atau menyekors bahkan mengeluarkan pegawainya, sesuai dengan peraturan yang berlaku,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Memberikan kenaikan gaji berkala serta memberikan cuti,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Menetapkan peraturan gaji bagi para pegawai golongan tertentu yang ditempatkan di kantornya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dengan demikian, &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;merupakan suatu lembaga yang bersifat independen. Kantor ini langsung berada di bawah pengawasan Gubernur Jenderal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Hubungannya dengan Instansi Lain&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="ES"&gt;mempunyai hubungan dengan lima departemen yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Gubernur Jenderal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Departemen Negeri atau BB (Binnenlands Bestuur; pamong praja)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Depatemen pendidikan dan agama (OEN)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Depatemen kehakiman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Depatemen keuangan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di samping itu, &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;juga mempunyai hubungna dengan perwakilan Belanda di luar negeri, yakni konsulayt di Jeddah, konsulat di Turki, Atase di Kairo, atase di Kalkuta, dan Atase di Singapura.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Aktivitas Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Adapun aktivitas &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 2cm; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Memberikan saran kepada pemerintah kolonial tentang masalah-masalah pribumi, bahkanada yang menilainya sebagai “inti administrasi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 2cm; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Memberikan pendapat kepada Gubernur Jenderal mengenai pengangkatan bupati baru&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 2cm; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Mengontrol pemakaian gelar atau memberikan pertimbangan dalam pemberian gelar para penduduk, baik gelar resmi maupun pribadi,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 2cm; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Mempertimbangkan pengangkatan Penghulu Kepala&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 2cm; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Meneliti perkumpulan dan organisasi pribumi,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 2cm; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Menganalisa aneka berita dalam surat kabar, majalh dan publikasi lainnya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 2cm; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Mengurus masalah ibadah haji ke makkah,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 2cm; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Mengurus masalah golongan arab dan pengangkatan pimpinannya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 2cm; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Mengawasi masalah pendidikan agama, kas mesjid dan peredaran buku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pendek kata aktivitas &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;meliputi seluruh masalah pribumi dan Arab, khususnya masalah Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Adviseur Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Berikut para adviseur &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;voor Inlandsche zaken,Adjunct adviseur voor Inlandsche zaken, dan Adviseur Honorair &lt;/i&gt;urusan Arab&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dr. C. Snouck Hurgronje ( Adviseur 1899-1906)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dr. C.A.J. Hazeu ( Adviseur 1907-1913 dan 1917-1920 )&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dr. D.A. Rinkes ( Adviseur 1913-1916)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;R.A. Kern ( Adviseur 1921-1926, kecuali 1923)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;E. gobee ( adviseur 1923 dan 1927-1937 )&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dr. G.F. Pijper (Adv. 1937-1942, Adj. Adv. 1932-1937 )&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dr. B.J.O. Schrieke ( Adjunct Adviseur 1920-1924 )&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dr. Hoesein Djajadiningrat (Adj. Adviseur 1920-1925 )&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Ch.O.van der Plas (Adj. Adviseur 1929-1931)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Sayid Oethman ( Adv. Honorair Urusan Arab 1899-1914 )&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Peranan Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 35.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Berikut beberapa kasus yang menggambarkan keterlibatan dan peranan adviseur &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;yang mengepalai kantor tersebut, yakni kasus tentan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pengelolaan kas masjid&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kas masjid adalah sejumlah uang yang dikumpulkan dan menjadi milik suatu masjid. Dari berbagai kasus dapat dilihat betapa simpang siurnya penggunaan kas masjid, diantaranya: gagasan De Wolff van Weterrode yang memanfaatkan kas masjid sebagai dan pemeliharaan orang sakit gila, lepra, buta, atau memberikan pinjaman. Dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pembangunan masjid baru&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Berikut ini aneka perselisihan tentang pembangunan majid baru di berbagai daerah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Palembang, 1893&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Amuntai, 1894&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Jakarta, 1900&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Payakumbuh, 1911&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pekalongan, 1926&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 90pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dari aneka kasus tersebut di atas peranan yang dimainkan para Adviseur voor Inlandsche zaken tidaklah seragam. Snouck Hurgronje dan Sayid Oethman ternyata selalu berpihak kepada pengurus mesjid yang lama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pemburuan Guru Agama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Pada tahun 1888 terjadilah suatu pemberontakan di Cilegon, Banten, yang tidak lanjut penumpasannya berupa pemburuan paga guru agama dan ulama. Salah satu prinsip dari politik Islam Snouck Horgronje adalah tidak mentolerir masuknya ide Pan Islam ke dalam wilayah jajahannya. Dalam kaitan ini para ulama dan guru agama dinilai merupakan ancaman potencial bagi pemerintah kolonial.&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Persaingan Islam Kristen di Tanah Batak&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;sebenarnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;persaingan antara Islam dan Kristen terjadi di mana-mana di Hindia Belanda. Tetapi persaingan keduanya di Tanah Batak merupakan kasus yang cukup menarik dalam kaitannya dengan pembahasan tentang peranan &lt;i style=""&gt;adviseur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;. dalam menghadapi masalah persaingan antara keduanya ini , sikap para pejabat setempat nampak jelas memihak zending. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Peristiwa Sekayu dan Kubang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Usaha adviseur &lt;i style=""&gt;voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dalam menegakkan sikap netral ternyata kurang bersahabat dengan islam terlihat pada peristiwa Muhammadiyah di Sekayu, Palembang tahun 1926, dan peristiwa Muhammadiyah di Kubang Sumatera Barat tahun 1930.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;BAB IV&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Politik Islam Pemerintah Hindia Belanda&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Keinginan keras untuk tetap berkuasa di Indonesia, mengharuskan pemerintah Hindia Belanda untuk menemukan politik Islam yang tepat, karena sebagian penduduk kawasan ini beragama Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kedatangan Snouck Hurgronje pada akhir abad ke-19 baerhasil memberikan alternatif &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;jalan keluar. Yaitu bersikap netral terhadap ibadah agama, di samping bertindak tegas terhadap setiap kemungkinan perlawanan perlawanan orang-orang Islam fanatik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-indent: 21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Selama hampir dua dasawarsa pertama abad ini, &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;masih mampu memainkan perana sangat penting dalam dunia pemerintahan kolonial Belanda, bahkan bisa dikatakan pada masa itu mengalami zaman keemasan. Namun pada tahun-tahun terakhir, peranan kantor ini tidak lebih dari sekedar Klachtenbureau, yakni sekedar tempat menerima pengaduan , sedangkan pegawai-pegawainya kurang cukup memiliki kemampuan untuk menyelesaikan pengaduan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-indent: 21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Walaupun mendapat kritikan dari berbagai pihak &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/i&gt; masih bisa mempertahankan eksistensinya dan statusnya sampai akhir penjajahan Belanda pada tahun 1942.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-indent: 21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Satu hal yang perlu dicatat bahwa &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken &lt;/i&gt;tidak pernah dipimpin oleh seorang muslim, meskipun di kalangan penduduk sering disebut dengan kantor agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.25pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Hal lain yang perlu digarisbawahi adalah bahwa fungsi &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/i&gt; justru untuk menjamin kedudukan pemerintah Hindia Belanda. Dengan kata lain bisa disimpulkan, bahwa &lt;i style=""&gt;Kantoor voor Inlandsche zaken&lt;/i&gt; sebagai aparat pelaksana politik Islam pemerintah Hindia Belanda, kehadirannya justru demi kepentingan penguasa kolonial. Sama sekali bukan untuk kepentingan umat Islam atau pribumi di negeri ini.&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 57.3pt; text-align: justify; text-indent: 6.55pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-801006564572097354?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/801006564572097354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=801006564572097354&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/801006564572097354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/801006564572097354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2010/11/tugas-mk-metodologi-sejarah-hikmatullah.html' title='Tugas MK Metodologi Sejarah, Hikmatullah, dkk'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-6140006013406492798</id><published>2010-11-05T07:20:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T07:21:55.718-07:00</updated><title type='text'>Tugas MK Metodologi Sejarah, Juwita Sari, dkk</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Nama: Maydi Ruaidi Noor&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;A1A103033&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Noor Fahriani&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt; A1A106007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Juwita Sari &lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;A1A106016&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Henny Suryaningsih&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;A1A106029&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Rihanah&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;A1A106042&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Zulhaziah&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;A1A106050&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;KEHIDUPAN SOSIAL DI BATAVIA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Jean Gelman Taylor&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Buku yang ditulis Jean Gelman Taylor ini berlatar Batavia (Jakarta) pada masa Kolonial. Penulisan sejarah dalam buku ini memiliki perbedaan dengan penulisan sejarah lainya, perbedaanya terdapat pada sisi yang menjadi bahasanya. Apabila dalam buku sejarah lainya kita banyak disuguhkan cerita-cerita yang mengungkap sisi politik dan ekonomi masa kolonial, dalam buku ini justru yang dikupas adalah aspek sosialnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pendekatan Yang digunakan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Dalam mempelajari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat sebagaimana mereka berkembang di ibukota koloni, Batavia, buku ini kembali kepada subyek lama namun berangkat dari sudut pandang yang baru, jika dibandingkan dengan sudut pandang Van Leur dan Ismail. Dengan menggunakan pendekatan yang demikian sejarah bangsa Eropa di Indonesia tidak lagi berfokus pada penaklukan melainkan lebih menekankan pada hubungan sosial antara bangsa Belanda dengan orang-orang Asia, dan pengaruh perempuan kelahiran Asia pada kalangan elite pengaruh kolonial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Model Pemecahan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Karya-karya sejarah terdahulu telah menyinggung karakteristik sosial dari pemerintahan Belanda (di Asia) dan pusat-pusat perdagangan dari berbagai negara Asia pada abad ke-17. Nepotisme digambarkan berkembang dengan pesat pada abad ke 17 dan 18, namun hubungan keluarga yang mempengaruhi hal itu kurang diperhatikan dan dijelaskan. Perlunya mengenali para pegawai VOC untuk memperluas pemahaman kita mengenai bangsa Belanda yang berada dibelahan dunia lain. Di dalam buku ini, tujuan penulis menggunakan hubungan keluarga tersebut sebagai sarana untuk melakukan kajian tentang masyarakat kolonial Belanda. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Sistematika Penulisan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Di dalam buku ini akan ditunjukan adanya perkembangan suatu sistem hubungan keluarga Indies, yang keturunannya bisa ditelusuri melalui perempuan-perempuan lokal campuran Eropa-Asia dan keturunan Eropa. Juga dapat diketahui jalur yang digunakan para imigran Belanda ketika menjalin hubungan antara mereka sendiri untuk mengontrol posisi kekuasaan dan kekayaan dalam masa dinas meereka di VOC.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ditelusuri pula sepak terjang para gubernur jenderal dan menyertakan mereka sebagai bagian kisah dari orang-orang Belanda yang berada di luar tanah airnya serta peran orang-orang Asia dalam membentuk kebudayaan kolonial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Buku ini terdiri dari 6 bab, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Bab I : Asam mula kota Batavia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;-Populasi &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;-Lembaga dan hukum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bab II : Perkembangan masyarakat koloni&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bab III : Jaringan masyarakat kolonial : Batavia dan keadaan abad ke-18&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bab IV : Serangan terhadap budaya Indies &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;-Pencerahan di Batavia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;-Masa peralihan pemerintah Inggris (1811-1816)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bab V : Kehancuran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat VOC dan terbentuknya masyarakat colonial baru&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Bab VI : kehidupan domestik pada masyarakat kolonial&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Metode Penelitian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Penulis mengawali dengan pengumpulan sumber-sumber. Sumber yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang hal tersebut di atas adalah data genealogis, dekrit peraturan, tulisan batu nisan, dan monument peringatan, serta laporan para pelancong.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Juga melihat lukisan-lukisan yang terdapat di mesium di Amerika Serikat dan yang ditemukan selama kunjungan singkat ke Belanda. Selama penelitian, catatan gereja Batavia tentang pembabtisan, pernikahan, dan kematian, yang telah didapat oleh masyarakat Genealogi Utah belum dibuatkan katalog sehingga tidak dapat diakses untuk penelitian. Ketika catatan gereja tersebut sudah dapat diakses dan dikombinasikan dengan catatan personal yang disimpan di gedung arsip kerajaan Belanda Di Den Haag, catatan – catatan gereja yang&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;bertitimangsa sejak 1619 ini, memberikan gambaran berharga tentang komposisi disemua lapisan sosial dari rumah tangga di pusat-pusat kolonial Belanda di Asia. Sifat materi yang dapat diteliti penulis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan sendirinya membatasi cakupan kajian penulis pada Belanda . kajian terhadap perempuan-perempuan elite, terlepas dari apakah dia orang Eropa, Indies, ataupun Asia, dilakukan secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak lengkap namun selektif. Penulis berharap penelitian yang dihasilkannya ini dapat memberikan suatu indikasi tentang kemungkinan-kemungkinan untuk suatu studi lebih lanjut dalam topik ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-6140006013406492798?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/6140006013406492798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=6140006013406492798&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/6140006013406492798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/6140006013406492798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2010/11/tugas-mk-metodologi-sejarah-juwita-sari.html' title='Tugas MK Metodologi Sejarah, Juwita Sari, dkk'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-5301367123633185549</id><published>2009-10-23T05:10:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T05:13:11.390-07:00</updated><title type='text'>HATI YANG AMANAH (TAMAT)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pancaran sang penguasa cahaya secara perlahan mulai meredup terhalang oleh gumpalan-gumpalan awan bak jelaga yang bergerak menggerombol rendah mengombak diantara bumi dan langit. Warna biru yang menghampar sebatas cakrawala tersapu oleh warna mengabu terhimpun menyatu bagaikan raksasa mengangkang angkasa. Tiupan Batara Bayu memperdengarkan bunyi mendesir, berdesau dan mendengung secara bergantian tanpa jeda, tanpa irama, menggoyang dahan, ranting serta meliuk-liukkan pucuk-pucuk daun pepohonan. Serpihan-serpihan kapuk yang keluar dari buahnya yang sudah mengering dan merekah, beterbangan mengayun mengikuti gelombang tiupan Batara Bayu&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;membentuk titik-titik putih diantara rona gumpalan-gumpalan awan yang menghitam. Hawa dingin mulai menyeruak dan menerpa pemukiman yang sepi. Hawa yang dingin juga menyelusup kedalam pondok dimana Annur, ibunya dan Lyra Auradianty yang sedang dilanda kesedihan terbawa oleh sapuan sang bayu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Batin Lyra Auradianty yang terbawa oleh hempasan dari pemandangan yang mengiris relung-relung hatinya mengumbar ribuan rasa berkecamuk menerawang kehidupan Annur bersama ibunya. Apakah pemandangan yang dilihatnya merupakan wujud dari lingkaran pemahaman tentang kesehatan dan penyakit berasal dari sebuah keyakinan bahwa segalanya merupakan bentuk kehendak sang maha dalang karena ulah manusia sendiri yang memainkan lakonnya tidak selaras dengan harmoni alam. Apakah kemiskinan difahami sebagai sesuatu yang harus diterima tanpa ada hak untuk mengubahnya. Kalau begitu, inikah bentuk dari tindakan yang manusia yang dianggap bertentangan dengan keselarasan alam dan inikah bentuk dari sikap pasrah yang diyakini oleh mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Lyra Auradianty mengeluarkan stateskop dan alat pengukur tekanan darah dari dalam tasnya, sebagai manusia biasa walaupun dia seorang dokter, tak urung tangannya bergetar halus yang nampak dari goyangan alat-alat yang terpegang di tangannya. Dia berusaha dengan keras untuk menguasai perasaannya, perlahan namun terlatih dperiksanya kondisi ibu Annur, sungguh memprihatinkan, tubuh kurus, kulit mengering dan mata yang meredup telah mengidap penyakit kekurangan gizi yang parah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Lyra Auradianty meletakkan tangan ibunya Annur di pangkuannya, mata yang redup berpendar di dalam rongga mata yang cekung, kosong memandang ke atas, ke atap pondok yang compang-camping sehingga seolah-olah memberikan ruang untuk lintasan cahaya berbentuk garis-garis lurus mengisi ruangan dalam pondok. Tarikan napas yang berat dan bunyi desis yang halus keluar dari mulut Lyra Auradianty, seakan dia berusaha untuk melepaskan beban berat yang menghimpit dadanya. Dengan rona muka yang dibuat setenang mungkin, Lyra Auradianty memandang Annur dan melambai memberi isyarat untuk mendekat kepadanya. Dipegangnya pundak Annur sambil mendekatkan wajahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Annur, saya kira ibumu ini kita bawa saja ke rumah saya ya .... ?&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Supaya nantinya saya lebih leluasa memberikan perawatan.” sembari mata Lyra Auradianty memandang mata Annur, jauh menerobos sampai ke relung hati Annur yang terdalam. Annur menundukkan wajahnya, degup jantungnya bergerak dengan cepat, wajahnya berubah pucat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Apakah penyakit ibu saya parah ? Dan kalau harus dirawat oleh ibu dokter, bagaimana kami harus membayar biaya perawatan itu?” suara Annur bagaikan sayup-sayup terdengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Oh, penyakit ibumu tidaklah terlampau parah, hanya untuk saat ini ibumu butuh perawatan dari seorang dokter. Annur tidak usah memikirkan soal biaya perawatan, semuanya tanggung jawab saya.” Suara Lyra Auradianty terdengar tegas dan meyakinkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Gumpalan-gumpalan awan bertambah hitam dan memekat. Gerakannya bertambah cepat seolah-olah ingin menutup bentangan langit. Seekor elang terbang melintas dengan kepakan sayap mengibas suara dengungan tiupan sang bayu yang berdesau ditingkahi oleh suara burung &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;i&gt;‘kacicirak’&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt; yang nyaring dengan nada berirama memoles desauan suara sang bayu. Dua ekor katak hijau melompat-lompat berkejaran di hamparan daun-daun teratai kemudian menghilang di rumpunan tumbuhan eceng gondok. Pancaran sang penguasa cahaya mulai tampak memerah bergerak lambat menempel pada tiga per empat batas cakrawala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Lyra Auradianty membereskan semua peralatannya dan Annur mengambil beberapa potong sarung dan baju ibunya yang sudah lusuh dan berumur tua, dimasukkannya ke dalam kantongan plastik. Selanjutnya mereka berdua bersiap-siap untuk mengangkat tubuh ibunya Annur untuk diturunkan dari pondok dan dimasukkan ke dalam perahu. Mereka terkejut ... mata ibunya Annur terbuka tanpa berkedip, mulutnya setengah terbuka, warna memucat semakin nyata, dadanya bergerak tak beraturan. Lyra Auradianty dengan segera memegang pergelangan tangan ibunya Annur, penuh perhatian, penuh konsentrasi, sedangkan Annur sendiri duduk terpaku, bingung, khawatir menyatu dalam hatinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Suara tiupan tambah berdesau, hempasannya semakin menguat, pintu pondok yang tanpa engsel nampak bergerak-gerak, beberapa potong atap terlepas, terbang menjauh kemudian terlempar, menukik menyentuh ranting pohon galam dan menggeletak di atas pusaran air.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Napas ibunya Annur nampak semakin memburu, tubuhnya bergetar hebat, rona memucat sudah memenuhi seluruh tubuh, dengan satu tarikan napas yang kuat dalam hitungan detik tubuh ibunya Annur telah berubah menjadi sekujur tubuh yang kaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun” terdengar suara Lyra Auradianty dan Annur yang hampir bersamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Sesaat Annur memandangi wajah ibunya, dengan perlahan wajahnya menelungkup pada dada ibunya, genangan bulir-bulir kristal putih membasahi sarung penutup tubuh ibunya, tangan kanan Annur mengusap wajah ibunya sambil menelusuri tiap lekukan yang terdapat di wajah tersebut, seolah-olah Annur ingin membawa semua sentuhan tangannya ke dalam jiwanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Lyra Auradianty terduduk bagaikan patung tanpa roh, jiwanya kosong melayang-layang ikut terlarut bersama desauan angin, kadang terangguk laksana pucuk-pucuk daun galam yang lemah tak berdaya. Seekor anak kucing nampak duduk di sudut dinding pondok, matanya memandang apa yang ada di hadapannya, telinganya bergerak-gerak menepis nyamuk-nyamuk yang berseliweran di dekatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Begitulah om ceritera pertemuan saya dengan Annur” kata Lyra Auradianty.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Hhhhhh ....” terdengar desahan tarikan napas om Murdi. “Sungguh, pertemuan yang tragis” kata om Murdi pendek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Annur anak yang rajin dan berbudi walaupun prestasi belajarnya di sekolah biasa-biasa saja, namun masih terngiang apa yang pernah diutarakan oleh almarhum Yanuar pada saya, bangsa ini tidak kekurangan memiliki anak-anak bangsa yang cerdas dan berprestasi gemilang, tetapi tidak banyak memiliki anak-anak yang rajin dan berbudi. Banyak pemimpin-peminpin yang dilahirkan dengan kecerdasan dan segudang prestasi gemilang, tetapi bangsa ini lebih membutuhkan tidak hanya pemimpin yang cerdas dan berprestasi gemilang tetapi lebih dari itu PEMIMPIN YANG BERBUDI.” kata Lyra Auradianty.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Om Murdi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengusap dagunya. “Jadi apa yang dilakukan oleh Lyra ini merupakan usaha untuk mewujudkan apa yang telah dikatakan oleh almarhum Yanuar dengan kata lain wujud sebuah amanah?” sela om Murdi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Lyra Auradianty mengangguk halus sambil matanya memandang ke halaman rumah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Empat ekor kupu-kupu pancawarna beterbangan diantara kumbang-kumbang pengisap madu, seekor kupu-kupu itu hingga di kuntum bunga matahari, terayun-ayun di situ sambil sayapnya menyapu dengan kibasan lembut membentuk bauran warna di latar bunga matahari yang merah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*** tamat ***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-5301367123633185549?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/5301367123633185549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=5301367123633185549&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5301367123633185549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5301367123633185549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/10/hati-yang-amanah-tamat.html' title='HATI YANG AMANAH (TAMAT)'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-5368980533950072867</id><published>2009-10-16T05:06:00.000-07:00</published><updated>2009-10-16T05:08:39.616-07:00</updated><title type='text'>HATI YANG AMANAH (PART 2)</title><content type='html'>Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pohon-pohon galam tumbuh laksana hamparan permadani hijau yang memenuhi bentangan rawa yang luas. Warna kulit batangnya yang kuning ke putih-putihan memberikan sapuan ditengah rentang kehijauan dedaunan yang merimbun. Di ranting-ranting pepohonan galam itu bertengger kerumunan kelompok burung bangau putih yang matanya selalu awas memperhatikan ikan-ikan yang siap untuk dimangsanya. Beberapa diantaranya sedang asyik menelisik sela-sela sayap dengan paruhnya yang panjang. Bulu-bulu putihnya beterbangan kian-kemari, ringan bagaikan kapas, turun-naik bergelombang tertiup angin. Diantara pohon-pohon perdu air beberapa burung ‘binti’ diam bagaikan boneka kayu yang tertancap pada ranting pohon, bulu sayap yang berwarna hijau kehitaman dengan bulu dada kecoklatan, paruh berwarna merah dan mahkota yang berwarna kuning nampak indah bagaikan rangkaian warna mutu manikam. Dia terkenal sebagai burung yang penyabar, sabar dalam mengais rezeki peyambung kehidupannya. Monyet-monyet bergayutan, terayun dan kemudian melompat-lompat dari ranting ke ranting, dari satu pohon ke pohon yang lain.&lt;br /&gt;Langit cerah membiru. Gumpalan awan putih bergerak perlahan-lahan. Bentuknya selalu berubah-ubah. Sekali waktu gumpalan yang satu menggabung menyatu dengan gumpalan awan yang lain, pada ketika yang lain satu gumpulan memecah menjadi beberapa gumpalan kecil, terus begerak dan terus berubah. Ada suatu saat mereka saling mendekati dan pada suatu saat yang mereka saling menjauhi, terus menjauh sampai hilang dari penglihatan mata.&lt;br /&gt;Tumbuhan teratai sedang musim berbunga. Tangkainya yang panjang menyembul dari piringan daunnya yang lebar, bersegi berwarna hijau. Kelopak bunganya sedang membuka berbentuk helaian-helaian. Beberapa kelompok teratai memperlihatkan helaian kelopak bunga yang berwarna putih dan di kelompok lainnya berwarna merah muda. Serombongan serangga kecil kecil bersayap sedang sibuk mengerumuni putik bunga-bunga teratai itu. Burung-burung belibis berenang menyeruak diantara tumbuhan teratai, dengan tangkas beberapa diantaranya menyeluruk ke dalam air dan kemudian dengan sigapnya terbang mengangkasa.&lt;br /&gt;Dari kejauhan pandangan mata terhampar semacam pemukiman yang berdiri di atas bentangan rawa yang luas. Usapan sinar mentari memberikan penjelasan serba terbatas tentang pemukiman itu. Setelah agak dekat, nampak bahwa di situ adalah himpunan pondok-pondok tempat penghuninya bertempat tinggal. Pondok-pondok itu dibangun dengan bahan bangunan utama dari kayu galam, dindingnya pun dari bahan kulit kayu galam juga, beratap rumbia dan berlantai bambu yang disusun berjajar. Tidak nampak para penghuninya, hanya terdengar sayup-sayup di pendengaran telinga sebuah lagu dangdut ‘Menunggu’ yang dinyanyikan oleh Ridho Rhoma. Sebuah pemukiman yang nyaris sepi.&lt;br /&gt;Haluan perahu yang dikemudikan Annur mengarah pada salah satu pondok yang letaknya agak berjauhan diantara pondok-pondok lainnya, sebuah pondok dengan ukuran panjang 4 meter dan lebar 3 meter, mempunyai satu pintu dan satu jendela. Dindingnya sudah banyak yang terlepas sehingga disana-sini kelihatan lubang-lubang bagaikan bidang datar yang bopeng-bopeng. Begitu pun juga atapnya tidak lebih baik dari dindingnya, sudah sangat tua dan usang. Sudah pasti apabila diterpa oleh turunnya hujan yang sangat deras maka air akan masuk dengan leluasa ke dalam pondok. Tanpa halaman, sekelilingnya hanya air.&lt;br /&gt;Dengan perlahan-lahan perahu mendekati salah satu tiang dari tangga naik ke atas pondok. Perahu diposisikan secara melintang dan salah satu bagian dindingnya didempetkan pada salah satu anak tangga. Annur meminta permisi untuk melintas di depan Lyra Auradianty sambil membungkukkan badannya menuju ke arah haluan. Dengan berjalan secara hati-hati agar perahu tidak oleng karena gerakannya. Sesampai di haluan diambil tali penambat perahu, diikatkannya dengan kuat pada salah satu tiang tangga naik. Uppsss ... kaki Annur  menjejak ke atas anak tangga.&lt;br /&gt;“Mari bu dokter ... inilah pondok tempat tinggal kami, semoga bu dokter tidak risi singgah di sini” kata Annur sambil mengulurkan tangan kecilnya untuk membantu Lyra Auradianty naik ke atas dari dalam perahu yang ditumpanginya. Lyra Auradianty naik ke atas dengan tangan kanannya berpegangan pada tangan Annur, sedangkan tangan kirinya memegang pagar tangga. Annur berada di depan mendahului Lyra Auradianty ketika menuju pintu pondok yang tertutup tidak terlalu rapat. Pintu pondok ternyata tidak bersatu dengan dinding dengan rekatan sepasang engsel tetapi hanya disandarkan saja seadanya.&lt;br /&gt;“Ibu ... ini Annur sudah datang” kata Annur, kemudian tangannya ke arah Lyra Auradianty. “Dan ini ibu dokter Lyra Auradianty yang ingin berkunjung ke pondok kita ini.”&lt;br /&gt;Dengan sapuan matanya, nampak oleh Lyra Auradianty seorang ibu yang sedang hamil tergolek lemah di atas kasur. Kasur usang dan sudah tua termakan usia, isi kapuknya sudah sangat tipis, benang jahitan pada kain pembungkusnya sudah banyak yang terlepas. Alas kasurnya, sarung batik yang sudah lusuh dan banyak sobekan di sana-sini. Sarung batik itu pun tidaklah mampu menutupi seluruh bidang kasur. Bantalnya pun tipis, sudah usang dan tua pula, tanpa sarung. Secara sekilas terlihat banyak bercak-bercak yang memenuhi bantal itu. Bercak-bercak dari tumpuhan airmata yang sudah mengering. Ibu Annur yang sedang hamil tergolek di atas kasur itu, badannya sudah kurus, kulit tubuh dan bibir mengering, matanya kuyu hampir menyipit membentang bagaikan sebuah garis tebal yang lurus, rambut tergerai acak-acakan tak terurus. Lurus sejajar dengan hunjuran kaki berjarak kurang lebih 50 centimeter terdapat sebuah dapur tanah berisikan potongan-potongan kayu galam yang baranya masih menyala, asap yang tipis menyebar mengisi seluruh ruang pondok. Dekat kepala di samping sebelah kiri sebuah cerek dan cangkir aluminium teronggok bagaikan penunggu setia ibu Annur yang terbaring lemah.&lt;br /&gt;Annur dan Lyra Auradianty melangkah secara perlahan menghampiri tubuh kurus terkulai yang hanya tinggal daging pembalut tulang. Annur duduk di samping kiri ibunya dan Lyra Auradianty di sebelah kanannya. Dengan tangan kanannya Lyra Auradianty menyalami ibu Annur. “Ibu, saya Lyra Auradianty, temannya Annur, saya bertemu dengannya dan kemudian saya mengajaknya untuk berkunjung ke rumah ibu ini.” Mata ibu Annur menatap sendu dan kuyu ke arah Lyra Auradianty, tangannya yang bersalaman terasa dingin dan bergetar. Bibirnya yang terkatup terbuka dengan berat dan perlahan mengucapkan kata yang hampir tak terdengar: “te ... te ... rima kaa...sih, ibu ... baaa..ik sekali,” katanya pendek. Mendengar suara dan melihat kondisi fisik ibu Annur, terasa sesak yang menggumpal-gumpal dalam dada Lyra Auradianty, lehernya bagaikan tercekik, lidahnya kelu, lunglai tulang-belulangnya bagikan tak mampu menahan tubuhnya. Apa yang bisa diperbuat oleh Annur dalam kondisi ibunya yang demikian? Adakah harapan-harapan yang bisa tumbuh dalam jiwa ibunya Annur dengan segala kepapaannya? Adakah keinginan yang ditumpukan pada Annur seandainya Tuhan menjemputnya? Beribu pertanyaan memenuhi kepala Lyra Auradianty. Sesaat dirinya serasa melayang, pandangannya kosong menatap tubuh ibunya Annur. Sungguh perasaannya sangat trenyuh. Annur terdiam, begitu juga Lyra Auradianty. Suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara dua ekor cecak yang berkejaran memperebutkan mangsa seekor capung kecil yang kebetulan terbang melintas di dekatnya., suara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tretek ... tek ... tek&lt;/span&gt; kecil mengisi kesunyian. Di luar pondok terdengar suara elang bondol menggelombang terbawa angin yang bertiup semilir, meliuk, meyusup ke sela-sela pepohonan galam, mengiris pilu hingga mengisi relung hati Lyra Auradianty yang terpaku sedih, duduk bersimpuh di depan tubuh ibunya Annur. Annur memandangi ibunya, sebaris putih bening mulai mengabur dimatanya, menyusup menjadi titik-titik di pelupuk dan bulu matanya, kemudian berliku-liku dipipi menyatu dan bergantung didagunya, akhirnya jatuh dan meghilang di sela-sela lantai bambu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;***bersambung***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-5368980533950072867?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/5368980533950072867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=5368980533950072867&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5368980533950072867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5368980533950072867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/10/hati-yang-amanah-part-2_16.html' title='HATI YANG AMANAH (PART 2)'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-7985572327760134973</id><published>2009-10-16T05:04:00.000-07:00</published><updated>2009-10-16T05:05:50.582-07:00</updated><title type='text'>HATI YANG AMANAH (PART 1)</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CHAIRIY%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penulis: Hairiyadi (Kelana Budaya)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hari sangat panas. Pancaran sinar matahari sangat teriknya, angin pun sepertinya enggan bertiup. Langit bersih membiru tanpa awan yang menutupinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seorang lelaki yang berumur sekitar 32 tahun tampak gagah dengan mengenakan kacamata hitam, baju kotak-kotak biru-putih, jelana jins Levi’s warna biru donker, sepatu boot kulit warna orange dan dikepalanya bertengger topi helm proyek. Sang lelaki itu sepertinya memberikan petunjuk kepada beberapa orang pekerja yang mengelilinginya. Mereka terlibat pembicaraan yang sangat serius. Cukup lama pembicaraan mereka berlangsung, kemudian terlihat mereka saling bersalaman sambil tertawa-tawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sang lelaki berjalan menyusuri tepi jalan sambil memperhatikan tanah-tanah yang digali dan tumpukan material yang teronggok di sepanjang tepi jalan. Rupanya sang lelaki adalah pimpinan proyek dari proyek pembuatan jalan yang kini sedang mereka lakukan. Nampak sang lelaki yang menjadi menjadi pimpinan proyek itu, tipe orang yang sangat teliti dan disiplin. Beberapa kali dia memperhatikan hasil pekerjaan dari para pekerjanya dan kemudian memberikan pengarahan agar pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di bawah pohon yang teduh dan rindang sang pemimpin proyek kemudian berhenti dan berdiri di sana sambil mengawasi pekerja-pekerja proyek yang sedang bekerja, sesekali dia mengalihkan pandangannya ke arah orang-orang yang lalu-lalang melewati sebagian jalan yang sudah selesai dikerjakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seorang wanita muda yang cantik dengan pakaian rapih namun dandanannya sederhana nampak ingin menyeberang jalan. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari celah dan kesempatan untuk menuju sisi jalan di seberangnya. Wanita itu nampak anggun dan elegant. Ketika lalu-lintas di jalanan mulai lengang, sang wanita dengan cekatan langsung menyeberang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sang lelaki muda yang berteduh di bahwa pohon rindang lekat memperhatikan wanita muda penyeberang jalan yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya berdiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Eeehhh ... sepertinya ... aku pernah melihat wanita itu sebelumnya. Siapa ya ...?!” suara sang lelaki dari dalam hatinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dia mencoba untuk melihatnya dengan lebih jelas lagi dan mencoba untuk mengingat-ingatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ohh ... iya. Aku ingat sekarang, itukan Lyra Auradianty, calon isterinya almarhum Yanuar. Iya ... tidak salah lagi, itu Lyra Auradianty.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dengan bergegas sang lelaki mendekati wanita penyeberang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Hai ....! Masih ingat ingat saya” sapa sang lelaki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sang wanita kaget dengan matanya mencoba mengenali lelaki yang menyapanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Lupa ya!” sapa sang lelaki lagi, sambil melepaskan kacamata hitam dan topi helm proyeknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ooouuuuhhh ... walah ... om Murdi ya? Ya ... om Murdi. Apa kabar om? Jawab sang wanita yang masih belum hilang kekagetannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Iya ... benar, saya om Murdi, om’nya Yanuar. Kamu Lyra kan ... ? Lyra Auradianty.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Benar om ... saya Lyra Auradianty, gimana nih kabarnya om, sudah lama kita tidak bertemu setelah pemakaman abang Yanuar beberapa tahun yang lalu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Alhamdulillah, kabar baik saja Lyra. Kamu sendiri bagaimana kabarnya sekarang?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Alhamdulillah kabar baik juga om. Tumben ... siang-siang panas begini ada di pinggir jalan, lagi ngapain om”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ooouu ... om lagi ada kerja’an proyek ini (sambil tangannya menunjuk jalanan) yang masih dalam tahap penyelesaian untuk dibenahi di sana-sini sehingga sesuai dengan kontrak pekerjaaan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ooouu ... begitu, jadi kontraktornya dari perusahaan om Murdi ya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kira-kira begitulah Lyra. Kamu sendiri mengapa ada disini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Saya ditempatkan sebagai dokter di Puskesmas itu” tangan Lyra menunjuk sebuah bangunan yang bertuliskan PUSKESMAS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Begitu ya ... lalu sejak kapan Lyra sebagai dokter Puskesmas di sini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Belum begitu lama om ... ehh ... sekitar 2 tahun”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Baguslah, om Murdi angkat jempol buat kamu karena bersedia di tempatkan di Puskesmas yang terpencil disini. Tidak banyak dokter yang bersedia di tempatkan di tempat terpencil seperti ini. Ehhh ... ngomong-ngomong bersama siapa Lyra tinggal disini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ada yang menemani om .... !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Sudah dapat suami ... dan sekarang tinggal bersama suamimu yah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Idiihhh ... om Murdi, Lyra&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masih belum bersuami om.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Lalu ... kamu tinggal bersama siapa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bersama seorang anak kecil yang saya anggap sebagai anak saya sendiri. Anak laki-laki yang berumur 10 tahun, kebetulan wajahnya mirip .... almarhum Yanuar. Anak tersebut saya sekolahkan dan sekarang sudah di kelas III SD.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wajah Lyra Auradianty menerawang ke atas seolah-olah wajah almarhum Yanuar ada di sana. Wajah yang sebenarnya tidak begitu lama dikenalnya, namun begitu lekat di hatinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bagaimana kamu bisa dapat anak itu?” tanya om Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Begini om ceriteranya .... ! Eeehh ... sepertinya kita tidak enak ngomong sambil berdiri disini. Kita ngomong di rumah saya saja om, kebetulan saya tinggal di rumah dinas dokter Puskesmas. Itu tuh rumah yang ada di seberang jalan sana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Dengan senang hati”, sahut om Murdi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rumah dinas dokter Puskesmas yang mungil dan indah. Suasananya sungguh asri. Bermacam jenis tanaman apotek hidup tumbuh dengan subur di halamannya, terpelihara dengan baik, pagar-pagar yang artistik juga menghiasi sekeliling tanaman apotek hidup tersebut. Berbagai jenis bunga juga bermekaran di samping kiri dan kanan rumah, didominasi warna merah dan kuning sangat serasi dengan warna cat rumah yang berwarna hijau mandarin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Om Murdi melepaskan sepatu boot yang dipakainya dan meletakkannya di teras rumah. Dia mengikuti Lyra Auradianty yang mengajaknya memasuki rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Silahkan ... duduk ya om, Lyra mau ke belakang sebentar” kata Lyra Auradianty mempersilahkan om Murdi untuk duduk di kursi tamu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Terima kasih” jawab om Murdi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Om Murdi memperhatikan sekeliling dinding ruang tamu. Bermacam-macam foto tergantung di situ dengan pigura yang indah. Ada beberapa foto almarhun Yanuar bersama Lyra yang saling menyuapi dengan mimik wajah lucu, foto almarhum Yanuar ketika praktek alat berat, foto almarhun Yanuar bersama teman-temannya ketika di wisuda, ada foto almarhum Yanuar ketika dimasukkan ke liang lahat. Ada juga foto Lyra Auradianty bersama keluarganya, foto Lyra sebagai dokter sedang melakukan pengobatan gratis dan foto Lyra Auradianty bersama dengan seorang anak lelaki kecil yang wajahnya benar-benar mirip dengan wajah almarhum Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Om Murdi beranjak dari tempat duduknya berjalan mendekati foto Lyra Auradianty bersama anak lelaki kecil yang wajahnya mirip almarhum Yanuar. Om Murdi dengan serius memperhatikan wajah anak lelaki kecil itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Subhanallah ... betul-betul mirip sekali, miriiiipppp sekali ...&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;wajah anak ini dengan wajah almarhum Yanuar”, desah om Murdi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Yang itu om .... anak kecil yang akan saya ceriterakan nanti” suara Lyra Auradianty yang mengejutkan om Murdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Eh ... iya ... ya ... ya, maaf ... kalau om tidak sopan memperhatikan foto-foto di dinding ini, om senang dan suka sekali melihatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Tidak apa-apa, foto-foto kenangan om, ini ... minum dulu om.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Terima kasih, nggak usah repot-repot Lyra” kata om Murdi sambil kembali ke tempat duduknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Udaranya sangat panas ya om”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Iya, memang sekarang musim kemarau, padahal musim kemaraunya masih panjang lho Lyra”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Begitu ya om. Sekarang ini banyak pasien di Puskesmas yang keluhannya ISPA”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Memang, karena selain udara yang panas juga asap yang pekat menyelimuti wilayah sekitar sini” kata om Murdi sambil mengirup teh yang disajikan Lyra Auradianty.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Boleh ... saya merokok, karena sambil merokok saya akan lebih asyik mendengarkan ceritera bagaimana Lyra menemukan anak lelaki yang wajahnya mirip sekali dengan wajah almarhum Yanuar”, lanjut om Murdi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Silahkan om kalau mau merokok sambil mendengarkan ceritera saya” kata Lyra Auradianty dengan senyum manis di tambah lekukan lesung pipit di pipinya yang putih kemerahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Begini om ... !” Lyra Auradianty memulainya ceritera pertemuannya dengan anak lelaki yang wajahnya mirip dengan almarhun Yanuar:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di suatu sore 2 tahun yang lalu, saya baru pulang dari rumah pasien yang terserang kolera. Saya duduk diboncengan sepeda pancal yang dikendarai oleh suami dari pasien yang terserang kolera tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di jalanan yang melintasi area rawa di mana banyak pohon-pohon galam, saya melihat seorang anak lelaki mengayuh perahu yang di dalamnya dimuati dengan potongan-potongan kayu kecil yang biasanya digunakan sebagai kayu bakar oleh penduduk di sini. Anak itu lelaki itu badannya begitu ringkih, raut wajahnya memperlihatkan perjuangan hidup yang berat yang harus dihadapinya. Dia menyusur sungai-sungai kecil yang berkelok diantara pepohonan kayu galam. Topi di kepalanya menutupi sebagian wajah lugunya. Saya terus memperhatikan anak lelaki itu sampai dia menghilang di sebuah tikungan sungai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di hari-hari berikutnya ketika saya pulang dari memeriksa pasien-pasien saya yang lain, kembali saya melihat anak itu dengan aktivitasnya yang sama. Saya jadi penasaran siapa sih anak itu? Kasihan .... ! Dia selalu sendirian mengayuh perahunya. Dimana orang tuanya, ataukah orang tuanya sudah tidak ada lagi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pada suatu kesempatan yang saya anggap tepat, saya tunggu anak itu di pinggir sungai di sela-sela pepohonan rumpun bambu yang rindang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Benar ! Anak lelaki kecil yang ringkih itu kembali menyusur sungai dengan perahunya. Saya lambaikan tangan saya dan saya perlihatkan wajah saya seramah mungkin agar anak tersebut bersedia menghampiri saya. Berkali-kali saya lambaikan tangan. Anak tersebut nanar memperhatikan saya dari kejauhan, nampaknya dia ragu dan agak ketakutan. Saya terus melambaikan tangan. Rupanya wajah saya yang telah saya buat seramah mungkin dapat mencairkan keraguan dan ketakutannya. Pelan, sedikit demi sedikit anak itu mulai mengarahkan perahunya ke tempat saya berdiri dan akhirnya dia sampai di bibir sungai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Assamualaikum ....?! ucapku memberi salam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Wa alaikum salam!” jawab anak itu pendek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku mulai mengatur strategi pembicaraan agar anak itu merasa akrab denganku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Mari kita salaman dulu nak” kataku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Anak itu beranjak dari perahunya, menaiki tepian, mendekatiku dan menyambut uluran tanganku untuk bersalaman. Telapak tangan anak itu terasa keras dan kasar, menandakan dia sudah bekerja berat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Nama ibu ... Lyra Auradianty, ibu bekerja sebagai dokter di Puskesmas yang ada di desa ini” kataku memperkenalkan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Nama kamu siapa?” lanjutku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Annur Syifa, bu, biasa dipanggil Annur” anak itu menyebut namanya dengan wajah yang menunduk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Nama yang indah, panggilan pendeknya juga indah” aku memujinya. “Kamu sering mengitari sungai yang banyak pohon galam ini ya ? aku melanjutkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Iya bu dokter”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kamu tidak takut sendirian berkeliling begitu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Tidak bu dokter, Annur sudah biasa di lingkungan sekitar sini”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Sejak pagi sampai sore kamu berkeliling disini”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Iya bu dokter.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kamu tidak sekolah Annur?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Annur terdiam, wajahnya tetap tertunduk, tangannya meremas jari-jemarinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kamu tidak sekolah Annur?” Aku mengulangi pertanyaanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Iya bu dokter” suaranya pelan dan bergetar. “Dulu Annur sekolah sampai kelas dua SD tapi sekarang Annur sudah tidak sekolah lagi”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kenapa tidak sekolah lagi?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Karena Annur sekarang harus membantu ibu mencari kayu bakar untuk dijual, sekarang ibu sedang hamil jadi Annur sendiri saja mencari kayu bakar itu bu dokter.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bapak kamu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bapak baru enam bulan yang lalu meninggal bu dokter, kata ibu terserang penyakit malaria.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yaa ... Allah. Aku kaget bagaikan disambar petir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kepala Annur semakin tertunduk, wajahnya menatap tanah. Aku merendahkan tubuhku, kupandangi wajah Annur, terlihat matanya berkaca-kaca, hidungnya memerah, kemudian terlihat tetesan air mata di pipinya, wajahnya terlihat kuyu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku terdiam. Dengan sentuhan pelan kupegang kedua sisi bahu Annur. Aku ingin memberi kekuatan batin pada Annur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Maafkan bu dokter yah, bu dokter telah mengusik kesedihan Annur” ku ucapkan kata-kata dengan setengah berbisik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Annur hanya menggelengkan kepalanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Annur punya saudara kan .... ? kataku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Annur kembali menggelengkan kepalanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kalau tidak punya saudara berarti Annur anak satu-satunya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Annur menganggukkan kepalanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku mengambil sapu tangan dari dalam tasku, kuseka airmata Annur yang telah membasahi pipinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kamu anak hebat Annur, bu dokter bangga, kamu berjuang untuk membantu ibumu”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Annur kasihan dengan ibu, Annur sayang dengan ibu.” Kembali Annur berurai airmata, tangannya gemetar dan tubuhnya berguncang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kupeluk tubuh Annur seperti memeluk anak yang sudah kukenal lama. Kurasakan tubuhnya semakin berguncang. Aku ikut terlarut dalam kesedihan Annur. Kubiarkan Annur untuk beberapa saat mencurahkan segala kesedihannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Bu dokter ikut berdukacita atas meninggalnya bapakmu ....!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Terima kasih bu dokter”, suara Annur pelan hampir tak terdengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Annur ... bapakmu tentu sangat bahagia karena kamu mengasihani, menyayangi dan membantu ibumu, Annur anak yang baik, anak yang berbakti, anak yang penuh tanggung jawab, namun sebaliknya bapakmu akan sangat sedih apabila Annur terus bersedih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Iya bu dokter,” kata Annur sambil menganggukkan kepalanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tetesan airmata di pipi Annur sudah mulai mengering dan kesedihannya sudah mulai mereda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Annur ... bolehkan bu dokter ikut dengan Annur bertandang ke rumahmu hari ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Annur menganggukkan kepalanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Langit biru dengan sapuan sinar matahari berwarna ungu berbiaskan putih keperak-perakan. Di sana-sini gumpulan awan-awan putih berarak menghiasai angkasa bagaikan memayungi semua makhluk di bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perahu yang dikayuh Annur melintas dengan pelan dikerimbunan pepohonan kayu galam. Annur sangat lincah mengendalikan perahunya, menyusur sungai dengan tenang, berbelok-belok mengikuti alur yang berliku-liku, merambah tumbuhan eceng gondok, menembus semal-semak tumbuhan purun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku merenung ... inikah medan perjuangan Annur? Inikah hari-hari kehidupan Annur? Disinikah dia belajar tentang arti kehidupan? Di saat teman-teman seusianya bermain dengan ceria, di tempat sepi dan sunyi ini dia berkutat membanting tulang demi baktinya terhadap bundanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kupandangi Annur , tangannya yang kecil sibuk dengan kayuhnya, matanya tajam menatap alur sungai di depan. Bunyi gemeretuk kayuh yang beradu dengan dinding perahu berirama bagaikan iringan ketukan langkah-langkah kehidupan manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;***bersambung***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-7985572327760134973?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/7985572327760134973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=7985572327760134973&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/7985572327760134973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/7985572327760134973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/10/hati-yang-amanah-part-1_16.html' title='HATI YANG AMANAH (PART 1)'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-8274375262002572777</id><published>2009-10-04T06:30:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T06:33:40.313-07:00</updated><title type='text'>NAMAKU DAN NAMAMU, KENANGAN ITU (CERPEN)</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CHAIRIY%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Semuanya sudah berubah. Dulu, disini kebun singkong. Kebun singkong yang luas, dibawahnya menghampar tanaman ketela rambat dan tanaman kacang tanah. Karena itu warna hijaunya daun mendominasi sampai batas-batas pemandangan mata. Beberapa pohon manggis tumbuh menyeruak menempatkan dirinya lebih tinggi dari tanaman singkong. Sungguh menarik ketika di sapu dengan penglihatan mata, dedaunannya yang sedikit lebar dan membulat ditingkahi dengan buahnya yang juga bulat dengan warna merah kehitaman. Rumpunan pohon kelapa menjuai tinggi, berbatang kurus, pelepah dan daun yang tidak merimbun tetapi berbuah lebat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sekarang ... di lahan ini berdiri bangunan Sekolah Dasar lengkap dengan lapangan olahraga dan perumahan untuk guru-gurunya. Beberapa rumah-rumah yang semi permanen milik penduduk juga berdiri tidak berapa jauh dari kompleks sekolah telah menggantikan pondok-pondok beratap daum rumbia berdindingkan anyaman bambu berlantaikan belahan batang pinang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dari matahari terbit membentang persawahan yang dibuat berpetak-petak dengan galangan sebagai pembatas pada setiap petakan. Pada galangan itu tumbuh rerumputan &lt;i&gt;banta&lt;/i&gt; yang berwarna hijau, begitu elok bak pigura pembingkai foto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dulu ... ditengah kebun ketela ini melintas jalan setapak yang merupakan penghubung antara desa dengan persawahan, di tepinya sebelah selatan tumbuh pohon ketapang berdaun rindang dengan batangnya yang besar dan nampak gagah perkasa. Disini ... di tempat aku duduk sekarang dengan beralaskan daun pisang kering, jalan setapak itu masih ada, pohon ketapang itu pun masih ada, semakin bertambah tinggi, bertambah besar, bertambah rimbun dan ... ahh ... tulisan itu ... AGUNG PERKASA DAN RIANA INDAH DEWI, tulisan yang diberi tepi dengan gambar hati. Tulisan itu masih tergurat, melekat abadi pada batang pohon ketapang yang tentunya semakin menua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dua puluh lima tahun ... yah ... dua puluh lima tahun, bukan waktu yang pendek, sungguh, bukan yang waktu yang pendek. Namun ... tulisan itu, serasa baru kemaren, di sore indah yang sama, sekarang aku juga duduk dengan alas yang sama seperti dua puluh lima tahun yang lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pandangan mataku menyusuri jalan kecil nan setapak dari penghujung jalan masuk, pelan-pelan, ke tempat aku duduk, kupalingkan wajah mengikuti pandangan mataku hingga meluas ke hamparan sawah yang membentang dengan bulir-bulir padi yang menguning, daun-daunnya yang meruncing melambai-lambai, batangnya mengangguk-angguk tertiup angin kemarau ditingkahi dengan cericitnya burung-burung pipit bagaikan bercanda dengan rianya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kupalingkan kembali wajahku ke batang pohon ketapang, kutatap lekat tulisan dua puluh lima tahun yang lalu itu, hhmm ... aku mendesah dan tersenyum sendiri. Kemudian kutundukkan wajahku ke tanah, tanah dimana dulu kita duduk berdua, berdampingan, tanganku bertumpu pada lutut. Di tanah itu ada wajahmu, nampak jelas, jelas sekali, rambutmu yang panjang dan hitam diikat kepang dua menjulur di bahumu, gerak bibirmu berbicara dan tersenyum, gaya tanganmu memberi tekanan pada setiap ucapan yang kamu anggap penting, warna suaramu yang khas dimana aku dapat membedakannya dengan wanita yang lain. Kamu emang tukang bicara yang handal, isi pembicaraanmu memikat, gaya bicaramu sangat aku suka. Kamu juga orang yang suka gemas, sudah tak terhitung lagi tangan dan hidungku yang besar dan macung ini kau cubiti karena kamu kesal padaku. Yah ... kamu sering kesal denganku, itu karena aku hanya mengumbar senyum, melepaskan pandangan mataku dengan nanap ke dalam matamu tetapi mulutku hanya terdiam mendengarkan apa yang kamu bicarakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ayo dong kak Agung, tanggapi pembicaraanku, masa kakak cuma menjadi pendengar yang baik dan hanya menjadi tukang senyum. Adik sudah cape, gantian bicaranya kak ...?!” kata Riana pada suatu ketika sambil mencubit hidungku. Hidungku memang selalu menjadi sasaran cubitan Riana dalam kegemasan dan kekesalannya padaku. Katanya dia suka hidungku, haaa ....! Seperti biasanya, aku hanya mengumbar senyum dan tatapan mataku yang dalam ke matanya Atau, paling-paling aku membalas cubitannya dengan menekan-nekan alis matanya. Alis matanya yang tebal dan hitam bagaikan semut beriring kata peribahasa. Yah ... aku sangat suka dengan alis matamu ... haaa .... ! Kalau ku tekan-tekan alis matamu, kamu semakin keras mencubiti hidungku dan terus merajalela hingga ke kedua tanganku. Aku mengerang kesakitan, mengeliat-ngeliat menghindari cubitan demi cubitannmu. Kalau kamu sudah puas melampiaskan kegemasanmu padaku, namun masih menyimpan kekesalan di hatimu kepadaku, kamu akan bersungut-sungut, kau tundukkan wajahmu dengan mimik masam merengut, tanganmu mengais-gais di tanah dengan ranting kayu yang kecil atau tanganmu dengan gemasnya mencabuti rumput-rumput kecil yang ada di sekitarmu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Riana ... dengan seperti itu ... kamu lucu seperti anak kecil yang mainannya disimpan oleh saudaramu” kataku dalam hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku angkat wajahku, ku arahkan ke batang pohon ketapang, kutatap kembali dengan mataku, nanap dan lekat, tulisan yang ada namaku dan namamu. Aku bergumam hampir berbisik: “Riana lama sekali yah waktu memisahkan kita, namun rasanya kita disini baru kemaren, pohon ketapang itu masih ada Riana, begitu juga guratan tulisan namaku dan namamu masih, aku sekarang duduk di sini masih seperti kemaren itu juga. Kamu sekarang sukses Riana, ibu dari 2 orang puteri dan satu orang putera. Dua orang anakmu sudah hampir menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi, anakmu yang bungsu duduk di kelas III SMP. Kamu isteri dari seorang pengusaha yang sukses dan kamu sendiri adalah dosen yang dicintai oleh mahasiswa-mahasiswamu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kamu juga lelaki yang sukses kak Agung Perkasa, sesuai dengan namamu, hebat, cemerlang dan perkasa. Kau memang patut mendapat kesuksesan, kamu seorang pekerja yg tekun dan teliti, kamu pendiam tetapi kamu pekerja yang rajin, sangat sesuai dengan profesimu sebagai seorang engineer lulusan universitas yang ternama” suara Riana jelas terdengar di telingaku, ahh ... dimana dia ... apakah dia ada disini juga? Wow ... di tulisan namaku dan nama Riana, wajahnya muncul membayang disitu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Aku merasa tidak seperti itu, aku masih banyak kekurangannya dibandingkan dengan apa yang telah kamu miliki Riana .... !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Riana Indah Dewi mendekati aku, dia duduk, kami jadi berdempetan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Maaf ... mudah-mudahan dugaan adik salah. Perasaan kekurangan yang ada pada diri kak Agung barangkali kak Agung belum mempunyai pendamping sebagai teman hidup kak Agung yah ... Cari dong kak Agung ....?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Belum kak Agung dapatkan wanita seperti dik Riana ...! kataku pelan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Wuih ... tumben kak Agung sekarang jadi orang yang bisa membalas pembicaraan dik Riana ... hi hi hi. Ada perubahan nih pada diri kak Agung .... !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Yaahhh ... banyak yang sudah berubah, tapi ... (sambil telunjukku mengarah ke batang pohon ketapang) guratan tulisan namaku dan namaku di sana tetap, tidak berubah, abadi .... sebagaimana tidak berubahnya dan abadinya perasaan kak Agung kepada dik Riana ....”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(Ketika ceritera ini ditulis, Riana Indah Dewi meletakkan telunjuknya tegak lurus ke bibirnya ... “sstt, jangan dihabiskan menulisnya nanti kak Agung kehabisan bahan dan ide, nanti saja dilanjutkan menunggu komentar dari pembacanya apa tertarik untuk diteruskan atau sampai di sini saja”)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku mengangguk, tanda setuju dengan apa yang dikatakan Riana Indah Dewi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-8274375262002572777?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/8274375262002572777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=8274375262002572777&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/8274375262002572777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/8274375262002572777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/10/namaku-dan-namamu-kenangan-itu-cerpen.html' title='NAMAKU DAN NAMAMU, KENANGAN ITU (CERPEN)'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-5212906618372869795</id><published>2009-09-23T04:59:00.000-07:00</published><updated>2009-09-23T05:04:18.021-07:00</updated><title type='text'>AIRMATA UNTUK AYAH</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Penulis: Hairiyadi (Kelana Budaya)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;Ananda Yanuar yang ayah sayangi dan ayah cintai.&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Bagaimana kabar ananda Yanuar? Ayahanda berharap keadaan ananda Yanuar sehat wal a’afiat dan selalu mendoakan ananda Yanuar agar selalu mendapat kemajuan dalam studinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Keadaan ayahanda, ibunda serta keluarga lainnya di kampung saat ini sehat2 saja dan mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Ayahanda dapat memahami surat ananda Yanuar yang mengabarkan belum bisa pulang ke kampung berkumpul bersama keluarga pada lebaran tahun ini karena ananda Yanuar harus mengikuti ujian lisan untuk salah satu mata kuliah yang dilaksanakan dua hari sesudah lebaran, tentunya ananda Yanuar sudah harus mempersiapkan diri jauh hari sebelum pelaksanaan ujian lisan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Kerinduan ayahanda, ibunda dan seluruh keluarga pada ananda Yanuar, sebaliknya kerinduan ananda Yanuar pada ayahanda, ibunda, keluarga-keluarga yang lain serta kampung halaman, pasti ada. Namun karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuk mengobati kerinduan tersebut maka kita harus bersabar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Sampai disini dahulu surat ayahanda, jangan tinggalkan sholat dan jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengabul Segala Doa, kurangi kebiasaan merokoknya yah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Salam rindu dari ayahanda.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Sepucuk yang dibaca oleh Yanuar yang dikirimkan oleh ayahnya sebagai balasan atas surat yang dikirmkan Yanuar lima hari yang lalu. Yanuar lega karena keadaan ayah dan ibunya serta keluarganya yang lain di kampung sehat-sehat saja, selain itu Yanuar juga merasa lega karena ayah dan ibunya dapat memahami ketidak hadirannya di tengah-tengah keluarga pada lebaran tahun ini karena dia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian salah satu mata kuliah yang dilaksanakan dua hari sesudah lebaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Malam semakin larut, namun Yanuar tidak beranjak dari meja belajarnya, setumpuk buku referensi perkuliahan dan segepok catatan-catatan kuliah terhampar dihadapannya. Buku demi buku, catatan demi catatan kuliah dibacanya dengan sungguh-sungguh. Yanuar mengkonsentrasikan dirinya secara penuh terhadap apa yang dibacanya, dia betul-betul ingin lulus secara terhormat di hadapan dosen yang akan mengujinya pada ujian lisan nantinya. Aku harus lulus, aku harus memberikan bukti pada ayah dan ibuku bahwa ketidak hadiranku pada lebaran tahun ini di tengah-tengah keluarga memang membuahkan hasil yang memuaskan, ayah dan ibuku tentu akan bangga dan sangat gembira dengan kesungguhanku dalam studi, aku anak tunggal yang diharapkan keberhasilannya oleh mereka. Begitulah suara batin dan tekad Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Ketika ngantuk mulai menggoda, Yanuar segera ke belakang mengusapkan air dingin yang segar ke wajah dan kepalanya, kemudian dinyalakannya rokoknya, dihisapnya dengan dalam kemudian menghembuskan asapnya dengan santai dan pelan. Sesudahnya, Yanuar kembali larut dalam keseriusannya membaca bahan-bahan untuk ujian lisannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Tok tok tok tok tok&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Terdengar bunyi ketokan di pintu rumah kostnya. Yanuar terkejut, dia menoleh ke arah pintu. Siapa ya? Ada apa ya? Gumam Yanuar dengan pelan. Yanuar berdiri dari kursinya dan beranjak menuju pintu kemudian dia membukanya sedikit demi sedikit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Assamualaikum .....?! terdengar suara dari luar pintu. Wa alaikumsalam, Yanuar membalas ucapan salam dari luar pintu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Oouuu .... pak RT, silahkan masuk pak!” kata Yanuar setelah mengenali orang memberi salam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Ya, terimakasih! Ini nak Yanuar, ada keluarga dari nak Yanuar yang datang dari kampung ingin bertemu nak Yanuar”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Oooouuu .... begitu! Silahkan saja! Siapa ya pak?” sembari mata Yanuar mencoba mengenali wajah dua orang laki-laki yang berdiri di belakang Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Wah tumben, om Hasan dan itu om Murdi ya?”&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;suara Yanuar terlontar dengan kagetnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Mari, silahkan masuk om”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Begini, sebaiknya kita ngobrol di rumah saya saja” kata pak RT menimpali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Boleh, boleh” sahut Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar, om Hasan dan om Murdi mengikuti ajakan pak RT untuk ngobrol di rumahnya. Setelah mereka duduk di ruang tamu, dengan waktu yang tidak begitu lama anak wanita pak RT keluar menyajikan teh manis dan penganan kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Sesaat suasana hening.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 2 malam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar memandang wajah pak RT, wajah om Hasan dan wajah om Murdi, sepertinya wajah-wajah mereka dibuat dengan rona wajah setenang mungkin. Mereka semua diam, seakan mulut mereka semuanya terkunci.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Ada apa ini? Mengapa om Hasan dan om Murdi yang tidak pernah berkunjung ke tempatku kuliah dengan tiba-tiba, pada malam yang begini larut datang ke tempatku. Begitu juga dengan pak RT yang tidak pernah mengunjungiku koq datang bersamaan dengan om-omku. Mengapa untuk mengobrol harus ke rumah pak RT? Pasti ada sesuatu yang penting, tetapi apa ya? Mengapa saat ini mereka pada diam membisu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Benak Yanuar dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang keluar dari suara hatinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Begini Yanuar” pak RT memulai membuka obrolan. “Kedua om mu ini datang ke rumahku menanyakan tempat kos kamu dan sekaligus mengantarkan mereka ke sini, mereka membawa kabar untuk kamu”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Silahkan pak berbicara dengan nak Yuniar” pak RT mempersilahkan kedua om Yanuar untuk menyampaikan berita dari kampung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar menghadapkan wajahnya ke arah kedua omnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Yanuar .... bapakmu sekarang sedang sakit” terdengar suara om Hasan dengan lirih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Bapak sedang sakit? Ah .... masak om, kan tadi saya baru saja membaca suratnya yang mengabarkan bahwa bapak dan ibu serta keluarga lainnya dalam keadaan sehat wal a’fiat” suara Yanuar bernada kaget.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Iya .... benar Yanuar, sakitnya tadi pagi, mendadak” sela om Murdi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Lalu ..... bagaimana keadaan sakitnya om .... parah ya”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Sakit bapakmu tidak seberapa Yanuar, tetapi beliau minta untuk bertemu kamu, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikannya kepadamu, jadi kamu harus pulang ke kampung bersama kami” suara om Murdi masih terdengar lirih sambil matanya menatap Yanuar dengan sayu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Tapi ..... Yanuar dua hari di depan akan menghadapi ujian lisan dan sekarang sedang belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian lisan tersebut” sahut Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Iya .... tadi ibumu juga menyampaikan hal yang sama kepada kami, tapi bapakmu tetap minta bertemu dengan Yanuar, jadi sekarang kita pulang saja” kata om Hasan bernada mendesak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar tertegun sesaat, seperti ada keraguan dalam dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang juga om” kata Yanuar tegas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Eh .... kamu kan masih pakai sarung dan itu .... bajumu, baju kaos oblong, ganti pakaian dulu dan bawa beberapa lembar pakaian untuk dipakai di kampung nanti”, pak RT ikut nimbrung pembicaraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Tidak usah pak RT, kan katanya om sakitnya bapak saya tidak seberapa, jadi saya tidak berlama-lama di kampung, mungkin siang jam 2 saya harus kembali kesini, tidak usah menginap”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Benar .... kata pak RT itu, ganti pakaian dan bawa beberapa lembar untuk ganti pakaianmu nanti di kampung” begitu kata om Hasan kepada Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar mengikuti ucapan para orang tua yang berada di situ. Dengan tergesa-gesa Yanuar berganti pakaian dan mengambil beberapa potong pakaian lainnya, lalu dengan seadanya Yanuar memasukkan ke dalam tas punggungnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Om .... tolong temani Yanuar untuk menemui bapak dosen yang nanti akan menguji Yanuar, memohon penundaan ujian lisannya karena Yanuar akan pulang kampung menjenguk bapak yang sedang sakit” pinta Yanuar kepada om-om nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Oh iya .... om akan menemani kamu menemui dosen dimaksud” kata om Hasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar dan kedua om nya berpamitan kepada pak RT untuk segera berangkat malam itu juga ke kampung. Yanuar bersalaman dan mencium tangan pak RT. Yanuar meminta didoakan agar selamat sampai di kampung dan meminta didoakan juga agar&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sakitn bapakya segera sembuh. Pak RT menganggukkan kepalanya dan melepaskan kepergian Yanuar bersama om nya sampai di depan pintu pagar halaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Baik-baik di kampung dan yang sabar ya nak Yanuar” suara pak RT terdengar berat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Iya pak, makasih pak” jawab Yanuar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Eh .... kamu duluan sedikit ya Yanuar, om ada yang disampaikan dulu kepada pak RT” suara om Hasan terdengar dengan tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Eh .... iya om”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Dari kejauhan Yanuar memperhatikan gerak-gerik om Hasan dan pak RT sepertinya berbicara sangat serius. Kadang-kadang pak RT menganggukkan kepalanya dan melihat ke arah Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Ada apa ya? Apa sih yang dibicarakan mereka? Mengapa pak RT kadang-kadang memandang ke arahku sambil menganggukkan kepala? Kembali pertanyaan-pertanyaan suara batin Yanuar memenuhi benaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Setelah selesai berbicara dengan pak RT, om Hasan segera menyusul Yanuar dan om Murdi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Mereka selanjutnya bertiga menemui dosen Yanuar yang akan melaksanakan ujian lisan. Sesampainya di rumah dosennya, Yanuar menyampaikan permohonan penundaan untuk ujian lisannya. Dosennya dapat mengerti dan memberikan kesempatan kepada Yanuar untuk mengikuti ujian lisan susulan nantinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Seperti juga dengan pak RT, om Hasan menyuruh Yanuar dan om Murdi berjalan duluan di depan. Sedangkan om Hasan berbicara berdua dengan dosennya Yanuar dengan gerak-gerik yang sama seperti ketika om Hasan berbicara dengan pak RT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Lagi-lagi, pertanyaan demi pertanyaan memenuhi rongga kepala Yanuar. Aduuuh, ada apa ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Bersambung ......&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Mobil sedan Toyota Corolla DX melaju menembus kegelapan malam. Udara kemarau terasa begitu dingin. Jalanan lengang karena tidak begitu banyak kenderaan yang melintas. Tiga orang penumpang dan satu pengemudinya saling berdiam diri seakan terlarut dengan pikirannya masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Yanuar .... kamu tidur saja, om lihat Yanuar sangat lelah” suara om Murdi seperti berbisik ke arah Yanuar, memecah kebisuan orang-orang yang berada dalam mobil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Makasih om, Yanuar belum mengantuk, kalau om mau tidur saja” jawab Yanuar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Ndak, om belum mengantuk juga, eh ..... bapakmu sering berpesan pada om agar Yanuar tekun dalam studi dan dia juga sering berceritera pada om bahwa dia sangat bangga dengan Yanuar. Dia menceriterakan bahwa Yanuar selalu menjadi juara kelas sejak dari SD sampai dengan SMA dan ketika kuliah sekarang Yanuar juga adalah salah satu dari mahasiswa yang mendapat beasiswa karena prestasimu yang gemilang di bangku perguruan tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Bapak berceritera begitu sama om Murdi” kata Yanuar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Iya, begitu bapakmu berceritera sama om Murdi”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Ada terbersit rasa gembira yang luar biasa di dalam hati Yanuar karena dia telah bisa memberikan rasa bangga pada orang tuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Namun demikian, bapakmu juga berpesan, Yanuar tidak hanya memiliki prestasi belajar yang gemilang, harus dibarengi juga dengan kemampuan memiliki kesabaran dan ketenangan yang tangguh, tidak egois, tidak sombong, tidak su’uzon pada orang lain, mampu menghargai kemampuan dan prestasi orang lain, punya tutur kata dan sikap yang santun”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Iya om, Yanuar akan selalu mengingat pesan bapak itu dan insya Allah akan mewujudkannya dalam prikehidupan Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Betul Yanuar, kamu jangan seperti om yang sekolahnya tidak pernah selesai-selesai, ya, jadi beginilah jadinya ........ ?!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Walah, om koq begitu, om ini kan pengusaha yang sukses, om terlampau merendah membuat Yanuar jadi malu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“He he heh heh”, om Murdi tertawa terkekeh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar mencoba melihat ke kursi depan yang menjadi tempat duduknya om Hasan. Wow ... ternyata om Hasan tertidur dengan lelapnya di samping mas pengemudi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Perjalanan Yanuar yang memakan waktu kurang lebih lima jam sudah hampir sampai di rumahnya. Entah mengapa om Murdi yang duduk di samping Yanuar semakin merapatkan posisi duduknya sehingga berdempetan dengan Yanuar, sambil tangannya memegang bahu Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Yanuar, kamu seorang lelaki, om yakin selain memiliki prestasi belajar yang cemerlang kamu juga seorang lelaki yang memiliki ketenangan yang luar biasa dan kesabaran yang tangguh” om Murdi berbisik di telinga Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar diam, matanya lekat menatap jauh ke depan di keremangan subuh seolah-olah ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar bingung bercampur kaget, koq rumahnya sangat terang benderang dengan cahaya lampu, orang-orang kampung koq pada banyak berkumpul di depan rumahnya. Yanuar gelisah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Melihat Yanuar yang gelisah, om Murdi semakin erat memegang bahu Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Ketika mobil berhenti tepat di depan rumah, Yanuar yang tadinya gelisah berubah, seluruh tubuhnya bergetar, bibirnya kelu dan kaku, pikirannya kacau. Bendera hijau yang tertancap di halaman rumah bertuliskan: Inna Lillahi wa inna ilaihi rojiun, membuat Yanuar sudah mendapatkan jawaban segala pertanyaan-pertanyaan yang sejak keberangkatan selalu memenuhi benaknya. Yaa Allah, bapakku meninggal, bapakku sekarang meninggal, bapakku sekarang meninggal. Itulah jawabannya yang terus bergaung di gendang telinganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar merasakan seluruh tubuhnya lunglai, tulang-belulangnya tidak mampu lagi menopang tubuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Bapakku sekarang meninggal, hiks ... hiks ... hiks” gumam lirih dan tangis kecil Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Seketika segalanya menjadi kabur dalam pandangan Yanuar. Yanuar tidak bisa mengkonsentrasikan dirinya siapa saja orang-orang yang berkumpul di depan rumahnya. Om Hasan dan om Murdi menjadi kabur dilihatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Tenang dan yang sabar ya!” suara om Hasan mencoba untuk menguatkan Yanuar yang oleng lahir dan batinnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar diam membisu dan masih terduduk mematung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Ayo Yanuar, kita turun” kata om Hasan sambil membuka pintu mobil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar masih tetap diam mematung, tubuhnya sudah tidak punya tenaga lagi, perasaannya mengharu-biru, dadanya serasa pecah, pikirannya kacau-balau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Om Murdi dan om Hasan memapah Yanuar turun dari mobil dan menggiringnya memasuki rumah. Ibunya Yanuar meraung menangis, menubruk dan memeluk Yanuar dan ikut menggiring Yanuar menuju kamar ayahnya yang sekarang terbaring, membujur dan kaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar tersungkur di samping tubuh ayahnya dan wajah tertelengkup dengan tangan memegangi pipi ayahnya. Airmatanya yang tadi sudah mulai menggenang kini tertumpah, terburai membasahi seluruh wajahnya. Tubuhnya bergetar keras. Yanuar sudah lupa dengan keadaan di sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Suasana seisi rumah hening, yang terdengar hanya suara tangisan pilu Yanuar dan isak tangis para keluarga. Orang-orang yang berada di sekitarnya membiarkan Yanuar menangis untuk memberikan kesempatan kepada Yanuar menumpahkan semua kesedihannya di samping tubuh ayahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Ayahku, ayahku, ayahku ..... huk huk huk huk, ayah bilang ayah sehat ..... koq ayah sekarang pergi meninggalkan Yanuar, Yanuar butuh ayah, Yanuar pengen berceritera tentang kuliah Yanuar kepada ayah, ayah kan seorang pendengar yang baik, ya yah ya, Yanuar belajar untuk kebanggaan ayah, tidak ada motivasi yang lain, dari sejak remaja sampai sampai sekarang jadi mahasiswa, Yanuar tidak ingin membagi cinta selain untuk ayah dan ibu, benar yah, huk huk huk ..... hiks hiks hiks” suara dan tangis Yanuar terdengar lirih, sungguh memilukan, sepertinya Yanuar berbicara dengan ayahnya masih hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Yanuar, sekarang kamu bacakan surah Yasiin untuk ayahmu” kata ibunya Yanuar dengan sangat pelan dan lembut. Kelembutan seorang ibu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Iya bu, tapi mata Yanuar tidak bisa melihat rangkaian huruf-hurufnya bu .. “ kata Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Ibu akan membimbing Yanuar untuk membacanya, Yanuar ikuti saja ya .... bacaan ibu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Yaa ... buuu ..... hiks hiks hiks”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Yasiin, yasiiin, yasiin, wal qur’anil hakim, innaka la minal mursalin .....” ibu Yanuar membimbing Yanuar membacakan surah Yasiin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Yanuar mengikuti apa yang dibacakan ibunya. Perasaan Yanuar melayang. Jiwanya berasa keluar dari tubuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Kedinginan subuh menjelang pagi penuh keheningan. Yanuar terlarut dalam pembacaan surah Yasiin untuk ayahnya. Kokok ayam mulai terdengar. Para kerabat dan tetangga sudah memulai kesibukannya mempersiapkan pemakaman ayah Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Pada pukul 2 siang jenazah ayah Yanuar di masukkan ke liang lahat. Ketika jenazah sudah dibaringkan di liang lahat, Yanuar yang memegang posisi kepala ayahnya dan sebagai ucapan perpisahan dia membisikkan kata-kata: ayahku .... ayah istirahat yang yang ya ayah, doa akan selalu Yanuar kirimkan untuk ayah, Yanuar akan tetap menjadi kebanggaan ayah, Yanuar nantinya akan membawa ijazah hasil belajar Yanuar dan dan juga Yanuar akan bawakan calon mantu untuk meminta persetujuan ayah, Allahu Akbar ... ya Allah .... berikanlah dan tempatkanlah ayahku ditempat yang layak di sisiMu. Amin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Enam tahun kemudian di pusara ayah Yanuar duduk dengan khidmat sepasang orang muda. Seorang lelaki berkulit sawo matang dengan rambut keriting berombak dan seorang wanita dengan kulit putih bersih kekuning-kuningan dengan rambut sebatas bahu berwarna kuning kemarahan. Sepasang orang muda itu berdoa dengan khidmat di atas pusara ayah Yanuar. Selesai berdoa sepasang orang muda tersebut masih tetap duduk disana dan nampak mulut sang lelaki komat-kamit seperti orang yang berbicara:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Ayah ..... ini untuk yang ke sekian kali Yanuar datang di pusara ayah. Sekarang berkat kasih sayang ayah, Yanuar bawakan sesuatu yang akan menjadi kebanggaan ayah, ini ayahku (sambil tangan sang lelaki memperlihatkan selembar kertas) Yanuar&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;telah memperoleh ijazah sebagai seorang sarjana teknik mesin, dan ini (tangan sang lelaki menunjuk wanita yang berada di sebelahnya) Yanuar bawakan seorang wanita yang namanya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Lyra Auradianty yang bersedia menjadi mantu ayah, ayah bangga kan bahwa Yanuar sudah berhasil menjadi seorang sarjana teknik mesin, dan ayah setuju kan Lyra Auradianty ini menjadi mantu ayah, setuju kan yah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Sesaat suasana menjadi begitu hening, angin semilir bertiup dengan lembut, daun-daun kering gugur beterbangan di atas lokasi pekuburan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Tiba-tiba sang wanita terpekik, rupanya sang lelaki muda di sampingnya jatuh tertelungkup di pangkuannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Keesokan harinya di samping pusara ayah Yanuar telah terdapat sebuah gundukan tanah baru dan banyak orang-orang berkumpul di sana termasuk Lyra Auradianty. Seorang lelaki nampak berdiri di tengah orang-orang yang berkumpul berkeliling, dia adalah om Murdi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Inna lillahi wan ilaihi ro’jiun .... pada hari ini telah kembali ke hadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, anak, adik, keponakan, sahabat kami yang tercinta Yanuar bin Andre Iskandar. Atas nama keluarga, kami memohon pintu kemaafan dan keampunan atas segala kesalahan dan kehilafan yang pernah dilakukan oleh almarhum semasa hidup. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh handai taulan yang telah memberikan bantuan sehingga dapat terlaksanakanya pemakaman anak, adik, keponakan dan sahabat kami yang tercinta. Pada kesempatan ini sudilah kiranya para handai taulan memberikan doa semoga arwah almarhum Yanuar bin Andre Iskandar diterima oleh Allah SWT sesuai dengan amal perbuatannya di dunia dan juga doakanlah agar kami-kami sebagai keluarga yang ditinggalkan sabar dan tabah menghadapi cobaan ini. Terima kasih, wassalamualaikum warramatullahi wabarakatuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Ketika orang-orang sudah pada beranjak meninggalkan tempat pemakaman, om Murdi dan Lyra Auradianty masih berdiri di sana. Dengan langkah perlahan Lyra Auradianty mendekati nisan yang bertuliskan Yanuar bin Andre Iskandar, dia bersimpuh dan tangannya mengusap nisan yang bertuliskan Yanuar bin Andre Iskandar tersebut dengan lembut. Meluncur dengan sendu kata-kata:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Abang Yanuar yang kucintai dan kusayangi ..... Lyra akan menjalani kehidupan di hari-hari mendatang tanpa abang Yanuar, begitu singkat perkenalan dan pertemuan kita, benang yang kita rajut belumlah sempat menjadi kain, bunga indah yang kuncup belum sempat menjadi mekar, abang Yanuar .... dengan perkenalan dan pertemuan yang singkat, abang Yuniar telah memberikan pelajaran tentang apa arti cinta dan perjuangan hidup. Terima kasih ya abang Yanuar. Beristirahat dalam damai ya abang Yanuar. Tetes demi tetes, air mata Lyra berkilat bening membasahi pipinya yang putih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Lembayung petang mulai memancarkan cahaya rona merahnya di ufuk barat pertanda malam akan segera menutup siang. Kepak-kepak sayap burung bangau putih yang berayun syahdu yang terbang melintas di atas angkasa pulang menuju sarangnya. Desiran sang bayu menimbulkan bunyi gemerisik dedaunan bagaikan melodi yang mengalunkan nada-nada sendu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Om Murdi dan Lyra Auradianty berjalan beriringan meninggalkan pusara Yanuar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;******** tamat ************&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-5212906618372869795?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/5212906618372869795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=5212906618372869795&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5212906618372869795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5212906618372869795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/09/airmata-untuk-ayah.html' title='AIRMATA UNTUK AYAH'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-5202729124924645591</id><published>2009-06-15T15:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-15T15:15:17.792-07:00</updated><title type='text'>Kesetiaan Pada Tradisi</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 15px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs113.snc1/4684_1070283006494_1508696692_30186564_1505425_n.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kulitmu yang putih bersih&lt;/div&gt;Tatap matamu yg cemerlang&lt;br /&gt;Senyummu yang selalu mengembang&lt;br /&gt;Dalam tuanya usiamu masih tersisa kecantikan mudamu&lt;br /&gt;Kupingmu yang panjang terpelihara&lt;br /&gt;Tato di tanganmu yang terlukis abadi&lt;br /&gt;Engkaulah wanita Dayak Kenyah yang setia pada tradisi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-5202729124924645591?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/5202729124924645591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=5202729124924645591&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5202729124924645591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5202729124924645591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/06/kesetiaan-pada-tradisi.html' title='Kesetiaan Pada Tradisi'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-6453784777949729084</id><published>2009-06-14T06:03:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T06:19:15.198-07:00</updated><title type='text'>CERPEN: CINTAMU DERITAKU (3)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Hairiyadi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Perkenalan Bima dengan Selly diawali ketika mereka sama-sama mengikuti malam acara pisah-sambut antara siswa yang telah menamatkan pendidikannya di SMP dan menyambut siswa yang baru memasuki SMP itu. Bima adalah siswa kelas II dan baru naik ke kelas III, sedangkan Selly adalah siswi yang baru masuk SMP. Pada acara pisah sambut tersebut, Bima terlambat datang sehingga ketika dia memasuki ruangan dimana acara pisah-sambut dilaksanakan menjadi kebingungan mencari tempat duduk yang masih kosong. Di tengah kebingungannya, seorang siswi menawarkan bangku yang masih kosong kepada Bima, dan bangku yang masih kosong itu tepat berada di sebelah tempat duduk sang siswi. Mereka saling memperkenalkan diri. Dari perkenalan itu, Bima mengetahui bahwa siswi yang menawarkan tempat duduk itu bernama Selly, dan dia adalah salah seorang siswi yang baru masuk di sekolah itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;Perkenalan Bima dengan Selly berkembang menjadi sebuah persahabatan yang akrab. Selly sering meminjam buku kepada Bima dan juga sering meminta bantuan Bima untuk membantunya mengerjakan tugas-tugas sekolah yang dianggap Selly sulit. Dari persahabatan yang akrab mulai tersemai benih-benih simpati di hati mereka masing-masing yang pada gilirannya berujung pada tumbuhnya jalinan percintaan.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada saat istirahat sekolah mereka sering saling bertemu di cafetaria sekolah sambil berbincang-bincang masalah pelajaran. Begitu pun pada malam minggu, kadang-kadang Bima mengunjungi Selly di rumahnya. Mereka berbincang masalah keluarga masing-masing. Ternyata Selly adalah seorang anak yatim, bapaknya telah meninggal dunia karena serangan jantung dan dia merupakan anak tunggal dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bagi Bima, Selly merupakan cinta pertamanya, begitu pun juga bagi Selly, Bima merupakan cinta pertamanya. Mereka sama-sama sangat saling mencintai dan sama-sama sangat saling menyayangi. Suka sama-sama mereka nikmati, duka sama-sama saling berbagi. Bagi Bima, Selly merupakan calon isteri yang paling setia dan paling mengerti dirinya, begitu pun juga bagi Selly, Bima merupakan lelaki yang penyayang dan bertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hari-hari selalu mereka lalui dengan segala keindahannya, membuat iri orang-orang yang melihatnya. Kedua belah pihak keluarga mereka sudah saling merestui hubungan mereka. Hubungan percintaan mereka terus berlanjut hingga mereka meneruskan pendidikan ke SMA.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketika Bima menamatkan pendidikan SMA dan berencana untuk meneruskan masuk perguruan tinggi, Bima mengajak Selly untuk berbicara dari hati ke hati.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Selly, abang berencana untuk meneruskan pendidikan dengan masuk perguruan tinggi, bagaimana pendapatmu Selly?”, Bima memulai pembicaraannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Oh, ya, abang Bima berencana untuk meneruskan pendidikan dengan masuk perguruan tinggi, Selly sangat senang sekali bang Bima, karena Selly yakin rencana abang itu tentunya untuk masa depan kita kan bang?”, jawab Selly sambil memandang mata Bima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Tentu Selly, semua ini abang Bima lakukan dalam rangka tahapan-tahapan untuk membangun masa depan kita berdua”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Kemana rencana bang Bima meneruskan pendidikannya?”, tanya Selly.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Abang berencana akan pergi ke Yogyakarta dan mencoba memasuki salah satu perguruan tinggi di sana”, jawab Bima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Kalau bang Bima nantinya sudah betul-betul masuk perguruan tinggi maka abang harus benar-benar serius menuntut ilmu dan yang paling pentinglagi abang Bima jangan sampai melupakan Selly yang tertinggal di sini, ya kan bang”, suara Selly seperti merajuk sambil memegang tangan Bima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Pasti Selly, abang akan betul-betul serius menuntut ilmu demi masa depan kita dan bang Bima pasti tidak akan melupakan Selly”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Kapan bang Bima berangkat?”, tanya Selly.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Sekitar tiga hari lagi”, jawab Bima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hari keberangkatan Bima pun tiba. Selly ikut mengantar Bima sampai ke bandara. Ketika panggilan yang memberitahu agar penumpang segera memasuki ruang tunggu keberangkatan, Selly terus memegang tangan Bima dan mengikutinya sampai pintu masuk ruang tunggu keberangkatan. Sebelum masuk ke ruang tunggu pemberangkatan, Bima membalikkan badannya dan memegang bahu Selly.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Selly, bang Bima mohon pamit, doakan agar abang berhasil dalam studi demi masa depan kita, Selly juga harus rajin belajar, jaga diri Selly baik-baik ya”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Ya, bang”, suara Selly bergetar, “Selly doakan semoga abang berhasil dalam studi, tabah dalam menghadapi segala cobaan, Selly berharap abang selalu ingat dengan Selly, betapa sunyi dan sepinya Selly di sini tanpa keberadaan abang di samping Selly”, suara Selly tambah bergetar, bulir-bulir airmatanya mengenang dan membasahi pipinya. Selly merapatkan wajahnya ke dada Bima. Dengan perasaan haru Bima membelai rambut Selly.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Selly, percayalah abang tidak akan melupakan Selly, Selly merupakan cinta pertama bang Bima yang sampai nanti tidak akan memudar walau apa pun perintangnya, abang juga akan merasa sunyi dan sepi karena tidak adanya Selly di samping abang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Selly terus menangis dan memeluk erat tubuh Bima, seakan-akan tak mau melepaskannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Bang Bima, sering-seringlah kirim kabar untuk Selly, biarlah kabar yang dikirimkan abang untuk Selly menjadi pengobat kerinduan Selly kepada abang di kejauhan yang sedang menuntut ilmu”, suara Selly diucapkan dengan terisak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Ya Selly, Selly juga harus sering berkirim kabar untuk abang”, suara Bima tak kalah lirihnya dengan suara Selly sambil tangannya terus membelai rambut Selly.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Selly, abang Bima sekarang harus ke ruang masuk tunggu”, kata Bima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Selly melepaskan pelukannya dari badan Bima. Bima mengambi sapu tangannya dan menyeka airmata yang membasahi pipi Selly kemudian mencium dahi Selly, Selly membalasnya dengan mencium tangan Bima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Selamat tinggal Selly”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Selamat jalan bang Bima”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Setelah Bima masuk ke ruang tunggu pemberangkatan, Selly bergegas menaiki tangga menuju ke anjungan tempat pengunjung melepaskan keberangkatan penumpang pesawat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Terlihat oleh Selly, Bima memasuki bus pengangkut penumpang yang membawanya ke pesawat yang sedang menunggu. Bus pengangkut pun berangkat. Satu demi satu penumpang turun dari bus dan memasuki pesawat. Bima turun dari bus dan dia berdiri di tangga naik menuju pesawat, Bima membalikkan badan dan melambaikan tangannya untuk Selly, sesekali telapak tangannya di taruh dibibirnya dan kemudian dilambaikan lagi untuk Selly. Selly juga membalas lambaian selamat tinggal dan lambaian sayang dari Bima.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ada rasa tersegak di kerongkongan Selly, dadanya terasa sesak menyaksikan kepergian Bima. Airmata kembali menetes dan membasahi pipi Selly.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bunyi suara pesawat meraung bagaikan raungan tangis Selly, perlahan kemudian tambah cepat akhirnya pesawat yang ditumpangi Bima membumbung ke angkasa. Selly terus melambaikan tangannya sampai pesawat hilang dari pandangan matanya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Air, air”, terdengar suara pelan dan lirih. Bima tersentak dari pikirannya yang sedang melayang-layang ke masa percintaan dan perpisahannya dengan Selly.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Apa yang terjadi setelah Selly mulai sadar, tunggu ceritera lanjutannya&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-6453784777949729084?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/6453784777949729084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=6453784777949729084&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/6453784777949729084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/6453784777949729084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/06/cerpn-cintamu-deritaku-3.html' title='CERPEN: CINTAMU DERITAKU (3)'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-8816782783662984470</id><published>2009-06-12T17:46:00.000-07:00</published><updated>2009-06-12T17:55:30.548-07:00</updated><title type='text'>Tarian Dayak Kenyah Nan Elok dan Eksotis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SjL3_MosShI/AAAAAAAAAI0/25PhA_wLZzw/s1600-h/IMG_0580.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SjL3_MosShI/AAAAAAAAAI0/25PhA_wLZzw/s400/IMG_0580.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5346608372737919506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Hairiyadi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Denting dawai kecapi mengalun syahdu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Langkah kaki dan gemulai tangan berayun indah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Senyum di bibir mengundang rindu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Tatap mata memancarkan sinar persahabatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Jiwa melayang terbawa si burung enggang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Sungguh indah tarianmu oh juwitaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Remaja Dayak Kenyah yang ramah dan simpatik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span lang="IN"   style="font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN;mso-fareast-language:EN-GB;mso-bidi-language: AR-SAfont-family:&amp;quot;;font-size:12.0pt;"&gt;Kapan kita jumpa lagi di suasana nan sendu dan merayu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-8816782783662984470?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/8816782783662984470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=8816782783662984470&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/8816782783662984470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/8816782783662984470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/06/tarian-dayak-kenyah-nan-elok-dan.html' title='Tarian Dayak Kenyah Nan Elok dan Eksotis'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SjL3_MosShI/AAAAAAAAAI0/25PhA_wLZzw/s72-c/IMG_0580.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-5161706763363697312</id><published>2009-06-12T17:16:00.000-07:00</published><updated>2009-06-12T17:29:34.108-07:00</updated><title type='text'>Untukmu Pampang Desa Budaya Komunitas Dayak Kenyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SjLxvIqMqKI/AAAAAAAAAIs/FX-_zKwcVa0/s1600-h/IMG_0577.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SjLxvIqMqKI/AAAAAAAAAIs/FX-_zKwcVa0/s320/IMG_0577.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5346601499722819746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Hairiyadi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Di lembah bukit yang berselimutkan hutan yang indah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Di dalam pelukan tiupan semilir angin yang mendayu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Rumah-rumah tinggal berhiaskan ukiran dan ornamen budaya Dayak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Tegur sapa nan ramah dan simpatik menggoda hati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Alunan musik yang dipetik bagaikan rintihan yang terasa mengiris kalbu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Oh, Pampang desa budaya Dayak Kenyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Kau sambut kami dalam nuansa yang asri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Daku larut dalam buaian keindahanmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-5161706763363697312?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/5161706763363697312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=5161706763363697312&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5161706763363697312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5161706763363697312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/06/untukku-pampang-desa-budaya-komunitas.html' title='Untukmu Pampang Desa Budaya Komunitas Dayak Kenyah'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SjLxvIqMqKI/AAAAAAAAAIs/FX-_zKwcVa0/s72-c/IMG_0577.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-6546049529572065149</id><published>2009-06-05T19:41:00.000-07:00</published><updated>2009-06-05T19:43:44.155-07:00</updated><title type='text'>CERPEN: CINTAMU DERITAKU (2)</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Hairiyadi&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Sedih, khawatir, haru, perasaan bersalah, campur aduk, berkecamuk dalam diri Bima. Mengapa kecelakaan harus menimpa Selly? Apa yang terjadi pada Selly selama ini? Apakah aku juga merupakan salah satu penyebab terjadinya kecelakaan yang menimpa Selly? Pertanyaan-pertanyaan itu mendadak muncul dan terus-menerus secara beruntun memenuhi benak Bima. Sejak Bima meneruskan pendidikannya di kota Yogjakarta komunikasi dengan Selly yang tinggal di kota Kandangan terputus. Perpisahan yang panjang membuat mereka tidak mengetahui apa saja yang terjadi pada diri mereka masing-masing. Bima dan Selly menjalin hubungan cinta ketika Bima duduk di kelas III, sedangkan Selly duduk di kelas I pada sebuah SMP yang sama di kota Kandangan. Hubungan cinta yang penuh dengan rintangan-rintangan dan cobaan-cobaan. Banyak suka dan duka yang dialami ketika mereka menjalin hubungan cintanya. Ternyata pertemuan kembali yang tak dinyana justru pada saat Selly mendapat kecelakaan.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;“Maafkan Bima bu”, mata Bima menatap mata ibunya Selly, mata yang terus mengalirkan airmata. Nampak mata Bima juga memerah ikut larut dalam suasana keharuan. “Maafkan Bima bu, Bima telah banyak berbuat salah dan menyakiti hati ibu serta Selly, Bima bersalah, berdosa bu”, kata-kata Bima diucapkan dengan terbata-bata. Sambil melepaskan pelukannya pada Bima, mata ibu Selly tertuju pada seorang perawat wanita yang ke luar dari dalam ruang Unit Gawat Darurat. “Nak Bima, itu ada perawat yang ke luar dari ruangan! Tolong nak Bima tanyakan bagaimana keadaam Selly”, kata ibunya Selly. Bima menengok ke arah perawat yang dimaksudkan oleh ibunya Selly. Bima menghampiri perawat tersebut dan langsung menanyakan keadaan Selly. “Bagaimana Selly bu?”, tanya Bima. “Bapak ini keluarganya yang masuk UGD karena korban kecelakaan itu ya?”, tanya sang perawat. “Betul”, jawab Bima. “Saat ini korban masih belum siuman dan masih dalam pemeriksaan dokter, harap bersabar sambil terus berdoa untuk si korban”, kata sang perawat seraya mohon pamit meninggalkan Bima. “Gimana keadaan Selly, nak Bima”, tanya ibunya Selly sambil mendekati Bima. “Masih dalam pemeriksaan dokter, bu”, kata Bima. Tangan Bima memegang tangan ibunya Selly dan menuntunnya kembali untuk duduk di bangku ruang tunggu. Ibunya Selly, Nia dan Bima, terdiam, mata mereka terus menatap ke arah dalam ruangan ruangan Unit Gawat Darurat di mana Selly sedang mendapatkan perawatan dari dokter. Suasana hening. Mereka merasakan seolah-olah waktu berjalan dengan sangat lambat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;Terlihat pintu pintu ruang Unit Gawat Darurat terbuka, dengan perlahan, dan sebuah kereta dorong nampak dikeluarkan dari dalam ruangan dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;didorong oleh beberapa perawat. Ibunya Selly, Nia dan Bima langsung berdiri dan melangkah dengan cepat menghampiri orang yang terbaring di atas kereta dorong tersebut. Memang, Selly yang berada di atas kereta dorong itu. Kepalanya penuh dengan balutan perban dan di sampingnya tergantung botol cairan infus dimana selangnya terhubung dengan tangan Selly. Bima langsung ikut mendorong kereta, dia berada pada posisi samping kepala Selly. Sambil mendorong sesekali Bima memandang wajah Selly. Mata Selly masih terpejam, dia masih dalam keadaan pingsan. Ibunya Selly dan Nia menangis berjalan di belakang mengikuti kereta dorong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;Selly ditempatkan pada salah satu ruang perawatan di pavilliun rumah sakit. Ketika Selly dipindahkan dari kereta ke tempat pembaringan, Bima ikut membantu mengangkatnya dan membaringkan Selly secara perlahan-lahan. Selesai melaksanakan tugasnya, para perawat mohon pamit kepada Bima, ibunya Selly dan Nia untuk meninggalkan ruangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;Bima mengambil kursi tempat duduk dan meletakkannya di samping kepala tempat pembaringan Selly, dia duduk, matanya tertuju pada wajah Selly, terlihat kerutan wajah kesedihan pada Bima, salah satu tangannya memegang tangan Selly dan tangan yang satunya mengusap-usap pipinya. Wajah yang sudah lama dikenalnya, tetapi sudah lama tidak pernah dilihatnya lagi. Bima menatap nanar wajah Selly, sepertinya Bima ingin melepaskan semua rasa kerinduannya pada Selly. “Selly, Selly, Selly”, mulut Bima bergumam dengan lirih. Dalam gumamnya, pikiran Bima melayang pada masa-masa jalinannya percintaan dengan Selly di waktu yang silam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana jalinan percintaan Bima dengan Selly pada masa yang silam, tunggu tulisan berikutnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-6546049529572065149?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/6546049529572065149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=6546049529572065149&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/6546049529572065149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/6546049529572065149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/06/cerpen-cintamu-deritaku-2.html' title='CERPEN: CINTAMU DERITAKU (2)'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-5556126586876442275</id><published>2009-06-01T09:28:00.000-07:00</published><updated>2009-06-01T10:15:43.695-07:00</updated><title type='text'>CERPEN: CINTAMU DERITAKU (1)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Ditulis oleh: &lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Hairiyadi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Terdengar suara mesin mobil yang distater dengan tergesa-gesa, sebuah mobil sedan Toyota Atlantis berwarna hitam metalic. Mobil sedan itu kemudian melaju dengan kencang di jalan raya, satu demi satu kenderaan yang berada di depan didahuluinya. Pengendaranya seorang lelaki yang berumur sekitar 35 tahun, mulutnya seperti berbicara melalui sebuah headset yang tersambung pada handphone yang terletak di atas dashboard mobilnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di sebuah rumah sakit yang terletak di pusat kota, mobil sedan hitam itu berhenti. Pengendaranya turun dari mobil dan berjalan dengan cepat menuju ruang UGD (Unit Gawat Darurat). Di ruang tunggu UGD lelaki itu disambut kedatangannya oleh seorang wanita remaja dengan wajah yang sembab karena terus-menerus menangis. Wanita remaja tersebut langsung memeluk lelaki pengendara mobil sedan hitam yang nampaknya sudah tidak sabar lagi ditunggunya. “Bang Bima, tante Selly kecelakaan Bang, tante Selly terjatuh dari motor kemudian sempat diseruduk oleh mobil truk yang berada di belakangnya”, kata wanita remaja yang memeluknya dengan suara terisak. Mendengar itu, lelaki pengendara mobil sedan hitam yang dipanggil Bima wajahnya nampak tegang dan pucat. “Sekarang keadaannya bagaimana ?”, tanya Bima kepada wanita remaja yang sedang memeluknya. “Belum tahu Bang, tante Selly masih diperiksa oleh Dokter, kita belum diperbolehkan menengoknya”, jawab sang wanita remaja. Bima menghela nafasnya dengan dalam, seraya berkata sambil memegang pundak sang wanita remaja, “Nia, marilah sekarang kita berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan pada tantemu, kita harus sabar, kita serahkan semua kepada Tuhan, insya Allah, Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk tante Selly.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mata Bima memperhatikan satu demi satu orang yang sedang duduk di bangku ruang tunggu ruangan UGD. Nampaknya olehnya seorang wanita tua yang duduk dengan wajah tertunduk sambil mengusap airmatanya dengan sehelai sapu tangan. Sambil memegang tangan Nia, Bima berjalan mendekati tempat duduk wanita tua tersebut, kemudian duduk Bima duduk di sampingnya. Sedangkan Nia berjongkok di depan wanita tua itu sambil memegang lututnya. “Nek, ini ada bang Bima nek”, kata Nia dengan suara yang pelan. Wanita tua itu menengadahkan wajahnya, tatapan matanya kosong, raut mukanya seperti kebingungan untuk mengenali lelaki yang ditunjukan oleh Nia. Dia terdiam, butir-butir airmatanya masih meleleh membasahi pipinya. Dia sepertinya berusaha keras untuk mengenali kembali lelaki yang sedang duduk di sampingnya. Bima memegang telapak tangan sang wanita tua sambil mencoba untuk membantu sang wanita tua mengenali kembali dirinya, yakni Bima yang pada waktu masih remaja dari sejak SMP sampai tamat SMA berpacaran dengan Selly anak dari sang wanita tua itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bu, saya Bima bu”, kata Bima sambil memegang erat telapak tangan sang wanita tua dengan wajah yang didekatkan pada wajah yang dipanggil ibu oleh Bima. Si Ibu masih tetap diam, nampaknya dia masih belum bisa mengenali Bima. Kembali Bima mengenalkan dirinya, “bu, saya Bima bu”. Nampak wajah sang ibu masih menunjukkan ketidak kenalannya pada Bima. Sekali lagi Bima berusaha memperkenalkan dirinya, “bu, saya Bima bu, yang dulu pacarnya Selly. Sang ibu tersentak kaget, tangisnya tambah menjadi sambil memeluk tubuh Bima, dengan suara bercampur tangis, “Selly mendapat kecelakaan nak Bima”, kata ibunya Selly.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;bersambung&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-5556126586876442275?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/5556126586876442275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=5556126586876442275&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5556126586876442275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/5556126586876442275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/06/cintamu-deritaku-1.html' title='CERPEN: CINTAMU DERITAKU (1)'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-8004552809492547718</id><published>2009-05-29T18:16:00.000-07:00</published><updated>2009-05-30T16:41:43.387-07:00</updated><title type='text'>KUNTUM BUNGA YANG INDAH DI BALAI BARINGAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Ditulis oleh: &lt;span class="Apple-style-span" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Hairiyadi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mataku sangat mengantuk sekali, celoteh teman-teman sedikit demi sedikit mulai terdengar sayup-sayup di telingaku dan akhirnya menghilang, aku tidak tahu lagi berapa lama aku ketiduran. Rupanya terlalu duduk di lama mobil dengan terpaan angin yang masuk lewat jendela membuat diriku merasa lelah dan secara alami mengantarku ke dunia mimpi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;Hari itu, Sabtu, 10 Juni 2006, kami sedang dalam perjalanan menuju lokasi praktek kuliah lapangan yang berdasarkan informasi dari dosen pembimbing kami berjarak kurang lebih 210 km dari Banjarmasin. Jumlah mahasiswa yang mengikuti praktek kuliah lapangan, 110 orang dengan bapak Ary sebagai dosen pembimbing. Mobil yang mengangkut rombongan adalah mobil Colt L300 sebanyak 15 buah. Kami berangkat dari halaman kampus sekitar jam 9.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku terkejut ketika terasa ada suara dan tepukan tangan di pundakku, “He Dud !, yuk bangun”. Aku terbangun dan mencoba membuka mata, pandanganku masih kabur, terlihat Dany sudah duduk di depan pintu mobil. Aku membetulkan posisi badanku yang tadinya miring tersandar di dinding mobil. Setelah pandanganku jelas, aku bertanya pada Dany. “Dan, kita sudah sampai di tempat tujuan ya”, tanyaku. Dany memberitahu, “belum nih, kita sekarang baru sampai di Pulau Pinang, yah kira-kira separo perjalanan lah, ayo kita turun mengisi perut dulu untuk mempersiapkan fisik melanjutkan perjalanan berikutnya. Aku memandang ke sekeliling mobil, ternyata teman-teman sudah pada ke luar yang masih tertinggal cuma aku dan Dany. “Ayo Dud, cepetan dikit nanti keburu teman-teman pada sudah selesai makan dan mobil berangkat lagi, celaka kita, bisa-bisa kita ambruk di tengah perjalanan nanti karena kelaparan”, kata Dany sambil menarik tanganku. Aku mengikuti ajakan Dany, langkahku terasa berat, maklum karena baru bangun dari tidur. Berdua dengan Dany, kami menuju tempat mencuci tangan dan muka yang terletak di samping warung makan. Setelah terasa segar karena siraman air yang dingin, aku duduk di sebuah bangku kecil sambil menunggu Dany yang menyempatkan diri untuk buang air kecil di wc belakang warung. Setelah Dany menyelesaikan tugasnya buang air kecil, kami bersama-sama menuju ke dalam warung bergabung dengan teman-teman yang sudah dengan lahapnya menyantap makanan pesanan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku dan Dany pun memesan makanan. Tidak terlalu lama pesanan pun datang. Tengah asyik menyantap makanan, tiba-tiba,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;entah kapan datangnya sudah nongkrong di seberang meja kami, si Astri, mahasiswi yang menjadi sekretaris kegiatan praktek kuliah lapangan, langsung saja Astri nyerocos, “Dudy, kamu beruntung hari ini”. “Memang kenapa”, tanyaku dalam kebingungan. “Begini, waktu kamu tidur, kami udah punya rencana melempar kamu ke pinggir jalan, karena tidur kamu tuh lasak sekali, rebah ke kiri, rebah ke kanan, membuat teman-teman yang duduk bersebelahan dengan kamu menjadi terganggu” , jelas kita kepada Dudy, “Ah masa”, kataku. “Tuh ! tanya sama Dany, betul apa tidak”, sambil tangan Astri memandang Dany.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku terus saja menyantap makananku, sudah tidak tahu lagi apa saja yang diocehkan si Astri, mahasiswa yang terkenal tukang bawel di angkatanku. Selesai makan, aku bertanya pada pada Astri, “As, dosen idolaku dimana ya, koq tidak kelihatan sejak aku turun dAry mobil tadi”. Siapa maksud kamu Dud”, Astri balik bertanya kepadaku. “Ya, siapa lagi lah kalau bukan dosen pembimbing praktek kuliah lapangan kita ini”, kataku. “Ooo ! pak Ary, itu tuh nongkrong di warung kecil di seberang jalan”, sambil jAry Astri menunjuk warung yang dimaksud. “Nah ! sekarang sebagai hukuman atas niat kamu bersama teman-teman mau melempar aku ke pinggir jalan maka kamu harus membayar makananku dan makanan Dany”, suaraku dibuat memelas. “Hah ! dasar kamu Dud, tapi tidak apa-apa, aku akan bayarkan semua makanan kalian. “Nah, gitu tuan puteri, ini namanya tuan puteri Cinderella yang dermawan”, pujiku kepada Astri. Kami tertawa. “Tapi ! ada syaratnya, kalian harus bantu aku di perjalanan nanti”, timpal Astri. “Siap tuan puteri”, sahutku secara bersamaan dengan Dany. “Oke, tuan puteri, hamba mohon diri dulu untuk menyusul pak Ary”, sambil aku berjalan menyeberang jalan menyusul pak Ary.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Secangkir kopi pahit dan pisang goreng menemani pak Ary yang sedang nongkrong di warung kecil, dengan santainya pak Ary duduk di bangku warung paling pojok. Aku menyapa pak Ary, “wah pak Ary lagi santai ya”. Pak Ary menoleh sambil membalas sapaanku, Hai, kamu Dudy, mari sama-sama ngopi yu”. Aku mengucapkan terima kasih atas ajakan pak Ary. “Pak”, kataku, “bapak sudah makan atau belum”. “Kebetulan bapak masih kenyang, jadi untuk saat ini cukup makanan ringan saja, bapak sudah pesan makanan yang dibungkus untuk dimakan di tengah perjalanan berikutnya”. jawab pak Ary. “Ooo, begitu pak”, kataku dilanjutkan dengan pertanyaan kepada Ary, “Pak, berapa lama lagi perjalanan kita”. “Insya Alah, kalau tidak ada hambatan apa-apa kita akan sampai kira-kira satu setengah jam lagi di tempat mana mobil-mobil angkutan kita ini nanti tidak bisa masuk melanjutkan mengantar kita, selanjutnya kita meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki merambah alam pegunungan Meratus yang ditingkahi dengan sungai-sungai dan hutan-hutan tropik”, kata pak Ary. “Kondisi jalannya bagaimana pak”, kataku melanjutkan pertanyaan. “Jalannya jalan setapak, kebetulan sekarang ini musim hujan maka sudah dapat diperkirakan kondisi jalannya licin dan air sungai yang nanti akan banyak kita temui cukup dalam”, jelas pak Ary. “Okey, bagaimana Dud, kita siap” kata pak sambil memandangku. “Siap pak”, kataku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pak Ary menghabiskan sisa kopi dan pisang gorengnya, kemudian setelah membayarnya kepada pemilik warung, pak Ary berdiri dan menyuruh aku untuk memberitahu teman-teman agar segera berangkat melanjutkan perjalanan kembali.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rombongan pun berangkat kembali, sekitar satu jam mobil-mobil rombongan kami mulai menempuh perjalanan pegunungan yang turun-naik, jurang-jurang yang menganga di kiri-kanan jalan, tikungan-tikungan yang tajam, jalanannya pun sempit, namun demikian, masya Allah, aduhai, pemandangan alamnya sungguh menakjudkan, sungguh memukau, aku berdecak kagum, bagaimana tidak berdecak kagum, jejeran pegunungan dengan punggungnya yang menghijau yang sungguh kontras dengan latar awan yang putih biru, terlihat olehku jalan di depan yang akan dilalui mobil bagaikan juluran ular yang berliku, udara yang sejuk menambah suasana keindahan yang kurasakan. Sesaat aku memejamkan mata dan mendekapkan kedua tanganku di dadaku seraya mengucap lirih, “Terima kasih ya Allah, paduka telah menganugerahkan alam yang indah kepada kami dan kami sekarang dapat menikmatinya”.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Benar kata pak Ary, kira-kira setengah jam kemudian kami sudah tiba di mana mobil-mobil tidak bisa melanjutkan mengantar kami karena jalan menuju lokasi kegiatan praktek kuliah lapangan tidak bisa dilalui oleh kenderaan bermotor roda empat. Ketika mobil-mobil rombongan kami berhenti, aku melihat pak Ary sudah berdiri berdiri di pinggir jalan dengan ransel menempel di punggungnya, sambil mengisap rokok kesayangannya, pak Ary menunggu kami turun dari mobil dengan perlengkapan kami masing-masing. Aku bersama Dany, Astri dan ketua rombongan yang bernama Rony menyusul pak Ary . Pak Ary meminta agar Rony agar mengumpulkan teman-temannya untuk segera mendengarkan pengarahan oleh pak Ary.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sekarang waktu disini sudah menunjukan pukul 3, perjalanan berikut yang akan kalian tempuh membutuhkan waktu sekitar 4 jam jalan kaki untuk sampai di lokasi praktek, di depan kita adalah jalan yang akan kita lalui, jalannya jalan setapak dengan rimbunan hutan-hutan, di beberapa ruas jalan kita menyeberangi sungai-sungai dengan air yang cukup dalam, cukup lebar dan cukup deras arusnya, begitu kata pak Ary dalam pengarahannya. Selanjutnya pak Ary berkata, “dalam perjalanan yang cukup jauh ini, ditambah dengan medan yang sulit maka bapak berharap kalian selalu menjaga kebersamaan dalam perjalanan, jangan terlalu banyak mengeluh bagaikan anak kecil yang cengeng, berusahalah untuk selalu tetap semangat, saling membantu sangat diperlukan dalam perjalanan kita ini”. “Kalian dapat mengerti apa yang bapak maksudkan”, tanya pak Ary. “Mengerti pak”, jawab kami serempak. “Ada yang ingin bertanya”, pak Ary memandangi kami. “Sudah cukup pak”, kami menyahut beramai-ramai. “Oke, kalau begitu mari kita mulai menempuh pegunungan berhutan ini”, ajak pak Ary dengan menyuruh aku bersama Dany dan Astri berada di posisi paling depan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan menempuh perjalanan yang sulit sudah kami mulai, gunung demi gunung, bukit demi bukit kami daki, jurang-jurang kami turuni, hutan demi hutan kami rambah, dan sungai demi sungai kami seberangi. Awan hitam mengiringi perjalanan kami pertanda hujan akan segera turun dari langit, angin pun bertiup kencang, dan benar hujan pun turun dengan derasnya. Dalam suasana hujan yang terasa dingin, aku ingat pak Ary, apakah pak Ary membawa perlengkapan jas hujan ataukah pak Ary basah kuyup dan kedinginan di tengah perjalanan. Aku meminta Dany dan Astri berhenti berjalan sesaat, kemudian aku berkata pada Dany dan Astri, “Dany dan juga kamu Astri, silahkan kamu terus berada di posisi depan, aku akan menunggu pak Ary, kasihan pak Ary”, “Tapi kan masih banyak mahasiswa lainnya di belakang kita, mungkin pak Ary dalam kelompok mahasiswa itu”, kata Astri. “Ya, mungkin saja, tapi saat ini aku ingin berjalan bersama-sama pak Ary dalam hujan dan dingin”, kataku. “Baiklah, silahkan Dudy menunggu pak Ary, kami sangat setuju, kami mohon pamit untuk duluan ya”, kata Dany dan Astri. “Oke, silahkan”, jawabku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku duduk di pinggir jalan sambil berhujan menunggu pak Ary. Kuambil minuman dingin dari dalam ranselku, kutuangkan ke mulutku dengan derasnya, ahhh, segarnya terasa rasa hausku berkurang. Lama aku menungggu, dari kejauhan nampak sekelompok mahasiswa sedang berjalan beriringan dengan langkah berat karena kapayahan, mereka semakin dekat dan akhirnya berhenti di depanku,mereka juga mengeluarkan minuman yang dibawanya, aku memperhatikan temam-temanku yang sambil minum sambil mengatur napasnya yang turun-naik. Aku bertanya, “hai, kalian melihat pak Ary ?” Oouu, pak Ary berada di paling belakang bersama dengan Rony”, sahut si Anis, seorang mahasiswi yang bertubuh mungil. “Ada apa ya”, tanya Anis kepadaku. “Aku ingin menunggunya”, kataku. “Kalau begitu, kami duluan ya” kata Anis. “Silahkan”, jawabku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kelompok demi kelompok mahasiswa telah melewatiku, aku masih menunggu. Alhamdulillah, samar-samar ditengah kaburnya pandangan karena dihalangi oleh guyuan air hujan, nampak pak Ary berjalan beriringan dengan Rony, sang ketua rombongan, tanpa jas hujan, rasa kekhawatiranku akan kondisi pak Ary di tengah perjalanan dengan guyuran air hujan yang deras menjadi sirna, pak Ary nampak masih gagah, masih semangat, dan sambil ngobrol panjang lebar dengan Rony. “Eeh, kamu Dudy, kecapaian ya”, tegur pak Ary. “Masih fit”, kataku. “Ayo, kita lanjutkan perjalanan menyusul kelompok-kelompok mahasiswa yang di depan”, ajak pak Ary. “Siap pak”, jawabku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sekitar pkl 7 malam, aku, Rony dan pak Aryo sudah memasuki pinggiran desa yang menjadi lokasi praktek kuliah lapangan, badan kami basah kuyup dan kotor penuh lumpur. Aku merasa sangat dingin sekali, pada sebuah rumah yang terletak di pinggiran desa yang kami lalui, aku minta ijin pada Pak Aryo dan Rony untuk berhenti sejenak. “Kenapa harus berhenti di sini, itu tuh Balai Adat Baringan tempat kita akan menginap sudah kelihatan dari sini, artinya sudah dekat sekali”, kata kata pak Aryo dan Rony. “Tidak apa-apa pak, silahkan pak Ary dan Rony duluan, saya ingin istirahat sebentar pak”, jawabku. “Tapi rumah ini kosong, lebih baik kita langsung masuk ke Balai Adat saja”, ajak Rony. “Tidak Ron, aku pengin istirahat disini saja dulu sebelum masuk ke Balai Adat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku merasa sangat lelah sekali, tubuhku dingin, sendi-sendi terasa penat dan kakiku terasa berat sekali untuk dilangkahkan. Aku duduk di pelataran, sambil melepaskan ransel dari punggungku, aku mengatur nafas, ku ambil air dingin dari botol dan kuminum, kunyalakan sebatang rokok. Aku bersandar pada dinding rumah sambil menghembuskan asap-asap rokok yang telah kuhisap. Di tengah kepenatanku, terdengar suara derit pintu yang dibuka. Aku kaget, sembari membetulkan posisi dudukku aku menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka. Eeeh, seorang gadis muncul dengan memegang lampu templok di tangannya. Sang gadis kaget ketika melihatku. “Eeeiii, ada orangnya ya”, katanya. “Mohon maaf, saya numpang istirahat di sini, lelah sekali”, kataku. “Kenapa istirahat di luar, tambah dingin nanti, masuk saja ke dalam, tidak apa-apa” ajak sang gadis. “Di sini juga masih bisa beristirahat”, kataku. Kulihat di belakang sang gadis telah berdiri seorang wanita separo baya yang juga mengajak aku beristirahat di dalam rumahnya. “Ayo nak, masuk saja ke dalam”, pintanya. Aku bangkit dari tempat duduk dan masuk ke dalam rumah. “Silahkan duduk” kata wanita separo baya tadi. Aku pun duduk sambil melonjorkan kaki yang terasa kaku.Kedua wanita bergegas masuk ke dalam, sesaat kemudian sang gadis menyuguhkan teh manis hangat di hadapanku. “Tidak usah repot-repot, diizinkan istirahat disini saja, saya sudah sangat terima kasih”, kataku. “Aaaah, tidak merepotkan nak, cuma ini yang dapat kami suguhkan”, kata sang wanita paro baya. “Silahkan diminum kak, biar badan kakak menjadi hangat”, sang gadis mempersilahkan aku meminum teh manis hangat yang disuguhkannya. “Terima kasih”, kataku sambil meminum teh yang disuguhkan. Ruangan dalam rumah agak temaram karena cuma disinari oleh lampu templok. Di sela-sela ketemaraman agak mencoba mecuri-curi pandang wajah sang gadis. Gadis yang cantik, rambut sebatas pundak dan berkulit putih, profil khas wanita pegunungan Meratus. Hatiku berkata, kecantikannya tidak kalah dengan gadis-gadis kota yang sering kulihat, keramahan, kesantunannya, bisa disandingkan dengan gadis terpelajar, mata yang indah, senyum yang selalu tersungging dari bibirnya yang indah, amboi, bukan main. Eeeeiit, rupanya sang gadis juga mencoba mencuri-curi pandang ke arahku, aku tidak tahu bagaimana penilaian dalam hatinya terhadap aku, si Dudy mahasiswa yang terkenal pemalu di kampus. Suasana sunyi sesaat. Aku mencoba memecah kesunyian dengan memulai lagi pembicaraa. “Ibu dan adik ini, apakah penduduk asli di sini”, tanyaku. “Ya, benar, kami memang penduduk asli di sini”, jawab mereka. “Lalu, adik ini apa hubungan dengan ibu”, tanyaku lagi. “Ooooouu, ini anak ibu satu-satunya”, kata sang wanita paro baya. Aku terus bertanya, “lalu, bapak mana bu ?”. “Bapak telah meninggal beberapa tahun yang lalu”, si gadis yang menyahut. “Aduh, maaf”, kataku. “Tidak apa-apa, toh setiap manusia juga mengalami hal yang sama dengan bapak si Maisi ini”, timpal sang ibu. “Ouuuu, rupanya nama sang gadis yang cantik dan ayu ini adalah Maisi”, kataku hanya dalam hati. “Bu, mohon maaf, saya ini berniat untuk membersihkan diri dulu sebelum menyusul teman-teman dan bapak dosen pembimbing saya yang telah duluan masuk ke dalam Balai Adat”, kataku. “Dimana ya bu, tempat sungai untuk mandi” tanyaku berlanjut. “Ada, di seberang jalan yang dilalui kakak tadi”, terdengar sahutan suara Maisi yang terdengar merdu olehku, “kalau kakak ingin ke sungai, Maisi bersedia mengantarkan kakak ke sungai itu”, lanjut Maisi masih dengan suara yang merdu. “Iya”, kata ibunya Maisi“, biar nanti Maisi yang mengantar adik ke sungai”. “Duh, berbunga-bunga rasanya hatiku, seorang gadis cantik dan ayu bersedia mengantar aku ke sungai, amboi !&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maisi mengambil senter dan payung dan bersiap untuk mengantar aku mandi ke sungai. Di luar hujan mulai reda, namun masih meninggalkan gerimis, di sana-sini gelap, maklum lah di pegunungan yang berhutan seperti di sini listrik belum bisa dinikmati oleh penduduknya. “Ayo kak”, kata Maisi, “saya antar kakak ke sungai biar bisa mandi sepuasnya di sana”.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maisi berjalan di depan dan saya mengikuti di belakangnya. Dalam perjalanan ke sungai aku lebih leluasa memandang Maisi, bentuk tubuh ramping yang indah, sexy dan tinggi badan yang semampai. Aku bertanya kepada Maisi: “Maisi apakah kamu pernah sekolah”. Pernah kak, tapi cuma sampai tamat SD”, sahut Maisi. “Terus, kenapa tidak melanjutkan ke SMP”, kataku. “Terlalu jauh kak, kemudian biayanya juga tidak mendukung untuk Maisi meneruskan pendidikan”, suara Maisi terdengar pelan. “Sebenarnya Maisi pengin sekali bisa melanjutkan sekolah, tapi kesulitan yang dihadapi terlalu berat, kami cuma petani yang miskin kak”, lanjut Maisi. “Sekarang ini apa kegiatanmu Maisi”, sergahku. “Membantu ibu bekerja di ladang, kak”, suara Maisi masih terdengar pelan. Ada rasa iba bercampur haru di hatiku. “Kakak beruntung, tinggal di perkotaan dan mampu melanjutkan pendidikan”, Maisi melanjutkan perkataannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ucapan Maisi membuat perasaan hatiku lebih mengharu-biru. Dalam hati aku berkata bahwa Maisi hanyalah salah satu anak-anak gadis di daerah pedalaman yang mempunyai keinginan untuk bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi namun kondisi ekonomilah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang menjadi salah satu kendala yang membuyarkan harapan dan impian mereka untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi tersebut. Aku yakin, masih lagi Maisi-Maisi yang lain yang mengalami nasib yang sama dengan Maisi yang sekarang ini sedang mengantarku ke sungai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jalan menuju ke sungai sangat sempit dan licin, di kiri dan kanannya rindang dengan tanaman karet, pada lahan-lahan tertentu terdapat tanaman sayuran dan buah-buahan seperti, cabe, singkong, kacang tanah, kacang panjang, pisang dan cempedak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada sebuah turunan jalan yang cukup dalam aku terpelesat dan jatuh terduduk. Maisi berteriak kecil, “hai, hati-hati kak, jalannya licin”, sambil mengulurkan tangannya ke tanganku untuk menarikku agar bisa berdiri. Dengan bantuan tarikan tangan Maisi aku akhirnya bisa berdiri. Ketika itulah aku dan Maisi saling beradu pandang, kami sesaat sama-sama terdiam, tetapi kemudian suasana itu dibuyarkan oleh suara Maisi, “tidak apa-apa kan kak”. “Tidak apa-apa, terima kasih”, jawabku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak berapa lama sampailah kami di sungai yang di tuju. Untuk sampai di bibir sungai, aku harus menuruni tebing yang dalam, ternyata bibir sungainya berupa hamparan batu-batu kerikil. Suasana gelap. Maisi menunggu berdiri jauh di atas tebing. Aku pun mandi membersihkan diri, airnya yang sangat dingin serasa membuat tubuhku membeku, aku menggigil, aku tidak sanggup berlama-lama karena bertambah dingin saja rasanya air yang membasahi tubuhku. Sambil mengeringkan tubuhku dengan handuk, aku berjalan menaiki tebing untuk menyusul Maisi yang masih menunggu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Gimana, dingin yang kak”, kata Maisi, sambutan sapaannya kepadaku. “Yah, dingin sekali”, sahutku, “yuk ! kita pulang”, ajakku kepada Maisi. “Air di sini sangat bersih”, kataku kepada Maisi. “Yah, begitulah, namanya juga air di pegunungan”, begitu jawab Maisi. “Berbeda sekali dengan air sungai yang berada di tempatku, kotor karena setiap hari menjadi tempat pembuangan sampah”, kataku. “Kak !, kakak sukakah dengan singkong yang direbus”, Maisi menyela pembicaraanku. “Wah !, suka sekali”, jawabku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di tengah perjalanan yang kami lalui, kami berhenti pada lahan tanaman singkong. Maisi menunjukkan kepadaku pohon-pohon singkong yang bisa dicabut. Aku pun mencoba mencabut salah satu pohon yang ditunjukkan Maisi. Aku berusaha mencabut, tetapi tidak bisa tercabut, kucoba lagi mencabutnya dengan sekuat tenaga, waduh, belum tercabut juga. Melihat aku tidak mampu mencabut pohon singkong tersebut, Maisi mendekati dan membantu aku mencabutnya. Berdua kami berusaha mencabutnya kembali. “Yuk, kak, kita cabut kuat-kuat”, kata Maisi. “Yuk, kita mulai dengan hitungan”, kataku juga. “Satu, dua, tiga”, kami menghitung bersama-sama. “Braaak”, terdengar suara pohon yang tercabut, tapi, aaaahhhhh, bersamaan dengan tercabutnya pohon singkong tercabut, kami pun terjengkang ke belakang, aku tertelentang, Maisi juga tertelentang, Aku berusaha untuk duduk, Maisi pun begitu juga. Sambil sama-sama membersihkan tanah yang menempel di pakaian kami, aku dan Maisi sama-sama tertawa. “Lucu ya kak”, kata Maisi. “He eh”, jawabku sambil tanganku memegang tangan Maisi. “Tanganmu tidak apa-apa kan Maisi”, kataku lagi. Entah mengapa, ada perasaan, aku tidak mau tangan Maisi terluka, aku tidak mau Maisi merasakan kesakitan. Terasa dingin tangan dan jari-jemari Maisi. “Tidak apa-apa kak”, jawab Maisi, sambil tangannya memegang dan memperhatikan tanganku. “Tangan kakak juga tidak apa-apa kan”, tanya Maisi sambil matanya memandangku seolah-olah meminta kepastian bahwa tidak terjadi apa-apa dengan aku. Dengan saling berpegangan tangan kami pun saling membantu untuk bangkit berdiri.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di rumah Maisi aku merapikan diri dan bersiap untuk menuju Balai Adat di mana rombongan praktek kuliah lapangan kami menginap. Aku pun mengucapkan terima kasih atas keramah-tamahan Maisi dan juga ibunya. “Bu, saya mohon maaf kepada ibu dan juga Maisi karena lupa mengenalkan nama saya”, kataku, “ooh, iya, kamu belum memberitahu namamu”, sahut ibu Maisi sambil tersenyum, “siapa namamu”, lanjutnya. “Nama saya, Dudy, bu”, jawabku. Oh, iya, nak Dudy”, kata ibu Maisi. “Bu, saya, Dudy, mohon pamit untuk menyusul teman-teman dan dosen pembimbing saya yang sekarang sudah berada di Balai Adat”, kataku sambil membungkukkan diri kepada ibu Maisi. “Ya, silahkan nak Dudy, kami juga nanti akan di sana dan sekalian menginap di Balai Adat, karena kebiasaan kami kalau ada tamu yang berkunjung dan ingin bertemu dengan penduduk di sini, kami akan menyambutnya di Balai Adat dan menemaninya sambil juga menginap di Balai Adat itu”. “Ooh, begitu, dengan senang hati bisa kumpul bareng di Balai Adat”, kataku. Aku pun melangkahkan kaki untuk turun dari rumah Maisi, sesampai di pelataran, Maisi dan ibunya mengantarku sambil berkata, “nak Dudy, nanti singkong yang dibawa nak Dudy akan ibu rebus dan diantar ke Balai Adat. “Waduh, ibu, Dudy jadinya sangat merepotkan ibu”, katanya. “Aaahh, tidak juga nak Dudy”, kata ibu Maisi&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Belum beberapa alangkah aku berjalan terdengar suara memanggil di belakangku, walaupun dalam kegelapan, aku sangat mengenali suara itu, ya, suara yang sudah mulai akrab kudengar, itu suara Maisi, kataku dalam hati. “Kak Dudy, kak Dudy, tunggu Maisi kak”. Aku menghentikan langkahku, benar pendengaranku yang memanggilku adalah Maisi. “Ada apa Maisi”, kataku ketika kami sudah saling berhadapan. “A,a,, .. anu kak, boleh Maisi ikut bersama-sama kak Dudy pergi ke Balai Adat”, kata Maisi. Hatiku mendadak menjadi gembira dan sangat senang. Maisi, Maisi, kamu gadis yang sangat cantik, alangkah bahagianya aku, kamu selalu bersedia menemani aku, kataku dalam hati. “O, ya, kak Dudy sangat senang ditemani Maisi, tapi apakah Maisi sudah meminta ijin ke sini untuk menyusul kak Dudy”, kataku. “Iya kak, Maisi sudah meminta ijin ibu untuk menyusul kak Dudy, Maisi tidak akan berani menyusul kak Dudy kalau mendapat ijin dari ibu”, kata Maisi. Di perjalanan Maisi menceriterakan bahwa bahwa kampungnya sangat jarang dikunjungi orang luar karena tempatnya yang sangat terpencil, jauh di pedalaman pegunungan Meratus, jalan setapak yang tidak bisa dilalui kenderaan bermotor, terkecuali dengan berjalan kaki ditambah lagi dengan banyaknya sungai yang belum mempunyai jembatan. Selain itu, Maisi juga menceriterakan, di kampungnya ini rata-rata kawin dalam usia yang sangat muda, kalau seperti kak Dudy ini kata Maisi, di kampung ini pasti sudah beristri. Aku tersenyum. Kalau seperti Maisi ini, anaknya sudah berapa kataku sambil terus tersenyum, pasti sudah empat orang kataku tanpa menunggu jawaban Maisi. Aku berhenti, Maisi juga menghentikan langkahku, sembari aku bertanya pada Maisi, “Eh, Maisi, kamu sudah bersuami atau belum”, “Belum kak”, jawab Maisi. “Kenapa belum bersuami”, tanyaku lagi. “Tidak laku, karena Maisi gadis kampung yang jelek, miskin lagi”, jawab Maisi. “Aaah, kamu Maisi, biisaaa saja, hanya laki-laki yang matanya buta saja yang mengatakan Maisi seorang gadis yang jelek, kamu seorang gadis cantik, gadis manis, gadis santun, gadis ramah, pokoknya gadis yang sempurna”, kataku. Entah dari mana inspirasinya, kata-kata keluar meluncur begitu saja dari mulutku. “Seumur-umur Maisi, baru kak Dudy yang mengatakan demikian”, Maisi balas menjawab. “Benar Maisi!, apa yang dikatakan kak Dudy adalah berdasarkan apa yang kak Dudy lihat, mata kak Dudy masih normal kok, jadi kak Dudy mengatakakan yang sebenarnya”. kataku. Sungguh aku sendiri tidak mengerti, mengapa aku bisa berkata demikian, tidak pernah aku bisa berkata-kata demikian, karena aku termasuk pria yang pemalu, tapi di hadapan Maisi kok aku bisa berkata seperti itu. “Kak Dudy juga seorang pria yang gagah, ganteng, keren, ramah dan berbudi”, kata Maisi. “Aku tidak percaya”, kataku sambil nyengir. “Maisi juga berkata benar”, balas Maisi. “Walau pun demikian, kak Dudy senang, jujur kak Dudy akui, kak Dudy senang karena kata-kata itu keluar dari mulut dari seorang gadis yang cantik seperti kamu. Kami sama-sama tertawa. Tanpa terasa perjalanan kami sudah sampai di depan Balai Adat Baringan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Balai Adat Baringan merupakan bangunan yang bentuknya hampir segi empat dengan ukuran 20 x 20 meter, bertiang tinggi, beratap seng, dindingnya dari anyaman bambu dan lantainya dari kayu. Aku dan Maisi menapakkan kaki di tangga naik yang terbuat dari sebatang kayu yang setiap langkahan kaki diberi semacam lubang yang pas buat telapak kaki untuk tempat pijakan naik. Aku mencoba mengulurkan tanganku ke tangan Maisi untuk membantunya naik, Maisi pun mengulurkan tangannya agar dapat dipegang oleh tanganku. “Telapak tangan kak Dudy sangat halus dan lembut karena kak Dudy tidak pernah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang kasar, ya, tangan sekolahan, beda dengan telapak tangan Maisi yang kasar karena sering mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar baik di rumah maupun di ladang”, kata Maisi. “Dasar kamu, Maisi, dari tadi mencari perbedaan terus”, kataku sambil tertawa. Sesampai di dalam Balai Adat aku melihat teman-temanku duduk bergerombol berkelompok-kelompok. Aku mendengar yang dibicarakan mereka seputar apa saja dialami dalam perjalanan tadi siang. Banyak kejadian-kejadian lucu yang mereka ceriterakan. Melihat aku masuk bersama dengan seorang gadis setempat, teman-temanku pada menyapaku. “Hey, Dudy, tumben baru datang nih, kemana saja kamu”, tegur Azrul salah seorang temanku. “Oooouu, tadi sempat mampir di taman bunga kampung ini ya”, timpal si Fifi yang juga teman cewekku. “Iya tuh, lihat saja siapa yang di samping Dudy itu”, si Vina menambahi. Aku serasa dikeroyok teman-temanku. Aku cuma bisa mengangkat jari telunjuk dan menaruhnya secara tegak lurus di mulutku. “Ssssstttt”, aku mendesis, “jangan begitu ah, ini aku perkenalkan teman baru kita, namanya Maisi”, kataku selanjutnya. “Oooouu, Maisi namanya”, sahut Fifi. “Iya, selamat malam Maisi”, suara teman-temanku serempak. Maisi dengan sedikit malu-malu menjabat tangan temank-temanku satu per satu sambil kembali memperkenalkan namanya. Teman-temanku juga memperkenalkan namanya masing-masing kepada Maisi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku ikut duduk nimbrung bersama-sama teman-temanku. Aku juga mempersilahkan Maisi untuk duduk bersama-sama teman-temanku. Tapi, Maisi memohon maaf karena dia juga akan bergabung dengan teman-temannya se kampung yang juga sudah hadir di dalam Balai Adat. Setelah Maisi beranjak dan bergabung dengan teman-temannya sendiri, si Azrul membisiki aku, “Dud, dimana kamu kenal gadis itu”. “Tadi waktu aku beristirahat di sebuah rumah di tepi jalan yang kita lalui tadi”, jawabku. Eh, rumah yang berada di bibir kampung yang dekat dengan Balai Adat ini kan”, kata Azrul. “Wah beruntung kamu Dud dapat gadis cantik nan ayu seperti Maisi itu”, kata Azrul lagi. “Kalah saingan kita-kita ini nih”, kata Vina dan Fifi. “Kalian ini bagaimana, Maisi kan cuma temanku, teman kalian juga, tidak lebih dari itu”, kataku mencoba menyembunyikan perasaanku terhadap Maisi. “Hebat kamu Dud, tidak seperti kalian-kalian ini”, suara Vina agak keras sambil telunjuknya mengarah ke semua teman laki-laki. “Memangnya kenapa kami-kami”, terdengar si Eduar yang duduk bersandar pada tiang di pojok ruangan sambil menghembuskan asap rokoknya. Fifi ikut bicara membantu Vina, “kalian ini bisanya cuma ‘pdkt’ saja”. “Apa ‘pdkt’ tuh”, kata Eduar. “Pdkt itu singkatan dari pendekatan, artinya kalian ini bisanya cuma pendekatan melulu tapi tidak pernah membuahkan hasilnya”, kata Fifi. “Ooouu itu”, kata teman-temanku laki-laki serempak. Suasana menjadi riuh. Aku menyela, “eh, kalian semua sudah makan atau belum”. “Ini nih, kami sedang merebus mie”, sahut Dimas yang sedang menunggui rebusan mie. “Kamu barangkali sudah makan ya di rumahnya Maisi”, kata Eduar. “Belum juga”, kataku. “Kalau begitu taruh mie kamu di dalam panci ini biar kita rebus bersama”, kata Fifi. “Nanti saja”, kataku. “Ooouu, kamu sudah kenyang ya karena memandangi wajah Maisi terus”, kata Vina. Waduh aku serba salah diolok-olok teman-temanku terus. Aku mencoba menghindar agar tidak terus diolok-olok oleh teman-temanku. Aku mencari alasan untuk menghindar. “Hai, kawan-kawan, aku tinggal dulu ya untuk menyusul pak Ary”, alasanku. “Oh, begitu, itu tuh pak Ary”, kata si Eduar, sambil menunjuk ke tengah ruangan tempat biasa penduduk setempat melaksanakan upacara adat. Aku pun segera beranjak menjauh dari teman-temanku menuju tempat pak Ary duduk. Sambil melewati kelompok-kelompok teman-temanku, mataku mengamati dimana gerangan Maisi duduk dengan teman-temannya sendiri. Akhirnya mataku bertumbukan dengan mata Maisi yang juga melihatku. Ooouu, di situ rupanya, kataku dalam hati. Aku mencoba lewat di depan Maisi yang sedang duduk bersama-sama teman-temannya. Tepat ketika aku lewat di depan Maisi, dia menegurku, “Kak Dudy, tadi ibu mengantarkan singkong rebus untuk kak Dudy”. “Oh ya, terima kasih sekali”, kataku sambil mendekati Maisi. Melihat aku datang, teman-teman Maisi menjauh dengan terlebih dahulu pamit kepadaku dan juga kepada Maisi. “Ini kak singkong rebusnya”, kata Maisi. “Alangkah enaknya kalau singkong rebus dimakan bersama-sama dengan mie”, kataku. “Boleh dicoba kak”, kata Maisi. Aku menyerahkan 2 bungkus mie yang tadinya kusimpan dalam ransel kepada Maisi. Maisi pun membantu merebus mie. Setelah mie matang, aku pun makan mie yang dicampur dengan singkong rebus bersama dengan Maisi. Melihat aku makan dengan lahapnya, Maisi menyela, “kasihan kak Dudy sangat kelaparan karena perjalanan yang melelahkan tadi siang”, katanya. “Tidak juga, kak Dudy makan kak Dudy lahap bukan karena kelaparan yang diakibatkan oleh perjalanan yang jauh siang tadi tetapi kak Dudy menjadi lahap makannya karena karena yang merebus singkong, ibunya Maisi dan yang merebus mie, Maisi sendiri”, kataku. Maisi tertunduk malu mendengar pujianku. “Ahh, kak Dudy ini, kata-katanya selalu membuat Maisi malu”, kata Maisi. Aku tertawa kecil. Mata Maisi memandangku, mata yang lugu namun indah, beberapa helai rambunya jatuh ke dahi, tangannya memain-mainkan sendok makan yang dipegangnya. Aku tidak tahu perasaan apa yang berkecamuk di dalam hati Maisi. Aku tidak tahu dan tidak mengerti perasaan wanita karena sejak aku mengenal bangku sekolah sampai dengan duduk di perguruan tinggi, aku belum pernah punya wanita yang merupakan teman dekat. Aku belum pernah jatuh cinta dengan teman wanitaku. Pertemuan dan apa yang kualami dengan Maisi, merupakan pengalamanku yang pertama. Aku pun tidak mengerti, perasaan apa yang berkecamuk dalam diriku ini, yang pasti aku sangat senang, sangat bahagia, bersama-sama Maisi. Andaikan aku pintar membuat puisi maka akan kutulis dan kurangkai sebuah puisi indah dan akan kubacakan di depan Maisi agar Maisi dapat mengetahui perasaan yang sedang berkecamuk dalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah makan aku mohon ijin pada Maisi untuk meninggalkannya menemui pak Ary. “Maisi, kak Dudy mohon pamit meninggalkan kamu untuk mendatangi pak Aryo”, kataku pada Maisi. “Siapa pak Ary itu”, tanya Maisi. “Itu tuh, lelaki yang duduk di tengah-tengah ruangan”, kataku pada Maisi sambil tanganku menunjuk ke arah pak Ary duduk. “Pak Ary itu dosen pembimbing dalam kegiatan kami ini”. Aku melanjutkan kata-kataku. “Dosen pembimbing itu apa”, tanya Maisi kepadaku dengan lugu. Aku mencoba menjelaskan apa itu dosen pembimbing. “Begini Maisi, dosen pembimbing itu adalah orang yang memberikan, mengarahkan dan mengajari kami-kami ilmu pengetahuan yang merupakan bekal untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepada kami-kami setelah menyelesaikan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;atau menamatkan pelajaran”. Aku mencoba menjelaskan kepada Maisi. “Oooouu, itu, seperti guruku waktu Maisi sekolah dulu”, kata Maisi. “Yah, seperti itulah”, kataku kepada Maisi. “Baiklah aku pamit dulu ya”, kataku. “Silahkan kak”, jawab Maisi dengan senyum manisnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Selamat malam pak”, aku memberi salam pada pak Ary. “Selamat malam, eh, kamu Dudy, gimana sudah terasa segar”, sahut pak Ary menyambut salamku. “Agak lumayan pak”, kataku sambil ikut duduk di samping pak Ary. “Dudy, malam ini kamu beristirahat saja dulu, tidak usah ikut melaksanakan wawancara dengan penduduk setempat yang sekarang sedang berkumpul di sini, tugas kamu kan besok berkeliling mengambil foto-foto dan membuat video yang menggambarkan keadaan lokasi praktek kuliah lapangan kita”, kata pak Ary. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“Oh, begitu pak, jadi saya bisa beristirahat malam ini, terima kasih banyak pak”, kataku pada pak Ary sambil beranjak dari tempat duduk mencari tempat yang kosong untuk beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di sebuah sudut yang berdekatan dengan pintu masuk pada salah satu bilik aku menggelar kantong tidurku kemudian merebahkan diri, telentang, mataku menerawang ke atas langit-langit balai adat. Aku mulai berpikir siapakah kira-kira besok hari yang bisa memanduku untuk mengambil foto-foto dan membuat video, kepala adat tidak mungkin karena akan sibuk melayani pertanyaan-pertanyaan dari teman-temanku yang mewawancarainya, para ‘balian (orang yang biasanya melaksanakan upacara-upacara adat)’ juga tidak mungkin karena juga sibuk membantu kepala adat, oh ya, aku akan mencoba minta bantuan Maisi, ya Maisi, Maisi kan penduduk setempat jadi pasti banyak mengetahui tentang desanya. Ketika aku ingat Maisi yang bisa menjadi pemanduku, terbayang kembali pertemuanku dengannya. Aku tersenyum sendiri, senyum bahagia. Selanjutnya bayangan Maisi mengantarku untuk masuk ke alam tidur yang indah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku tersentak, getaran lantai dan bunyi kaki yang sangat banyak membuat aku membuka mata, oh, sudah pagi rupanya, mataku melihat sekeliling, rupanya teman-teman sudah bangun lebih dulu daripada aku. Aku melepaskan kantong tidurku dan melipatnya, kemudian duduk bersandar pada dinding. Kulihat jam tanganku, jarum panjang menunjuk angka 12 dan jarum pendek menunjuk angka 7. Pagi yang indah, kataku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Winda dan Rony mendekatiku. “Dapat mimpi yang indah ya Dud”, kata mereka serentak sambil tertawa. “Tidak dapat mimpi apa-apa”, kataku sembari tersenyum pada mereka. “Eh, Dud, kamu dapat tugas apa dari pak Ary untuk hari ini”, kata Winda. “Tugas membuat foto-foto dan video yang dapat menggambarkan keadaan lokasi praktek kuliah lapangan kita”, jawabku sambil mengusap-usap mata. “Wah, kalau begitu kamu harus segera mandi, bersiap-siap melaksanakan tugas dari pak Ary, nanti keburu siang”, kata Rony. Siap komandan !, jawabku sambil berdiri. Aku pun mengangkat ransel dan pergi ke sungai untuk mandi. Selesai mandi aku kembali ke Balai Adat, ikut gabung makan mie rebus dengan teman-teman. Selesai makan aku mempersiapkan semua peralatan, kamera dan handycam. Sambil meletakkan tali kamera dan tali handycam di kedua bahu aku beranjak menuju di mana Maisi tadi malam bergabung dengan teman-temannya, kepalaku celingak-celinguk, tapi Maisi tidak terlihat olehku. Barangkali Maisi ada di rumahnya, kataku dalam hati. Aku pun turun dari Balai Adat setelah mohon pamit kepada pak Ary. Aku berjalan menuju rumah Maisi. Benar dugaanku, Maisi ada di rumahnya, dia sedang berdiri di depan pintu dengan baju kaos warna hijau daun dan celana jeans yang berwarna biru, rambutnya diikat ke belakang, tanpa polesan kosmetik, amboi, cantik sekali.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; “Selamat pagi Maisi”, sapaku. “Selamat pagi kak Dudy”, sahut Maisi membalas sapaanku. “Tumben, hari ini Maisi cantik sekali”, pujiku. “Kak Dudy juga ganteng sekali hari”, kata Maisi membalas pujianku. “Maisi bisakah kamu membantu kak Dudy berkeliling kampung untuk menunjukkan tempat-tempat&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang nantinya akan difoto dan dibuat videonya” pintaku pada Maisi. “Dengan senang hati, Maisi akan menemani kak Dudy untuk melihat-lihat kampung ini, tapi Maisi minta ijin dulu ya sama ibu”, jawab Maisi. “Terima kasih Maisi, nanti biar kak Dudy yang akan memintakan ijin sama ibu untuk mengajak Maisi menemani kak Dudy”, kataku. Aku pun menemui ibunya Maisi untuk meminta ijin mengajak Maisi bersamaku. Syukurlah, ibunya Maisi mengijinkannya.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sudut demi sudut perkampungan, pemukiman, ladang, huma, kebun buah-buahan, kebun sayuran, pemakaman, tempat perburuan, semuanya ditunjukkan oleh Maisi. Aku pun membuat foto-foto dan videonya dari tempat-tempat yang ditunjukkan Maisi. Ketika jarum di tanganku menunjukkan sudah jam 1 siang, aku pun merasa sudah cukup membuat foto-foto dan video.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;“Maisi, kak Dudy rasa sudah cukup kegiatan kak Dudy untuk hari ini, kamu juga mungkin sudah lelah, sekarang kita pulang”, ucapku kepada Maisi. “Benarkah sudah cukup yang harus dikerjakan oleh kak Dudy”, tanya Maisi. “Ya, sudah cukup”, jawabku.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;Di tengah perjalanan pulang, Maisi mengajakku mampir di kebun buah-buahannya yang terletak di pinggiran bukit berdekatan dengan sungai. “Sekarang kak Dudy akan Maisi ajak untuk mampir dikebun buah-buahannya Maisi, kak Dudy tidak keberatan kan”, ajak Maisi sambil bertanya kepadaku. “Boleh, boleh, dengan senang hati”, kataku. “Kebetulan di kebun banyak buah cempedak yang sudah masak”, kata Maisi. “Benarkah:, kataku. “Benar kak Dudy”, jawab Maisi.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;Benar yang dikatakan Maisi di kebunnya banyak sekali cempedak yang sudah matang. Aku pun mengambil 3 buah dengan memanjat pohonnya. “Yuk, mari kita makan cempedak sambil duduk di bebatuan yang berada di sungai itu”, ajakku pada Maisi. “Yuk, mari kak”, Maisi menyetujui usulku.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;Sambil makan cempedak duduk di atas bebatuan yang berada di sungai, Maisi memandangku sembari berucap, “kak Dudy, Maisi iri melihat teman-teman wanita kak Dudy”. “Kenapa”, tanyaku. “Mereka sungguh beruntung bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi, mereka pintar-pintar, mereka santun-santun dan berbudi, Maisi ingin sekali seperti mereka, dulu Maisi waktu kecil bercita-cita menjadi perawat, karena di kampung ini tidak ada perawat”, kata Maisi. “Kan ada perawat di kota Kecamatan”, kataku. “Ya, benar, tapi kak Dudy kan telah mengalami perjalanan memasuki kampung ini, sangat jauh dari kota Kecamatan dan medannya sangat sulit”, kata Maisi. “Ya, benar juga, bagaimana kalau ada yang sakit atau ada yang mau melahirkan”, kataku melanjutkan. “Kalau ada yang sakit atau ada mau melahirkan, kami biasanya meminta bantuan balian, semua dilakukan secara tradisional”, kata Maisi. “Ooouu, begitu”, kataku. “Maisi pun bercita-cita selain menjadi perawat juga ingin mengajari anak-anak di sini membaca, menulis dan berhitung, supaya anak-anak menjadi pintar-pintar dan maju”, kata Maisi. “Untuk mewujudkan cita-cita Maisi, Maisi berusaha belajar dengan tekun dan rajin, Maisi numpang tinggal dengan keluarga Maisi di kota Kecamatan karena Sekolah Dasar (SD) hanya ada di kota Kecamatan”, Maisi meneruskan pembicaraannya. “Ketika Maisi duduk di kelas V, bapak Maisi meninggal terkena serangan malaria, hati Maisi hancur kak, luluh-lantak harapan dan cita-cita Maisi, tiada lagi tempat Maisi bergantung, patah sudah penopang cita dan tempat mengadu segala derita”, ucap Maisi mulai sesenggukkan. Aku memandang Maisi, terlihat bulir-bulir air matanya mengenang, wajahnya menengadah ke atas seolah-olah mengadukan derita, harapan dan cita yang sirna ke awan-awan putih di langit. “Cita dan harapan yang sudah mengental dan terpatri dengan kuat dalam jiwa Maisi sudah mulai goyah dan mulai terasa hampa kak Dudy”. “Air mata demi air mata mengiringi do’a demi do’a Maisi panjatkan kepada Yang Maha Kuasa agar Maisi diberikan ketabahan dan diberi kekuatan untuk bisa mewujudkan cita dan harapan Maisi”, ucap Maisi. Bulir-bulir airmata Maisi yang mengenang mulai menetes membasahi pipinya yang putih. Aku mengulurkan tanganku ke tangan Maisi, kupegang erat kedua telapak tangan Maisi dalam genggaman kedua telapak tanganku. Wajah Maisi yang semula menengadah ke atas sedikit demi sedikit diarahkan kepadaku, matanya memandang dalam ke mataku. “Kak Dudy, setelah bapak meninggal, ibu juga terus sakit-sakitan, sehingga semakin hancur jiwa Maisi, setiap hari Sabtu sehabis bubar sekolah, Maisi pulang ke kampung dengan berjalan kaki, subuh Senin Maisi kembali ke kota Kecamatan untuk masuk sekolah, itulah yang Maisi lakukan sampai Maisi menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD)”, ucap Maisi lirih.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; “Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar, Maisi pulang ke kampung untuk meminta ijin dan restu ibu untuk melanjutkan pendidikan ke SLTP”, Maisi meneruskan pembicaraannya. “Ketika Maisi mengemukakan maksud Maisi kepada ibu, ibu Maisi menangis dengan berucap, Maisi, ibu tidak bermaksud menghalangi keinginan Maisi, namun dari mana biaya kita dapatkan untuk sekolah Maisi, hasil panen hanya cukup untuk kebutuhan makan kita, hasil kebun juga tidak bisa dijual karena biaya untuk mengangkut lebih mahal daripada harga jualnya, kemudian buah-buahan juga demikian, ibu merangkul sambil membelai rambutku, Maisi juga menangis kak”, Maisi mengucapkannya padaku dengan bibir bergetar.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;“Maisi mencoba dan belajar untuk mengerti keadaan yang terjadi pada kami, hari-hari Maisi dihabiskan Maisi bersama ibu di ladang, walaupun waktu telah berlalu, harapan dan cita-cita Maisi belum terkubur, tetap menggelora dalam jiwa Maisi”, itu yang diucapkan Maisi sambil tetap matanya memandang mataku dengan dalam. “Tadi malam Maisi menangis kak memperhatikan kebahagian dan keceriaan teman-teman kak Dudy, teman-temanku yang beruntung, mengapa kebahagian dan keceriaan yang dinikmati teman-teman kak Dudy tidak menyinggahi Maisi, haruskah Maisi terus begini dengan harapan tinggal harapan, cita-cita tinggal cita-cita”, ucapan Maisi diringi dengan menggoyang-goyang genggaman tanganku. “Mengapa kak Dudy diam” kata Maisi kepadaku. Aku melepaskan tangan kananku yang sedari dari menggenggam telapak tangan Maisi, kuambil sapu tangan dari saku celanaku, ku usap airmata yang membasahi pipi Maisi. “Maisi, kak Dudy sungguh dapat mengerti dan menyelami dengan dalam perasaaan Maisi, kak Dudy dapat merasakan kehancuran perasaan Maisi dikarenakan kandasnya harapan dan cita-cita Maisi”, aku menyambung ucapanku pada Maisi, “sedih dan haru bercampur malu pada diriku sendiri”. “Mengapa kak Dudy merasa malu pada diri kak Dudy sendiri”, kata Maisi.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;“Betapa kak Dudy merasa malu pada diri kak Dudy sendiri, karena seorang Maisi yang tinggal jauh dari perkotaan, jauh dari keramaian, jauh dari kemajuan, dengan segala kesederhanaan, ternyata mempunyai motivasi yang sangat kuat, harapan yang tidak kunjung pudar untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, mempunyai cita-cita yang mulia dan kepedulian yang tinggi untuk membantu sesama, sedangkan kami-kami yang saat ini sedang menikmati duduk di bangku pendidikan tinggi tidak sedikit yang belajar dengan santai, motivasi yang pas-pasan, ketekunan dan kerajinan yang rendah, terpengaruh dengan hura-hura kehidupan perkotaan, padahal orang-orang tua kami mendukung penuh dengan segala pembiayaan yang dimiliki, berharap kami bisa belajar dengan tekun dan rajin agar dapat menyelesaikan pendidikan dengan cepat serta dapat mewujudkan segala harapan dan apa yang dicita-citakan”, kataku pada Maisi. “Sungguh kak Dudy merasa malu kepadamu Maisi, dalam hal kerajinan, ketekunan dan ketabahan, kak Dudy mendapatkan pelajaran yang berharga dari Maisi”, kataku selanjutnya. Aku melepaskan cincin yang kupakai, cincin yang bertuliskan nama, tanggal, bulan dan tahun kelahiranku, kupasangkan ke jari tangan Maisi. “Maisi, kak Dudy sangat kagum dan bangga kepadamu”, kataku dengan mimik muka yang serius. “Kak Dudy, mengapa Maisi yang harus memakai cincin ini”, kata Maisi. “Cincin ini kak Dudy hadiahkan untuk Maisi sebagai tanda kekaguman dan kebanggaan kak Dudy pada Maisi”, kataku. “Maisi malu kak, Maisi dari keluarga miskin tidak bisa membalas hadiah yang diberikan kak Dudy ini”, Maisi berucap dengan mata yang masih memerah dan sembab. “Ketahuilah Maisi, segala yang apa yang telah diungkapkan dan dicurahkan oleh Maisi merupakan pelajaran dan bekal yang sangat berharga bagi kak Dudy”, kataku. “Terima kasih kak Dudy, cincin dari kak Dudy ini akan selalu Maisi pakai dan menjadi bagian dari jiwa kak Dudy yang ada dalam jiwa Maisi”, kata Maisi sambil mencium tanganku.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;Matahari sudah mulai condong ke arah Barat, menunjukkan hari sudah beranjak petang. Kupegang tangan Maisi untuk membantunya beranjak dari tempat duduknya. “Yuk Maisi, mari kita pulang”, kataku pada Maisi. Dengan saling berpegangan tangan kami melangkahi bebatuan di sungai dengan sesekali mencelupkan kaki-kaki kami di air sungai yang jernih dan segar, kemudian sesekali juga kami berhenti memperhatikan ikan-ikan kecil yang berenang dalam kelompok-kelompok kecil yang seolah-olah berkejar-kejaran. Sungguh pemandangan yang mempesona.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;Di Balai Adat aku lebih banyak diam, segala apa yang telah diucapkan Maisi tadi siang masih terngiang-ngiang di telingaku, begitu juga bayangan wajahnya selalu muncul di mataku, mata Maisi yang merindukan harapan dan asanya, dalam kesunyian, dalam kepedihan, dalam kesendiriannya.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Senin, 12 Juni 2006, merupakan hari dimana kami akan balik ke kampus meninggalkan lokasi praktek kuliah lapangan di Balai Baringan. Pagi hari itu, cuaca mendung, awan hitam yang tebal menggantung di angkasa, suhu udaranya juga dingin. Kami melaksanakan makan pagi bersama dengan masyarakat yang berada dalam lingkungan Balai Adat Baringan. Usai makan bersama, rombongan kami bersiap-siap untuk berangkat pulang dengan berjalan kaki menuju kota Kecamatan. Di halaman Balai Adat kami berkumpul, begitu dengan juga masyarakat setempat yang akan melepas kepergian kami. Pak Ary sebagai dosen pembimbing memberikan ucapan kata perpisahan yang kemudian disambut ucapan perpisahan juga oleh pemimpin adat Balai Baringan. Kata perpisahan dari yang mau meninggalkan dan yang ditinggalkan dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan dari kami berupa pakaian dan sembako kepada masyarakat yang berada di Balai Baringan. Penyerahan bingkisan dibarengi dengan bersalaman dari semua anggota rombongan kami dengan masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt;Aku menempatkan diri berada di urutan paling belakang ketika bersalaman dengan masyarakat setempat. Satu per satu kusalami, akhirnya aku sampai pada posisi dimana Maisi berdiri. Kusalami tangan Maisi sambil aku berucap, “Maisi, kak Dudy mohon pamit, terima kasih atas kebaikan Maisi beserta ibu”. Lama kami bersalaman. “Sama-sama kak, bolehkah Maisi mengantarkan kak Dudy sampai di batas desa di pinggiran sungai dimana Maisi malam yang lalu mengantarkan kak Dudy mandi”, kata Maisi. “Dengan senang hati, mari Maisi”, sahutku. Aku berjalan bersama Maisi. Sesampai di pinggiran sungai dimana aku malam yang lalu diantar Maisi ke sini, kami berhenti. Aku berhadapan dengan Maisi. “Maisi, sekarang kak Dudy akan menyeberangi sungai yang berada di hadapan kita, sungai ini merupakan perlambang jalan kehidupan bagi kak Dudy dan juga bagi Maisi, banyak halang-rintang yang merupakan ujian-ujian hidup yang kita jalani, Maisi, kamu adalah guru kehidupan bagi kak Dudy, Maisi adalah kuntum bunga yang indah yang kak Dudy temui di Balai Baringan ini, doakan kak Dudy agar selamat dalam perjalanan, Maisi merupakan inspirator bagi kak Dudy dalam menyelesaikan studi, Maisi akan selalu berada dalam hati dan jiwa kak Dudy”, kata-kataku keluar dengan pelan. Wajah Maisi sendu, kembali terlihat guraian airmata yang menggenang di mata Maisi. Kusisihkan helai-helai rambut Maisi yang menjuntai di dahinya, kucium dahinya yang bening, tanpa kusadari airmataku pun ikut menetes membasahi wajah Maisi, Maisi memandangku dengan dalam, dia terisak. “Maisi gadis desa yang berada di kejauhan, dari tempat yang sunyi ini akan selalu mendoakan kak Dudy selamat di perjalanan, selamat sampai di tempat tujuan, selamat dalam menempuh studinya, dan semoga tercapai semua harapan dan cita-cita kak Dudy, semoga tidak tidak melupakan Maisi dan juga kami-kami masyarakat yang tertinggal disini, diantara serpihan-serpihan cita dan asa Maisi ada selipan kebanggaan karena cita dan asa Maisi itu dapat Maisi titipkan kepada kak Dudy, cita dan asa memajukan anak-anak bangsa, cita dan asa keperdulian terhadap sesama”, itu yang diucapkan Maisi kepadaku. “Maisi, berat rasanya kakiku melangkah, hampa rasanya relung hatiku, tak ingin rasanya aku meninggalkan kamu, tapi perpisahan ini harus terjadi, percayalah, jiwa, asa dan cita Maisi selalu bersemayam dalam hati kak Dudy”, kata-kataku terucap lirih ditingkahi oleh isak tangis sedih Maisi. “Kak Dudy percaya dan yakin, di dalam diri kamu tersimpan butiran-butiran mutiara kehidupan, kekuatan, keprihatinan dan ketabahan”, aku melanjutkan kata-kataku. Tangan Maisi memegang tanganku dengan erat seolah-olah enggan melepaskan kepergianku, diciumnya tanganku dengan dalam, dalam sekali. “Baiklah kak Dudy, silahkan kak Dudy ,menyusul teman-teman kak Dudy yang barangkali sudah mulai jauh jaraknya dengan kak Dudy”, kata Maisi. Maisi melepaskan tanganku dari pegangannya dengan perlahan namun wajah kesedihan tetap menyelimutinya. Aku pun menuruni tebing dan menyeberangi sungai, ketika berada di tengah-tengah, aku membalikkan badan, kulihat Maisi masih berdiri dengan tangannya berpegangan pada pokok pohon kayu tumbang, kutaruh telapak tangan di mulutku kemudian kulambaikan pada Maisi, Maisi pun membalasnya. “Selamat jalan kak Dudy”, suara Maisi dari tepian sungai. “Selamat tinggal Maisi, selamat tinggal guru kehidupanku, selamat tinggal kuntum bungaku yang indah”, balasku dengan suara yang nyaring.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-8004552809492547718?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/8004552809492547718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=8004552809492547718&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/8004552809492547718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/8004552809492547718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/05/kuntum-bunga-yang-indah-di-balai.html' title='KUNTUM BUNGA YANG INDAH DI BALAI BARINGAN'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-6692026251798910400</id><published>2009-05-21T04:18:00.000-07:00</published><updated>2009-05-30T16:41:19.769-07:00</updated><title type='text'>CINTA YANG PUDAR BERSINAR KEMBALI (4)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ditulis oleh&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;: &lt;span class="Apple-style-span" style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Hairiyadi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Nama-nama, tempat, peristiwa dan ceritera cuma rekaan penulis)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Aryo memberikan kesempatan kepada Leny untuk larut dalam perasaan kesendiriannya, perasaan jauh dari keluarga, tiada tempat untuk berbagi duka dan berbagi suka, di saat yang sama Leny mencoba berbagi perasaan kesendirian itu dengan sosok yang dipandangnya sebagai jelmaan orang dekat yang mau mengerti kegundahan yang selama ini terpendam dalam dirinya. Pak Aryo sendiri memperlihatkan rasa simpatinya atas masalah yang dihadapi Leny. Sesaat pak Aryo ikut terlarut dalam perasaan Leny, cuma sesaat, kemudian dia mencoba membangunkan ketegaran dalam jiwa Leny. Pak Aryo berkata dengan pelan: “Leny, kesendirian janganlah menjadikan diri kita merasa ringkih dan papa, sadari oleh kamu bahwa kesendirian adalah keharusan yang merupakan kodratnya Tuhan Yang Maha Kuasa”. Leny diam dan tertunduk, rambutnya yang panjang terjulur ke bawah menutupi sebagian wajahnya. “Leny”, kata pak Aryo, “Leny mendengar apa saya ucapkan”. Sesaat tidak ada sahutan dari Leny, pak Aryo kembali mengulanginya, “Leny”, ulang pak Aryo. “Ya, pak”, sahut Leny, juga dengan suara yang tetap pelan. “Leny mendengar apa yang saya ucapkan” kata pak Aryo. “Ya, pak, Leny mendengar apa yang bapak katakan tetapi Leny tidak mengerti apa yang bapak maksudkan dengan bahwa kesendirian adalah keharusan yang merupakan kodratnya Tuhan Yang Maha Kuasa”. “Ya”, kata pak Aryo, “maksud saya adalah ‘kesendirian’ bagian-bagian hidup yang pasti kita jalani, coba Leny sadari, nanti ada saat-saat kita harus sendiri, kesendirian ditinggalkan oleh orang-orang yang kita sayangi dalam hidup kita, ditinggalkan oleh orang tua atau saudara kita karena dipanggil oleh Yang Maha Kuasa misalnya. “Ketika itu terjadi maka kita tidak boleh gamang dan oleng, kita harus tetap tegar, tetap semangat, tetap optimis, dimana ada saatnya kita harus bersama dengan orang-orang yang kita sayangi, dan pada saat-saat yang lain kita harus berpisah dengan mereka, dan di situlah kita tertinggal dalam kesendirian”, begitu kata pak Aryo. “Leny, kamu bisa sekarang mengerti apa yang bapak maksudkan”, tanya pak Aryo pada Leny. “Ya, pak, saya jadi bisa mengerti apa yang maksudkan, terima kasih ya pak, bapak telah menggugah kesadaran saya dalam perasaan kesendirian ini, saya harus tetap tegar, tetap semangat dan tetap optimis”, jawab Leny. Leny melanjutkan ucapannya: “saya akan berusaha seperti apa yang dimaksudkan oleh bapak, doakan Leny ya pak”. “Insya Allah Len, bapak akan selalu mendoakan Leny”, jawab pak Aryo. “Ingat Len, setelah selesai studi, kamu nanti akan menjadi orang tua dari anak-anak didik kamu, orang tua dari anak-anak yang kamu lahirkan, menjadi pendamping suamimu, oleh sebab itu ketegaran, semangat, dan optimisme adalah modal dasar kamu”, lanjut pak Aryo”. “Ya pak”, sahut Leny. “Oke, Leny, bapak kira cukup dulu ya pertemuan kita hari ini, nanti kalau kamu sudah menyelesaikan tulisan Bab III silahkan hubungi bapak kembali”, kata pak Aryo. “Ya pak”, sahut Leny. “Terima kasih atas bimbingan bapak dan waktu yang diberikan oleh bapak untuk saya”, kata Leny sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pak Aryo. Selanjutnya, sambil menjabat tangan pak Aryo, Leny berucap, “Leny, mohon maaf pak, atas segala ucapan dan sikap Leny yang dianggap lancang dan tidak berkenan di hati pak Aryo”. “Sama-sama”, kata Aryo. Mereka secara bersamaan berdiri dari tempat duduknya masing-masing dan beranjak meninggalkan tempat mereka berbincang-bincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari semakin meninggi, udara bertambah panas, daun-daun dari pepohonan yang mengitari kampus pada berguguran, burung-burung gereja yang biasanya lincah berterbangan pada berdiam diri di sela-sela ranting-ranting pohon yang teduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Aryo melangkahkan kakinya menuju ke sebuah warung makan yang terletak di samping kampus, sesampai di mana banyak warung makan berjejer, mata pak Aryo memandang mengitari warung-warung makan. Hampir seluruh warung makan penuh diisi oleh mahasiswa yang juga mengisi perutnya. Ternyata, selain mahasiswa, di warung-warung makan tersebut diisi juga oleh para orang tua mahasiswa baru yang makan sambil mengantar dan menunggu anaknya yang sedang berkonsultasi dengan dosen penasehat masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung yang terletak di tengah-tengah jejeran warung-warung, tempat yang dipilih oleh pak Aryo untuk melepaskan rasa laparnya. Pak Aryo memilih bangku duduk paling pojok, kebetulan hanya itulah bangku duduk yang tersisa. Walau pun bangku duduk yang dipilih pak Aryo paling pojok namun tepat di atas plafon menempel kipas angin, sehingga dapat mengurangi rasa panas dalam warung makan. Sambil menunggu makanan yang dipesan, pak Aryo melepaskan kancing bajunya paling atas untuk memberikan tiupan angin dari kipas ke dalam badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana dalam warung makan sangat ramai dengan suara-suara mahasiswa. Mereka sambil makan saling mengutarakan kegembiraan, kekesalan, kesulitan-kesulitan yang dialami dan aktivitas-aktivitas masing-masing. Terdengar celoteh seorang mahasiswi cantik dengan balutan pakaian yang mahal untuk ukuran mahasiswa. Dia dengan muka cemberut mengeluhkan banyaknya tugas yang harus dikerjakannya, ditambahkan lagi dengan dikejar-kejar untuk menyelesaikan praktek mengajar di sebuah SMA di kota ini. Mahasiswi temannya yang duduk di sebelahnya menimpali, “aku juga mengalami hal seperti kamu, tapi aku tambahannya lebih parah lagi, tulisan Persiapan Mengajarku selalu mendapat banyak coretan dari Dosen Pembimbing Praktek Mengajar dan Guru Pamong, sehingga aku harus bolak-balik menulis kembali dan bolak-balik menghubungi dosen pembimbing dan guru pamong, hampir mau gila rasanya aku ini”. Di tempat duduk yang lain, seorang mahasiswa laki-laki yang kelihatannya seorang mahasiswa yang tekun dengan tongkrongan pakai kacamata tebal, rambut dipotong pendek tersisir rapi, pakaian necis disterika rapi, sepatu kulit yang mengkilap mengemukakan kegembiraannya, karena semua tugas-tugas laboratoriumnya sudah diselesaikan dan lebih mengembirakan lagi semuanya tugas-tugas tersebut mendapat nilai A. Temannya duduk memuji, katanya,” kamu memang pantas mendapatkan nilai A karena kamu mahasiswa paling rajin dan paling cerdas di kelas, beda sama aku, kalau aku nilai tugas laboratorium tidak stabil, ada yang mendapat nilai D, ada yang nilainya B+, malahan ada yang nilai E, yang paling hebat aku ini seumur-umur belum pernah mendapatkan nilai A” katanya sambil terkekeh. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-6692026251798910400?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/6692026251798910400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=6692026251798910400&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/6692026251798910400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/6692026251798910400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/05/cinta-yang-pudar-bersinar-kembali-4.html' title='CINTA YANG PUDAR BERSINAR KEMBALI (4)'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-3703934310002261233</id><published>2009-05-16T20:20:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T03:12:42.838-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><title type='text'>KISAH KAI SU'RAUP MAKAN SATE</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Kisah dalam bahasa Banjar Pahuluan&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;“Umaialah kai, imbah julak Su’raup nitu kasakitan, hamuklah sidin wan pian kai haji”, jar bubuhan kami sambil tatawaan. “Nyata haja ah” ,jar kai haji Uncul, diragapnya aku, imbah tu di igutnya talingaku bahimat”. “Naham ! badarahanai talinga pian lah kai haji”, jar kami. “Alhamdulillah ! kada tadarah” jar kai haji Uncul. “Taguh kah pian kai maka kada badarahan di igut julak Su’raup tadi”, jar kami. Kai haji Uncul baucap: “kada inya taguh pang aku ini, tapi si Su’raup nitu giginya rumpung di tangah-tangah, atas bawah ha pulang, bakas balajar ba sampida tarujuk atawa tarampak batang langsat di pinggir jalan, muhanya mantipak batangkup wan batang langsat tadih, pas ai luang hidung wan muntungnya tadarah”. Kai haji Uncul manarusakan pandirnya: ‘aku pas malihat kajadian Su’raup marujuk batang langsat tadih, pahin nitu aku pas handak tulak maunjung, kusasahi ai, maksudku handak manulungi, babaya kulihati Su’raup nituh siup tatilantang, muntungnya banganga’an, di parak kapalanya bahamburan pina mamutih, nah ! jar ku, agin nai intan nang bahamburan nitu, imbah tu, ku ipi’i ai tunggal butingan, ku itihi bahimat, hamar nah sakalinya lain intan”. “Nangapa sakalinya kai nang mamutih tadih”, jar kami. “Nah ! tahulah bubuhan ikam, nang mamutih nangitu sakalinya giginya Su’raup nang rapai”. “Makanya am, talingaku kada badarah di igut Su’raup nangitu” jar kai haji Uncul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kai haji Uncul manarusakan pamandirannya: “kira-kira samingguan kalo ah, imbah kajadian Su’raup marujuk batang langsat, pinanya waras sudah muntungnya, aku asa maras wan inya, kuniatakan handak mahimungi Su’raup, caranya, inya handak ku taraktir makan sate di pasar”.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;“Umai ! baik hati wan darmawannya lah hampian nangini kai”, jar kami. “Kami nih, ngaran masih kakanak, biar rancak bakalahi tapi satumat haja bamusuhan, paling lawas sa jam, imbah hitu bakakawalan nai pulang”, jar kai haji Uncul. “Tarasukan pang kai kisah pian mantaraktir julak Su’raup makan sate”, jar kami.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kutarusakan lah kisahnya”, jar kai haji Uncul. “Siiip !, dilanjut !”, jar kami taimbai baucap. Kai haji Uncul manarusakan kisahnya: “kubawa’i ai Su’raup ka pasar mancari warung sate, di pasar nangitu ada langganan aku mun handak mamakan sate, ngarannya warung sate ‘basisiut’, ku bawa’i ai Su’ raup ka warung nituh, sampai di warung, kami dudukan batatai, aku minta sapuluh cucuk wan lontongnya, kaya itu jua Su’raup ku pasanakan sapuluh cucuk jua wan lontongnya”. “Umai ! kulihati si Su’raup baluman mamakan, hanyar mahadangi nang ampun warung ‘basisiut’ mambanamakan satenya, si Su’raup sudah balilihan liur sampai titik ka dalam kantung bajunya. Nang bajualan sate kabulujuran bibinian, balu ha pulang”, jar kai haji Uncul. “Jablai ! kah kai”, jar kami. “Iya ai ! kalo, jablai, jar kakanakan wayahini”, manyahut kai haji Uncul. “Imbah tu pang kai”, jar kami. “Imbah disurungi ulih nang ampun warung, baimbai ai kami mamakan sate, pina kicap-kicap wan takulur-kulurnya muntung Su’raup manggugut sate tunggal bilahan”. “Imbah tuntung mamakan sate, kanapa kah Su,raup maka bamamai wan nang ampun warung sambil batukup muntung”, jar kai haji Uncul. “Hau ! kanapa jadi julak Su’raup bamamai wan ampun warung, nangapa salahnya”. jar kami. “Kaya ini sababnya”, jar kai haji manjalasakan wan kami. “Su’raup bamamai-mamai, umai lah jar Su’raup, dasar ikam ni jablai maulah bumbu sate sing masinan, kabanyakan uyahnya, kahandakan balaki kalo ikam nih, jar Su’raup, maka asa tahirup banyu laut ha ah, ikam pang Cul, marasalah bumbu sate kamasinan nanginih, kahada ujarku, kanapa aku haja yu nang marasa kamasinan, cuba pang buka muntung ikam tuh. “Oouuu !, sakalinya muntung Su’raup badarahan banar”, jar kai haji Uncul. “Naham ! kanapa jadi muntung julak Su’raup badarahan”, jar kami. “Sababnya “, jar kai haji Uncul, “ulih karana Su’raup tasalah cara mamakan sate, urang tu mamasukan cucukan sate ka muntung, bahalang, ai Su’raup kada bahalang, inya mamasukan babujur, jadi pas himpilan daging sate nang pahabisan, lalu ai bilahan hundayang cucukan sate tapanjang tamasuk ka muntung, sampai-sampai tacucuk butuh rakungan, salain itu”, jar kai haji Uncul, “kajadian bahimat ma igut daging sate, padahal Su raup kada ada bagigi, pas ai gusi pada gusi bahangkup, han ti itu nang maulah muntung Su’raup badarahan”. “Tarusakan kai kisahnya”, jar kami. “Sakalinya Su’raup marasa bumbu sate kamasinan kada inya marga bumbu satenya kabanyakan uyah, tatapi gara-gara darah nang di muntung inya nitu nang maulah bumbu sate asa masin banar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; “Umai ! lah kai, kasiannya nang bajualan sate kana mamai Su’raup”, jar kami. “Tatawaan aku wan nang ampun warung imbah tahu kanapa jadi Su’raup mamadahakan bumbu sate kamasinan nitu. Jar kai haji Uncul.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; “Tarusakan pang kai kisahnya”, jar kami. “Sadang dahulu, tu nah urak parak handak bang sambahiyang Isya, kita sambahiyang dahulu, isuk kita kutarusakan pulang kisahnya”, jar kai haji Uncul&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-3703934310002261233?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/3703934310002261233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=3703934310002261233&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/3703934310002261233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/3703934310002261233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/05/kisah-kai-suraup-makan-sate.html' title='KISAH KAI SU&apos;RAUP MAKAN SATE'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-9006276423833563788</id><published>2009-05-15T19:12:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T07:50:44.837-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><title type='text'>KISAH SU'RAUP, ACIL RAUPIQAH, UTUH ASBAK WAN UTUH PA'ASIAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Kisah dalam bahasa 'Banjar Pahuluan' memenuhi permintaan calon pendeta Sufian Akbar&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Tuturan urang bahari nang rancak dikisahakan wan kakanakan atawa wan urang nang a’anuman banyak baisi palajaran sabagai cuntuh kahidupan. Kabanyakan ujar urang wayahini ba”tema”kan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sikap parilaku kita dalam manjalani kahidupan. Nilai nang disampaikan adalah “nilai-nilai nang dikatujui” wan “nilai-nilai nang dianggap “maniniwah” atawa “palalaiannya” pada urang banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di kampung kami pahuluan sana, ada kaluarga ba ampat baranak, nang laki ngaran sidin “Suraup”, nang bini ngaran sidin “Siti Raupiqah”, nang anak sidin lalakian panuhanya ngarannya “Utuh Asbak”, wan anak lalakian sidin nang bungsu ngarannya “Utuh Pa’asian” Kabalujuran rumah kaluarga bubuhan sidin tuh bahihigaan wan rumah kami. Urang sa kampungan kada tapi tahu asal-usul ngaran bubuhan sidin nitu, kanapa jadi kaya itu baisi ngaran, ulih sabab itu kami handak mencuba batatakunan wan nang tuha-tuha, bahara ai ada nang pina tahu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pahinan bubuhan kami dudukan di lantai palataran langgar imbah tuntung sambahiyang maghrib, sambil baricauan, umpat duduk jua kai haji “Uncul”, nang datang pina babukaan kima atas baju sanghai sidin, bakikipas ha pulang, pinanya sidin kapanasan habis mawirid dalam langgar. “Nah ! ini pas banaram”, jar bubuhan kami, pina taimbaian ha baucap sambil maitihi kai haji Uncul. “Nangapang ti habar”, jar kai haji Uncul, sambil sidin badirian. “Duduk pang dahulu kai”, jar kami. Kai haji Uncul umpati duduk sambil sidin basandar ka tayang samin langgar, pina kanyamanan ha sidin, sualnya tawing samin langgar dingin kalo.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; “Ayo !”, jar kai haji Uncul, “aku umpat jua nah bapapandiran wan bubuhan nikam nang anum-anuman nih, nangapa ti nang dipandirakan”, jar kai haji Uncul pulang. “Kaya ini nah !”, jar bubuhan kami, “kami nih handak batakun asal-usul ngaran salah satu warga kita di kampung nangini”, jar kami pulang. “Siapa garang tu”, jar kai haji Uncul. Kami manyahut: “nangitu nah, julak Suraup, acil Siti Raufiqah, Utuh Asbak wan Utuh Pa’asian. “Ooouu ! nangitu kah nang handak ditakunakan bubuhan ikam ti”, jar kai haji Uncul. “Kabulujuran, aku nginih bilang saumur wan Suraup, wan Siti Raupiqah nitu jua” jar kai haji Ucul. “Bahari, pahinan sama-sama kakanak, Suraup kawalku bakalikir, mun Siti Raupiqah kawalku bamamainan pangantin-pangantinan”, jar kai haji Uncul manarusakan pamandiran sidin. Sambil malikit ruku merk ... (kada bulih disambat, kaina dipadahakan pasan sponsor), kai haji Uncul mangisahakan pahinan sidin kakanak bakakawalan wan Suraup, wan Siti Raupiqah jua. “Mun wan Su”raup, aku neh rancak banar bakalahi, sababnya bila bakalikir aku rancak banar kalah wan inya tuh”. “Kararancakan kalah, muar aku wan inya, aku barancana handak mambalas kakalahan aku wan Su’raup, pahinan ada kasampatannya, ku bawa’i ai Su’raup bakalikir”. “Kabulujuran Su’raup mahakuni, nah iya am, dalam hatiku, awas kam Su’raup ai, biar ha tahu rasa”. Pahinan giliranku mangatik kalikir, kukekerai kalikir Su’raup, pina musti ha aku mengeker kalikir sidin, padahal mataku mangeker nang lain”.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;“Su’raup badangkak basubarangan wan aku, mahadangi aku mangatik kalikirnya, aku mangumpulakan hinap, imbah asa cukup hinap, kukatikakanai kalikirku gancang-gancang”. Tus !, bunyi kalikir malayang kukatik, laju banar kalikirku maluncur”. “Aduuuh, aduuuhh, aduuuhh, jar Su’raup, sambil badiri bahantak-hantak batis, pina taulai-ulai ha awak inya, tangannya maingkuti salawar”. “Ai ! Ai Ai !, kanapa ?”&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;jar ku, piragah takajut jua. “Ikam tu culas, awas ha lah”, jar Su’raup. “Kanapang ti”, jar ku. “Ikam basinghaja tuh, nang ikam tuju kada kalikirku, tapi nanginih, sambil manunjuk ka salawar sidin”. “Kana nang mana” jar ku. “Ini nah, kana bigi ‘bakso’ ku”, jar Su’raup, sambil muhanya takuringis. “Ma’aflah”, jar ku, “kada basinghaja”. “Tapi dalam hatiku, han hanyar tahu ikam Su’raup ai”&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;“bamandak dahulu nah, kaina ai ditaruskan, masih panjang lagi kisahnya”&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-9006276423833563788?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/9006276423833563788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=9006276423833563788&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/9006276423833563788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/9006276423833563788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2009/05/kisah-suraup-acil-raupiqah-utuh-asbak.html' title='KISAH SU&apos;RAUP, ACIL RAUPIQAH, UTUH ASBAK WAN UTUH PA&apos;ASIAN'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-4740885134905920457</id><published>2008-05-27T11:49:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T07:52:05.753-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wisata'/><title type='text'>LIANG BANGKAI</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SDxZVbGwJgI/AAAAAAAAADM/NAvcMJ_u-SQ/s1600-h/PICT1306.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205133493921654274" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SDxZVbGwJgI/AAAAAAAAADM/NAvcMJ_u-SQ/s320/PICT1306.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;      Ceruk atau oleh masyarakat Banjar sering disebut "liang", banyak sekali ditemukan, utamanya di kawasan pegunungan Meratus. Salah satunya adalah ceruk (liang) Bangkai yang terletak di daerah Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;    Liang Bangkai merupakan tempat yang menarik apabila diteropong dari sisi perkembangan prasejarah sampai dengan masa sejarah di Kalimantan Selatan. Mengapa demikian?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;    Dari kegiatan yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Banjarbaru bersama-sama dengan mahasiswa PSP Sejarah FKIP Unlam, di tempat tersebut telah berhasil ditemukan sisa-sisa peninggalan manusia masa lampau. Sisa-sisa peninggalan yang telah ditemukan, antara lain: beliung batu, serpih batu, batu penggilas, manik-manik, aksesoris dari kulit kerang, pecahan gerabah yang diperkirakan bekas penyimpanan tulang manusia yang meninggal, alat dari tulang. Dari sisa-sisa peninggalan tersebut, diperkirakan, ceruk (liang) itu pernah menjadi tempat hunian manusia antara masa mesolitic sampai dengan masa neolithic.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;      Penemuan di Liang Bangkai semakin memperkaya kajian tentang periode prasejarah dari beberapa penemuan-penemuan terdahulu, seperti di Gua Babi (Muara Uya) dan gua Mandala (Kab. Hulu Sungai Selatan)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-4740885134905920457?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/4740885134905920457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=4740885134905920457&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/4740885134905920457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/4740885134905920457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2008/05/liang-bangkai.html' title='LIANG BANGKAI'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SDxZVbGwJgI/AAAAAAAAADM/NAvcMJ_u-SQ/s72-c/PICT1306.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-3908171525374123331</id><published>2008-05-19T07:35:00.001-07:00</published><updated>2009-05-16T07:52:44.906-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebudayaan'/><title type='text'>TABIR DESA PANTAI ULIN KAB. HULU SUNGAI SELATAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SDGSR6-O8nI/AAAAAAAAAC8/uOmHJTSEN9s/s1600-h/PICT1491.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202099881175347826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SDGSR6-O8nI/AAAAAAAAAC8/uOmHJTSEN9s/s320/PICT1491.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Ceritera rakyat yang berkembang tentang Mesjid Lama, Balai Mas dan Batu Beranak yang terdapat di desa Pantai Ulin Kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalimantan Selatan, sudah banyak ditulis di beberapa situs internet. Tetapi yang menarik adalah, apakah peninggalan-peninggalan yang ada, seperti Mesjid Lama, Balai Mas dan Batu Beranak serta beberapa senjata tajam, pecahan piring keramik yang disimpan oleh beberapa penduduk setempat dapat memberikan penjelasan yang bernilai sejarah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika kami berkesempatan melakukan survey ke tempat tersebut, pada beberapa tempat kami menemukan banyaknya beterbaran pecahan-pecahan tembikar dan pecahan-pecahan keramik. Selain itu, menurut ceritera, beberapa penduduk sering menemukan batangan kayu ulin yang sudah tua yang terbenam di persawahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SDGTya-O8oI/AAAAAAAAADE/v07iEzKJz1E/s1600-h/PICT1480.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202101539032724098" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SDGTya-O8oI/AAAAAAAAADE/v07iEzKJz1E/s320/PICT1480.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berdasarkan pengamatan kami terhadap situasi lingkungan, persawahan yang sekarang merupakan rawa yang memiliki persambungan dengan rawa yang luas di mana mengalir sungai Nagara yang merupakan salah satu anak sungai Barito. Sebagaimana diketahui sungai Barito dan salah satu anak sungainya, yakni sungai Nagara mempunyai peranan besar dalam perjalanan sejarah urang Banjar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari apa yang kami  temukan dan kami amati menggelitik rasa keingintahuan lebih jauh tentang keberadaan Pantai Ulin pada masa lampau. Untuk itu kami berencana melakukan penggalian percobaan pada beberapa titik tertentu di tempat tersebut dan berharap kami bisa menemukan beberapa peninggalan berharga yang mempunyai nilai sejarah dimana selanjutnya dapat membuka tabir keberadaan Pantai Ulin pada masa lampau. Apalagi penyebutan kata "pantai" terhadap desa tersebut, sepertinya berhubungan dengan posisi geografis desa dimaksud pada masa lampau.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-3908171525374123331?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/3908171525374123331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=3908171525374123331&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/3908171525374123331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/3908171525374123331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2008/05/tabir-desa-pantai-ulin-kab-hulu-sungai.html' title='TABIR DESA PANTAI ULIN KAB. HULU SUNGAI SELATAN'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/SDGSR6-O8nI/AAAAAAAAAC8/uOmHJTSEN9s/s72-c/PICT1491.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-7254464776658760655</id><published>2008-05-19T07:35:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T07:53:21.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebudayaan'/><title type='text'>PENGGALIAN PERCOBAAN DI DESA PANTAI ULIN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;          Ceritera rakyat yang berkembang tentang Mesjid Lama, Balai Mas dan Batu Beranak yang terdapat di desa Pantai Ulin Kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalimantan Selatan, sudah banyak ditulis di beberapa situs internet. Tetapi yang menarik adalah, apakah peninggalan-peninggalan yang ada, seperti Mesjid Lama, Balai Mas dan Batu Beranak serta beberapa senjata tajam, pecahan piring keramik yang disimpan oleh beberapa penduduk setempat dapat memberikan penjelasan yang bernilai sejarah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika kami berkesempatan melakukan survey ke tempat tersebut, pada beberapa tempat kami menemukan banyaknya beterbaran pecahan-pecahan tembikar dan pecahan-pecahan keramik. Selain itu, menurut ceritera, beberapa penduduk sering menemukan batangan kayu ulin yang sudah tua yang terbenam di persawahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan pengamatan kami terhadap situasi lingkungan, persawahan yang sekarang merupakan rawa yang memiliki persambungan dengan rawa yang luas di mana mengalir sungai Nagara yang merupakan salah satu anak sungai Barito. Sebagaimana diketahui sungai Barito dan salah satu anak sungainya, yakni sungai Nagara mempunyai peranan besar dalam perjalanan sejarah urang Banjar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari apa kami yang temukan dan kami amati menggelitik rasa keingintahuan lebih jauh tentang keberadaan Pantai Ulin pada masa lampau. Untuk itu kami berencana melakukan penggalian percobaan pada beberapa titik tertentu di tempat tersebut dan berharap kami bisa menemukan beberapa peninggalan berharga yang mempunyai nilai sejarah dimana selanjutnya dapat membuka tabir keberadaan Pantai Ulin pada masa lampau. Apalagi penyebutan kata "pantai" terhadap desa tersebut, sepertinya berhubungan dengan posisi geografis desa dimaksud pada masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-7254464776658760655?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/7254464776658760655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=7254464776658760655&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/7254464776658760655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/7254464776658760655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2008/05/ceritera-rakyat-yang-berkembang-tentang.html' title='PENGGALIAN PERCOBAAN DI DESA PANTAI ULIN'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3651630267000498336.post-1041932551725673542</id><published>2008-03-17T02:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T07:53:58.975-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendapat'/><title type='text'>MEMELIHARA BUDAYA BANJAR YANG LUHUR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang ini, sudah tidak dapat dielakkan masuknya arus budaya termasuk gaya hidup yang sedikit demi sedikit tetapi pasti akan menggerus budaya dengan nilai-nilai yang luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat pendukungnya. Tidak terkecuali dengan budaya Banjar. Tidak sedikit generasi sekarang sudah tidak mengenal lagi dan malahan merasa asing dengan budaya Banjar yang menjadi panutan generasi pendahulunya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjadi kewajiban kita bersama &lt;em&gt;urang-urang Banjar&lt;/em&gt; agar budaya Banjar tidaklah sirna dari khazanah budaya Indonesia, termasuk dunia. Perlu kiranya kita memiliki semacam cagar budaya Banjar berbentuk sebuah perkampungan budaya Banjar. Suatu perkampungan dimana masyarakatnya hidup dengan tradisi dan tatanan budaya Banjar, begitu juga pola perkampungan, arsitektur, kesenian, pokoknya semua bernuansa budaya Banjar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya mengimbau kepada pemegang otoritas kekuasaan dan wakil-wakil rakyat di Kota Banjarmasin dapat merespon dan pada gilirannya merealisasikan yang pada awalnya hanyalah sebuah mimpi yang pada gilirannya mudah-mudah dapat menjadi sebuah kenyataan. Lewat dunia maya ini juga, saya mengajak para kula-kula bubuhan Banjar dimana pun pian-pian berada mari kita bergandengan tangan dan berpegangan erat untuk berpartisipasi demi terealisirnya perkampungan Banjar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Coba bayangkan, alangkah indah dan romantisnya apabila nantinya kita menyaksikan sebuah perkampungan memanjang di pinggir sungai, rumah-rumah Banjar berbagai tipe di sepanjang sungai tersebut, masyarakatnya menggunakan bahasa Banjar (ulun, pian, julak, angah, gulu, dsb), jajanan khas Banjar, gelar seni (musik, lagu, gamelan) yang pada masa sekarang ini sudah jarang kita saksikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana kula-kula sabarataan, rindukah pian-pian dengan bayangan tersebut ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3651630267000498336-1041932551725673542?l=tanganyangindah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/feeds/1041932551725673542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3651630267000498336&amp;postID=1041932551725673542&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/1041932551725673542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3651630267000498336/posts/default/1041932551725673542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tanganyangindah.blogspot.com/2008/03/memelihara-budaya-banjar-yang-luhur.html' title='MEMELIHARA BUDAYA BANJAR YANG LUHUR'/><author><name>Drs. Hairiyadi, M.Hum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13833222238579456893</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_nOtn4O9W-qI/TNSckwU2w2I/AAAAAAAAAMI/oTl6dqUiHus/S220/19967_1219539657817_1508696692_30522295_3375135_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
